https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Ornamen Kaligrafi: Jejak Sunyi Batik Kudus yang Hidup Kembali

Batik Ornamen Kaligrafi karya Yuli Astuti menghidupkan kembali identitas Kudus lewat warna Sogan Kudusan dan inspirasi Menara Kudus.

Oleh: Abdul Syukur

Di tangan Yuli Astuti, seniman batik asal Kudus, sebuah lembar kain berukuran 260 x 115 cm bukan sekadar media, melainkan ruang sunyi tempat identitas kotanya kembali bernapas. Kudus, kota yang dahulu dikenal sebagai salah satu pusat batik penting di Jawa, kini berusaha menemukan dirinya kembali. Dan Yuli adalah salah satu nama yang berdiri di garis depan kebangkitan itu.

Batik Ornamen Kaligrafi karya Yuli Astuti menghidupkan kembali identitas Kudus lewat warna Sogan Kudusan dan inspirasi Menara Kudus.
Batik Ornamen Kaligrafi karya Yuli Astuti menghidupkan kembali identitas Kudus lewat warna Sogan Kudusan dan inspirasi Menara Kudus.

Latar pendidikan Yuli di bidang fashion dan batik membuatnya memiliki fondasi kuat untuk menapaki jalur yang dipilih: memberdayakan kembali batik khas Kudus melalui pelatihan, riset, dan produksi. Dalam setiap prosesnya, ia bukan hanya berkarya, tetapi membangun ekosistem yang dapat menghidupkan kembali pamor batik kota kelahirannya.

Pada pameran kali ini, Yuli menghadirkan karya bertajuk Ornamen Kaligrafi, sebuah batik tulis di atas katun yang memadukan kedalaman spiritual dan kehalusan estetika. Karya ini lahir dari identitas Kudus sebagai kota santri, tempat puluhan pesantren tumbuh dan menyemaikan ilmu agama. Dalam kehidupan masyarakatnya, ajaran itu tak hanya dijalankan tetapi membentuk falsafah hidup, termasuk konsep Gusjigang yang begitu melegenda: Cah Bagus, Pintar Ngaji, dan Pintar Dagang. Sebuah pedoman moral yang merekam perpaduan agama, budaya, dan kearifan sosial Kudus.

Inspirasi Yuli juga datang dari Masjid–Menara Kudus, bangunan tua yang menjadi simbol akulturasi Nusantara-Arab abad ke-16. Relief kaligrafi yang terpahat di sudut-sudutnya menjadi sumber bentuk bagi komposisi batiknya. Dari menara inilah ia memetik gagasan tentang harmoni, toleransi, dan kebijaksanaan Sunan Kudus, yang dengan bijak menyatukan berbagai kultur dalam satu masyarakat yang tenteram.

Sebagai generasi pembatik Kudus, Yuli setia pada ciri warna wilayahnya. Setelah kain diberi warna wedel-cemeng yang pekat, lapisan warna berikutnya disusun dengan sogan Kudusan, palet coklat monokrom yang bertumpuk halus. Teknik ini bukan hanya pewarnaan, tetapi bahasa visual yang menjadi identitas Minatani Kudus sejak masa lampau.

Secara komposisi, Ornamen Kaligrafi tersusun dari pola geometris yang ritmis. Kaligrafi-kaligrafi yang berulang menjadi pusat bentuk, dikelilingi taburan isen-isen, cecek, dan riningan yang memperkuat tekstur visual khas pesisir Jawa. Bagian pinggir kain dihiasi ornamen yang terinspirasi dari dinding Menara Kudus—liukan halus yang mengisyaratkan lafaz Allah, ditulis tanpa tulisan, dihadirkan tanpa suara, namun terasa begitu kuat.

Melalui karya ini, Yuli Astuti tidak hanya menghadirkan sebuah batik. Ia menghidupkan kembali sebuah jejak—jejak spiritual, jejak sejarah, dan jejak budaya—yang selama ini perlahan memudar. Dari Kudus yang sunyi, ia kembali menyuarakan identitasnya melalui bahasa batik yang memikat.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kisah batik Rangkiang karya Wirda Hanim yang menghidupkan kembali Batik Tanah Liek dan menjadi wastra penuh makna bagi kolektor Wayan Lessy.

Rangkiang: Wastra yang Menghidupkan Kembali Batang Tarandam

BCFM 2025 resmi dibuka di Pakuwon Mall Bekasi, menghadirkan dukungan kota dan peluang besar bagi desainer serta talenta kreatif Bekasi.

Kota Bekasi Mantapkan Langkah Menuju Pusat Mode Kreatif via BCFM 2025