https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Mulyana: Perajin Batik Subang Di Tanah Tak Terwarisi Batik

Mulyana, perintis Batik Ganasan Subang, membangun identitas batik daerah dari nol lewat dedikasi, riset, dan perjalanan panjang kreatifnya.

Ketika berbincang dengan Mulyana, pemilik Batik Ganasan Subang, ada satu hal yang langsung terasa: kegigihan seorang perajin yang membangun sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Perjalanan Mulyana bukan sekadar membentuk sebuah brand batik, tetapi perjalanan membangun identitas budaya daerah dari titik kosong.

Dari Mahasiswa Seni Rupa ke Perintis Batik Subang

Sebelum dikenal sebagai salah satu tokoh awal kebangkitan Batik Subang, Mulyana hanyalah mahasiswa Seni Rupa Un Pasunda Bandung yang tertarik pada dunia visual manual di tengah arus seni digital dan kontemporer. Ia tidak tumbuh di lingkungan pembatik, tidak pula dibesarkan oleh tradisi batik lokal. Ketertarikannya terhadap batik justru muncul dari pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia pada 2009.

โ€œWaktu itu ada rasa bangga,โ€ kenangnya. โ€œSebagai anak desain, saya merasa batik adalah sesuatu yang harus saya pahami dan kembangkan.โ€

Dari rasa bangga itu, ia mulai intens mengunjungi pameran di Bandungโ€”Garut, Tasik, Bogor semuanya punya batik. Tapi ada satu yang tidak ia temukan: Subang. Ketiadaan itu justru menjadi titik balik.

โ€œSaya cari, saya browsing, kok Subang nggak punya tradisi batik?โ€ ujarnya. Pertanyaan sederhana itu menjadi pemicu keinginan untuk menciptakan batik khas Subang.

Salah satu perajin batik di workshop Batik Ganasan Subang milik Mulyana
Salah satu perajin batik di workshop Batik Ganasan Subang milik Mulyana

Pelatihan, Dukungan, dan Lahirnya Gagasan Ganasan

Tahun 2010, melalui beasiswa Bank Mandiri bidang kewirausahaan, Mulyana mengangkat tema batik. Dari situlah ia bertemu Yayasan Batik Jawa Barat dan menjalani pelatihan intensif di Batik Komarโ€”salah satu pusat edukasi batik paling berpengaruh di Jawa Barat.

Di sana ia mendapat dukungan sekaligus penegasan: โ€œSubang belum punya perwakilan batik.โ€

Momentum tersebut membuatnya makin yakin. Pada 2010 ia mencetuskan nama Batik Ganasan, merujuk pada ikon agro Subang: Buah nanas atau Ganasan. Brand itu kemudian ia daftarkan secara hukum pada 2011โ€“2012.

Kompor lilin

Menembus Subang dari Luar Subang

Sebelum dikenal di kampung halamannya, Mulyana justru aktif mengikuti pameran dan kegiatan yang digelar Yayasan Batik Jawa Barat. Barulah setelah itu pemerintah Kabupaten Subang mulai memperkenalkan dirinya dan memberi ruang untuk pelatihan masyarakat.

Pada 2012, ia meraih Juara 2 Lomba Desain Batik Has Subangโ€”kompetisi yang waktu itu belum banyak menarik perhatian masyarakat. Namun kemenangan itu menjadi pijakan penting.

Sejak 2014, ia mulai melihat perubahan. Pemerintah daerah mulai membuka peluang pengadaan seragam batik lokal. Munculnya perda batik Subang tahun 2016โ€“2017 semakin menguatkan posisi para perajin lokal, termasuk dirinya. Motif-motif resmi seperti Nanas, Sisingaan, dan Bejana Perunggu mulai diperdakan, sehingga memberi panduan bagi perajin sekaligus memperkuat identitas visual Subang.

Pasar yang Stagnan dan Tantangan Regenerasi

Namun perjalanan batik Subang tidak selalu mulus. Mulyana menyebut kondisi pasar selama satu dekade terakhir cenderung stagnan. Beberapa brand batik yang dulu sempat berkembang kini tutup atau berhenti produksi.

Printing murah dari luar daerah juga menjadi pesaing berat, terutama di kalangan masyarakat umum. โ€œKalau warga biasa, ya mereka pilih printing karena jauh lebih murah,โ€ ungkapnya.

