https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

PUSPA NUSWANTARA: Jeda Kreatif, Proses Reflektif, dan Keberagaman Karya Batik Indonesia

Puspa Nusantara menampilkan keberagaman batik Indonesia melalui refleksi seni, makna, dan proses kreatif para pembatik lintas daerah.

Catatan Kuratorial Oleh: Abdul Syukur S.Sn., M.A.

Dalam seni batik Indonesia, dikenal istilah “waktu jeda”. Ketika seluruh proses fisik selesai—melukis titik demi titik, membatik berhari-hari, mengolah warna, hingga pelepasan malam—pembatik biasanya duduk diam menatap karyanya. Sambil menikmati minuman hangat atau sebatang tembakau, mereka membaca ulang setiap goresan, memahami pesan yang mengalir, dan mengumpulkan energi untuk karya berikutnya. Jeda ini bukan kemacetan, melainkan ruang refleksi yang menyegarkan kreativitas.

Pagelaran Puspa Nusantara sebenarnya lahir dari jeda semacam itu—sebuah kesadaran baru yang muncul dari rutinitas pagelaran batik yang selama ini berjalan monoton: berpameran dari gedung ke gedung, dari daerah ke daerah. Dalam ruang jeda, para pengurus APPBI merasa perlu menghadirkan pameran yang bukan hanya sekadar menampilkan batik, tetapi membangkitkan kembali nilai rasa, makna, dan kemanusiaan dalam seni batik Indonesia.

Pameran ini ditujukan sebagai ruang pembuka, khusus bagi pengurus APPBI, untuk membumikan kembali gagasan kreatif dan memperluas cakrawala seni batik. Sebanyak 16 pengurus APPBI menampilkan karya terbaik—baik sebagai pembatik maupun kolektor.

Beberapa karya yang hadir antara lain:

  • “Serumpun Bunga Lily Sejuta Makna” karya Komarudin Kudiya, menghadirkan simbol keteguhan dan kasih sayang.
  • “Gardenia” oleh Wirasno, melambangkan harapan dan cinta kasih orang tua dan anak.
  • “Merak Kasmaran” karya Putu Sulistiani, menampilkan jalan kebijaksanaan melalui sosok merak.
  • “Manuk Kinasih” dari Ahmat Failasuf, menggambarkan cinta yang tulus dan keindahan yang dijaga oleh hati.
  • “Gentongan Carcenah” oleh Siti Maimona, memvisualkan tumbuhan Pacar Cina dalam estetika Madura.

Syamsul Huda menampilkan “Mawar Kupu-Kupu”, dibalut prada dan warna alami yang merepresentasikan hubungan sosial yang harmonis. Dari jejak warisan keluarga, Mayasari Sekarlaranti (Nita Kenzo) menghadirkan “Sekar Jagat Kembang Kopi” dan “Kembang Kopi Latar Pitu”, sementara Sania Hasan melalui “Mozaic In Blue” menghadirkan penghormatan kepada sang ayah, Hasanudin—tokoh penting batik kontemporer.

Karya bertema spiritual ditampilkan Afif Syakur melalui “Pencerahan Sidharta Gautama”, sedangkan Drs. Sapuan menghadirkan “Galihpada”, gambaran keberagaman alam dan batin manusia dengan teknik halus yang memikat.

Identitas daerah juga tergambar kuat:

  • “Liris Seno Babarmas” karya Agus Purwanto Sukrowinarso, dengan kekhasan batik pesisiran Cirebon.
  • “Wahyu Tumurun” karya Eko Suprihono, merepresentasikan tradisi batik pedalaman.
  • “Latohan Tiga Negeri” dari Santoso Hartono, motif khas Lasem.
  • “Ornamen Kaligrafi” oleh Yuli Astuti, mencerminkan khasanah batik Kudus.
  • Dari tanah Melayu Deli, Waritri Mumpuni menampilkan “Keindahan Deli Serdang”.

Karya koleksi yang dibawa Wayan Lessy dari lawatannya ke Minangkabau memberi perspektif yang memperluas cakrawala tentang pentingnya merawat tradisi seni di Nusantara.

Pada akhirnya, Puspa Nusantara: Diversity Batik In Harmony menjadi ruang pemersatu—wadah untuk menumbuhkan kesadaran bahwa seni batik adalah identitas bangsa. Ia bukan hanya produk ekonomi, tetapi perwujudan tuntunan, tatanan, dan tontonan budaya Indonesia. Inilah ajakan untuk kembali merengkuh batik sebagai kesatuan rasa: bhatok, bathuk, batin semesta—sebuah kesatuan nilai yang harus dijaga bersama.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Abdul Syukur, pembatik muda, berjuang menjaga makna batik sebagai warisan budaya penuh filosofi di tengah arus pasar yang instan.

PUSPA NUSWANTARA: Keberagaman Batik Indonesia dan Upaya Menemukan Kembali Akar Seninya

Batik Batam: sejarah, motif khas (gonggong, Barelang), gerak UMKM, tantangan regenerasi perajin, dan peluang pariwisata kreatif lokal.

Batik Batam: Identitas Wastra Pulau Industri