Di tengah gelombang ketidakpastian pasca-COVID-19, PT Kastara Gantari Kawiswara yang bergerak di bidang engineering construction interior design and build tersebut justru menemukan momentumnya. Ida Bagus Wira, sang pendiri, mengenang masa-masa sulit saat pandemi melanda.
“Sepi job, konsumsi tiarap. Tapi Astungkara, kami masih kebagian proyek di Pekanbaru. Club house di Riau. Itu titik balik kami,” tuturnya.

Dari sana, perlahan tapi pasti, proyek demi proyek mulai datang. Tahun 2023 menjadi titik cerah.
“Beauty contest kami menangi satu per satu, termasuk proyek interior meeting room Hotel Aston,” tambahnya.
Namun, bukan hanya kelangsungan bisnis yang jadi sorotan. Dalam salah satu beauty contest berikutnya, untuk Auditorium Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Kastara Gantari Kawiswara membubuhkan identitas budaya yang kuat. Sang owner meminta desain panggung dengan unsur etnik. Kesempatan ini tak disia-siakan pria gemini kelahiran 1973 ini.
“Sebagai pecinta batik, saya langsung teringat Megamendung. Motif khas Cirebon yang bergelora seperti awan, cocok dengan konsep auditorium. Kami padukan dalam desain yang monumental—menggunakan akrilik tebal dan instalasi media besar. Ini mungkin salah satu karya batik berbasis interior terbesar di Indonesia,” jelasnya.
Tak hanya dinding dan backdrop panggung, bahkan kursi auditorium didesain khusus dengan ukuran dan potongan yang disesuaikan.
Dari Bali ke Karya Kreatif Konstruksi

Ida Bagus Wira dibesarkan dalam atmosfer keluarga yang menjunjung tinggi tradisi.
“Kehidupan kami hampir seperti orang Jawa. Selalu menghormati nilai budaya,” katanya.
Jiwa seninya tumbuh sejak kecil. Ia gemar menggambar, mengamati bentuk, hingga merancang rumah-rumah bernuansa tradisional Bali yang memadukan unsur candi dan filosofi lokal.
Lulus dari Desain Interior Universitas Udayana, ia sempat bekerja di BUMN konstruksi, menjelajahi ranah teknik dari lapangan hingga perencanaan.
“Konstruksi itu kaku, interior itu lentur. Saya belajar menyatukan dua dunia ini,” ujarnya.
Perjalanan profesional selama 13 tahun di proyek-proyek besar memperkuat visinya untuk mendirikan studio sendiri. Maka lahirlah PT Kastara Gantari Kawiswara pada 2019—nama yang berarti “yang termasyhur, menyinari, dan mulia.”
Desain Sebagai Jalan Hidup
Ida Bagus Wira tak hanya mendesain ruangan. Baginya, desain interior bukan sekadar seni, tetapi juga teknis.
“Art tanpa teknik itu hampa. Desain itu produk nyata, harus bisa dipasang, digunakan, dan bertahan,” ujarnya.

Itulah sebabnya karya-karyanya selain mengedepankan estetika, tapi juga karena ketepatan teknis dan kekuatan eksekusi. Seperti ketika dirinya menyematkan motif batik Jawa Barat Megamendung, menjadi salah satu ekspresi kepekaannya terhadap budaya lokal.
“Batik bukan sekadar ornamen. Ia punya karakter, arah, bahkan warna yang berbicara. Saya kombinasikan itu dengan material seperti akrilik dan teknik laser,” jelasnya.
Proyek auditorium Unjani menjadi simbol sinergi ini: arsitektur, teknologi, dan budaya menyatu dalam satu ruang.
Membangun dari Hati
Visi Wira tak berhenti pada estetika.
“Saya ingin menghidupi orang banyak,” katanya.
Kantornya dibangun sebagai rumah kreatif bersama—berisi arsitek, insinyur, desainer dari berbagai universitas di Indonesia. Ia percaya, keberhasilan harus tumbuh bersama.
Meski hingga kini usahanya masih berkembang lewat promosi dari mulut ke mulut, portofolionya telah berbicara. Auditorium dengan sentuhan Megamendung kini bukan hanya karya desain—ia telah menjadi simbol. Simbol ketekunan, cinta pada budaya, dan keberanian membangun kembali setelah badai pandemi.
Ida Bagus Wira menyadari, kekuatan terbesarnya bukan semata pada kemampuannya mendesain, tapi pada keberhasilannya menggabungkan dua dunia: konstruksi dan interior. Sebuah jalur yang jarang ditempuh karena membutuhkan pemahaman teknis yang mendalam dan kepekaan artistik yang tinggi.
“Struktur pun butuh seni,” ujarnya tenang.
Dalam setiap proyek, ia menyisipkan nilai-nilai estetika yang menyatu dengan kekuatan fisik bangunan.
Makna Seni Desain dan Filosofi Batik
Seni itu, bagi Wira, juga hadir dalam kain batik. Ia mengenal batik sejak kecil—dari nenek yang membawa kain Jogja, dari kebiasaan keluarga Bali yang mengenakan batik dalam upacara adat. Kecintaannya pada batik klasik dengan warna-warna teduh membentuk seleranya, baik dalam berpakaian maupun dalam merancang ruang.
“Batik klasik itu nyaman, nggak mencolok. Rasanya seperti pulang ke rumah,” katanya.

Bagi Wira, filosofi batik—yang menuntut kesabaran, proses berlapis, dan ketekunan—sangat selaras dengan jalannya di dunia desain.
“Kami memulai dari sketsa, lalu visualisasi 3D, baru bisa diterima. Sama seperti batik: tiap warna harus melalui proses, satu per satu, dengan sabar,” ungkapnya.
Dunia bisnis dan batik, dalam kacamata Wira, sama-sama mengajarkan bahwa hasil terbaik tidak datang secara instan.
Ia percaya batik tak akan pernah tenggelam. Inovasi terus berkembang, dan desainer muda membawa napas segar ke dalam pola-pola lama. Namun demikian, ia juga menyentil pentingnya promosi dan kebanggaan sebagai pengguna.
“Kalau kita bangga, ya kita pakai. Kita dukung,” ujarnya. Untuk para perajin yang tengah goyah semangatnya, Wira menyampaikan pesan sederhana namun bermakna: tetaplah setia pada proses.
Dalam hidup dan bisnis, ia memegang satu filosofi yang juga bersumber dari kearifan Jawa: alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan asal terlaksana. Karena dalam setiap langkah yang dijalani dengan tekun, ada nilai yang tak bisa ditukar dengan kecepatan. Dan dari situlah karya-karya besar lahir—baik dalam bentuk ruang, motif, maupun makna.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
