Oleh: Abdul Syukur
Saya masih ingat pertama kali menyentuh kain batik koleksi Wayan Lessy ini—sebuah karya bertajuk Rangkiang (Lumbung Padi), hasil tangan halus seniman Wirda Hanim dari ranah Minang. Dua helai kainnya, selembar kain panjang berukuran 240 x 115 cm dan selembar selendang 220 x 57 cm, terasa seperti membawa pulang kembali sebuah memori masa kecil yang hangat, sekaligus kisah panjang sebuah tradisi yang nyaris tenggelam oleh waktu.
Bagi Wayan Lessy, ini bukan sekadar batik. Ia adalah wastra pertama dari Minangkabau yang memiliki ikatan personal begitu dalam. Keinginannya mencari batik khas Minang membawa dirinya pada cerita yang tak disangka: pertemuan dengan pembatik Batik Tanah Liek, seorang perempuan Minang bernama Wirda Hanim. Ketika datang ke Batang Sangkar pada 2018, ditemani ibu mertuanya, ia mendapati kenyataan bahwa sang pembatik ternyata masih kerabat—saudara satu rumah gadang. Sebuah takdir yang mempertemukan kembali keluarga dan tradisi leluhur dalam bentuk karya seni.
Di rumah produksi sederhana itu, Wirda bercerita tentang perjuangannya menghidupkan lagi Batik Tanah Liek, wastra tradisional yang dahulu dikenakan ninik-mamak, para datuk, dalam upacara adat. Seni ini hampir hilang dari ranah Minang karena minimnya minat generasi muda, sementara kain-kain tua yang tersisa semakin rapuh. Upaya mengangkat kembali tradisi ini selaras dengan filosofi Minangkabau: mambangkik batang tarandam—menghidupkan sesuatu yang telah lama terpendam.
Proses revitalisasi Wirda dimulai dari mengumpulkan kain lawas sebagai master product, belajar dari pola yang diwariskan, lalu melakukan reproduksi dengan teknik asli dan pewarnaan alami. Dalam setiap helai karya, ia menenun kembali sejarah, kesabaran, dan ketekunan.
Motif Rangkiang yang dipilih Wayan Lessy merekam lanskap kampung halaman: lumbung-lumbung padi yang berdiri gagah meski kalah tinggi dari pohon kelapa tua; atapnya yang melengkung menyerupai tanduk kerbau; angin yang membuat nyiur melambai; dan suara kecipak kolam berisi ikan nila serta ikan rayo. Karya ini menjadi jembatan emosional—mengingatkan pada rumah, masa lalu, dan orang-orang yang pernah menjaga tradisi.
Beberapa tahun berselang, ketika kembali ke Padang, Wayan melihat perubahan nyata. Warga Sumatra Barat mulai kembali memakai Batik Tanah Liek dalam bentuk baju, kain panjang, hingga selendang. Masyarakat mulai merasa dekat kembali dengan wastra mereka sendiri.

Upaya Wirda Hanim tidak sia-sia. Dari tangan seorang perempuan yang setia pada akar budayanya, Batik Tanah Liek menemukan jalannya untuk hidup kembali. Dan karya Rangkiang menjadi bukti bahwa ketika tradisi dirawat dengan cinta, ia akan kembali berdiri—setegak lumbung padi yang menjadi simbol kemakmuran Minangkabau.

