Di balik semangkuk Yong Tofu dan secangkir Mocha Kabana, ada kisah panjang yang merentang dari tahun 1996 hingga kini. Sebuah perjalanan korporasi kuliner yang diawali dari satu gerai di Kelapa Gading, kini berkembang menjadi enam brand yang berbeda namun terikat oleh satu semangat: melestarikan budaya dan menciptakan pengalaman makan yang lebih dari sekadar urusan lidah dan perut.

Estelle Chrissely Wangsa atau akrab disapa Estelle, Marketing and Sales Manager Marche Culinary Group menggagas ide-ide segar bersama Board of Director, menyusuri kembali benang merah korporasi ini.
“Kalau bicara merger, itu bermula dari saat mereka pertama kali membawa Yong Tofu ke Jakarta,” ujarnya membuka cerita.
Kala itu, masyarakat Indonesia belum terlalu akrab dengan cita rasa luar negeri. Menghadirkan Yong Tofu di Jakarta menjadi semacam lompatan budaya—dan ternyata, diterima hangat.
Kesuksesan itu menjadi pijakan bagi petualangan berikutnya: Eat and Eat, sebuah konsep food court di mal yang menyulap makanan kaki lima jadi bintang utama. Brand ini membentang dari Jakarta hingga Bandung dan Bogor, membawa jejak kuliner tradisional ke ruang-ruang modern. Lalu lahirlah Mocha Coffee Kabana, Kitchen Avenue, hingga Singapore Street Kitchen dan Gyujin.
Namun badai datang tak terelakkan—pandemi COVID-19 memaksa banyak outlet untuk tutup. Meski begitu, korporasi ini tak tenggelam. Ia bertransformasi. Konsep outlet diubah dari yang semula berada di mal, diarahkan ke kawasan perkantoran. Strategi baru lahir dari realitas baru: mobilitas berubah, titik kumpul pun berubah.

Ketika diberi kepercayaan memegang seluruh brand, ia tak hanya mengatur operasional tapi juga membangun koneksi lintas tim yang sebelumnya nyaris tak saling mengenal. “Dulu nggak ada grup WhatsApp antar marketing manager. Bahkan nggak pernah meeting mingguan. Sekarang? Kita duduk bareng, berantem kalau perlu, tapi setelah itu harus tetap saling support.”
Visinya tentang kepemimpinan sangat jelas: leader bukan sekadar bos yang didengar, tapi pendengar yang belajar. Ia mengutip tokoh yang menginspirasinya, Irwan Musri: “Kalau mau perusahaan maju, duduk bareng, dengarkan. Jangan selalu ‘karena gue pemimpin, ini harus jalan.’”
Dari semua brand yang ia kelola, salah satu yang mencuri perhatian adalah Mama Malaka. Di sinilah Estelle menyuntikkan sentuhan personal: mengangkat batik sebagai identitas visual dan budaya. Terinspirasi dari konsep batik peranakan, ia mencoba menyulap restoran menjadi ruang ekspresi budaya.
“Kenapa nggak sekalian kita kolaborasi sama pengrajin batik lokal? Kita bisa bikin galeri mini, mungkin workshop juga.”
Estelle melihat bahwa F&B bukan sekadar soal makanan. Ia adalah tentang cerita, tentang akar, tentang bagaimana menciptakan koneksi emosional antara tempat makan dengan pelanggannya. Ia menyebutkan bahwa restorannya harus bisa jadi ruang untuk storytelling—entah melalui desain, pengalaman, atau kolaborasi lintas industri, termasuk dengan pengrajin UMKM.
Gaya manajemennya pun tak lepas dari pengalaman masa lalu. Berawal sebagai front office hotel, lalu sempat merasakan dunia housekeeping, hospitality mengajarkannya banyak hal soal melayani dengan hati.
“Sekarang saat saya pegang manajemen, kalau lihat pelayanan yang kurang, rasanya geregetan. Karena saya tahu itu hal kecil yang bisa berdampak besar.”
Kini, dengan tim yang solid, strategi yang berani, dan hati yang terbuka, Estel tak hanya membangun bisnis—ia membangun keluarga kerja, budaya perusahaan, dan jejaring sosial antar industri. Ia percaya bahwa masa depan F&B adalah kolaborasi, bukan kompetisi. Dan dengan prinsip itulah ia terus melangkah: membawa rasa, cerita, dan warisan dalam setiap suapan.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