Namun Mulyana tetap bertahan karena pasar institusi dan kedinasan masih menjadi tulang punggung yang mendukung keberlanjutan perajin lokal. Baginya, stagnasi bukan akhirโ€”melainkan tanda bahwa Subang butuh dorongan lebih kuat, terutama dari sisi desain, promosi, dan komitmen pemerintah.

Perajin Sekaligus Pengusaha: Peran Ganda yang Tetap Ia Jaga

Berbeda dari beberapa pengusaha batik lain, Mulyana benar-benar terjun langsung dari awal hingga akhir:
dari desain, produksi, pewarnaan, hingga finishing.

Dedikasinya ini membuatnya sering dipercaya menjadi narasumber pelatihan, pendamping kelompok masyarakat, hingga representasi perajin dalam pameran-pameran resmi Pemda.

Baginya, membangun batik Subang bukan hanya soal bisnisโ€”tetapi tentang menjalankan misi kreatif yang ia mulai sejak masih menjadi mahasiswa.

Tentang Indikasi Geografis: Masih Panjang Jalan Subang

Perajin batik subang tengah mencanting di Workshop Batik Ganasan Subang.
Perajin batik subang tengah mencanting di Workshop Batik Ganasan Subang.

Meski Batik Ganasan telah menjadi brand kuat, Mulyana merasa Batik Subang belum siap menuju sertifikasi Indikasi Geografis (IG). Alasannya sederhana: IG mensyaratkan kekhasan teknik yang sangat spesifik.

โ€œKalau IG itu biasanya yang unik secara teknis, seperti complongan Indramayu atau Merawit Cirebon. Di Subang belum ada kekhasan teknis seperti itu.โ€

Namun ia tetap optimis. Ia percaya keunikan motif Ganasan dan kekayaan simbolik Subang tetap dapat menjadi kekuatan identitas yang berkembang seiring waktu.

Subang Belum Meledak, Tapi Tidak Pernah Padam

Mulyana menyimpulkan fenomena Batik Subang dalam kurun satu dekade terakhir sebagai perjalanan yang bertahap: naik perlahan, stagnan di beberapa fase, namun terus mendapat dorongan dari pemerintah.

Bagi sosok yang memulai semuanya dari rasa ingin tahu di pameran kampus, apa yang ia capai hari ini adalah bukti bahwa proses kreatif bisa tumbuh meski dimulai dari ruang yang kosong.

Batik Ganasan Subang bukan sekadar brandโ€”tetapi simbol perjuangan untuk menghadirkan identitas budaya yang tidak diwarisi, melainkan dibangun dari nol.


Artikel ini didukung oleh:

PT Arunika Jaya Persada

PT Arunika Jaya Persada adalah perusahaan layanan terpadu yang terus tumbuh dengan mengedepankan kualitas, profesionalisme, dan nilai kerja yang jujur serta kolaboratif. Perusahaan ini bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari telekomunikasiโ€”meliputi instalasi, commissioning, hingga maintenanceโ€”hingga konstruksi bangunan yang mencakup perencanaan, desain, implementasi, dan pemeliharaan.

Sebagai penyedia solusi teknologi, PT Arunika Jaya Persada menawarkan layanan IT end-to-end yang mencakup konektivitas (Internet, IP-VPN, VSAT-IP), pengembangan IoT (Smart School, Smart City, Smart Building, Smart Home), serta infrastruktur IT seperti data center, cloud, managed services, keamanan sistem, hingga pengembangan web dan aplikasi mobile.

Di sektor kesehatan, perusahaan ini juga menyediakan perangkat medis dan nonmedis untuk mendukung peningkatan layanan kesehatan modern. Dengan komitmen pada kerja cerdas, sikap positif, dan kerja tim solid, PT Arunika Jaya Persada hadir sebagai mitra terpercaya dalam menghadirkan solusi terintegrasi untuk kebutuhan telekomunikasi, teknologi, konstruksi, dan kesehatan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Batik Banyumas: Para Penjaga Nyala Api Batik Banyumas (Bagian 6 – Habis)

Baju brocade Kaisar China dan tahap-tahap pembuatannya.

Kemewahan, Ketelitian, dan Harga Sebuah Tradisi Agung Baju Brocade Kaisar China