https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Agus Purwanto: Kisah Cinta Batik Cirebon

Agus Purwanto, pendiri Batik Tiga Putri, jaga warisan batik Cirebon lewat batik tulis merawit penuh cerita, cinta, dan nilai budaya.

Agus Purwanto tak pernah menyangka hidupnya akan begitu dalam terikat dengan batik. Lulusan teknik sipil yang sempat berkarier di dunia konstruksi ini akhirnya justru menjadikan kain tradisional sebagai napas hidupnya. Bersama sang istri—almarhumah Connie—ia mendirikan Batik Tiga Putri, sebuah brand batik klasik Cirebon yang kini menjadi primadona para pecinta batik kelangenan.

Nama Tiga Putri bukan tanpa makna. Tiga adalah jumlah putri mereka, buah hati yang menjadi penyemangat usaha.

“Waktu anak ketiga lahir tahun 2003, kami mantap memakai nama Tiga Putri. Itu titik mulainya kami menekuni batik sebagai jalan hidup,” tutur Pak Agus.

Usaha yang awalnya hanya dijalankan sang istri secara kecil-kecilan di Jakarta, kemudian berkembang menjadi bisnis keluarga yang terus tumbuh dan dikenal kalangan kolektor.

Berasal dari Darah Biru Batik Cirebon

Meskipun Agus Purwanto bukan berasal dari keluarga pembatik, namun sang istri adalah pewaris darah batik dari keluarga besar Masina, salah satu keluarga pembatik tua di Desa Trusmi Kulon, Cirebon—daerah yang sejak dulu dikenal sebagai pusat batik khas Cirebon.

“Istri saya itu darah biru batik. Turunan pembatik. Keluarganya Masina, salah satu sesepuh batik di Trusmi.”

Cinta yang tak hanya menyatukan dua insan, tapi juga menyatukan dua dunia: teknik dan tradisi. Dalam rumah tangga mereka, batik menjadi bahasa cinta dan warisan nilai. Meski kini istri tercinta telah tiada, Pak Agus meneruskan warisan batik dengan penuh dedikasi.

Kualitas Adalah Napas Utama

Di bawah label Batik Tiga Putri, Agus fokus pada batik klasik Cirebon dengan teknik tulis halus merawit—teknik batik yang sangat detail, rapat, dan membutuhkan ketekunan tinggi. “Merawit itu tingkat kesulitannya paling tinggi. Lebih rumit dibandingkan batik Solo atau Jogja. Karena itu harganya memang pantas,” katanya.

Meskipun harga batik tulis merawit bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah, justru inilah pasar setia Batik Tiga Putri: pasar batik kelangenan, yaitu pelanggan yang membeli karena cinta, bukan karena tren. “Kebanyakan pelanggan kami itu kolektor. Mereka bukan hanya beli, tapi mengapresiasi. Batik jadi bagian dari hidup mereka.”

Tak Sekadar Menjual Kain, Tapi Menyampaikan Cerita

Salah satu kekuatan Batik Tiga Putri adalah narasi. Ia tak menjual kain seperti layaknya barang dagangan biasa. Ia menjual cerita, sejarah, nilai. Ia menjelaskan filosofi motif, asal-usul warna, bahkan sejarah batik Indo-Eropa atau Art Nouveau yang menjadi bagian dari koleksi langka Batik Tiga Putri.

“Saya selalu bilang, batik itu bukan hanya motif di atas kain. Ia punya ruh. Dan kalau pelanggan duduk lebih dari 10 menit di booth-nya saat pameran, saya langsung bercerita. Dari situ muncul keterikatan,” ujarnya.

Ariri dan Kolaborasi Keluarga

Dalam beberapa kesempatan, nama Ariri ikut disematkan dalam branding Batik Tiga Putri. Ternyata, Ariri adalah nama keluarga dari saudara Pak Agus di Cirebon yang sering berkolaborasi dengannya, terutama dalam penyediaan batik klasik dan penyelenggaraan pameran. “Kalau di Cirebon, namanya Ariri. Di Jakarta, tetap Tiga Putri. Kami saling support.”

Kolaborasi ini menegaskan bahwa batik bukan hanya produk, tapi jejaring budaya. Setiap helai batik dari tangan mereka membawa nilai rasa, nilai waktu, dan nilai sejarah.

Stabil di Tengah Gelombang Zaman

Meski dunia batik sempat stagnan, khususnya di segmen industri massal, batik kelangenan tetap stabil. “Krisis ekonomi, reformasi, bahkan pandemi, tetap ada pelanggan setia. Karena batik kelangenan itu bukan kebutuhan biasa. Itu kebutuhan hati.”

Kini Batik Tiga Putri terus menjaga kualitas dan kepercayaan. Harga kainnya bisa mulai dari Rp1 juta hingga Rp25 juta, tergantung kompleksitas dan kehalusan. Semua dijalankan dengan sistem yang menjunjung integritas, dari pewarnaan, tembokan, hingga penomoran barcode untuk memastikan orisinalitas.

Menjaga dengan Cinta, Mewariskan dengan Cerita

Agus Purwanto bukan hanya menjual batik. Ia menjaga nilai. Ia merawat tradisi. Ia mewariskan rasa. Baginya, batik bukan sekadar motif, melainkan peradaban yang perlu dihormati. Maka tak heran bila tagline yang selalu ia sematkan dalam setiap unggahan adalah: “Manjakan Mata, Tenteramkan Hati.”

Karena begitulah seharusnya batik hadir dalam hidup kita: indah dipandang, dalam di rasa.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko


Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Dudung Aliesyahbana mengungkapkan perihal tradisi dan inovasi batik untuk membuka ruang teknologi, dan menggugah kesadaran generasi baru.

Kaum Tradisionalis dan Modernis Batik: Ini Pendapat Dudung Aliesyahbana

Estelle Chrissely Wangsa bercerita F&B, batik, dan budaya jadi strategi bisnis penuh cerita kolaborasi lintas industri, dan pengalaman makan.

Estelle Chrissely Wangsa: F&B, Batik, dan Rasa Budaya