in

12 Motif Batik Lebak Ditetapkan sebagai Ikon Identitas Daerah

Batik Lebak memiliki 12 motif yang terinspirasi dari potensi alam, budaya, ekonomi rakyat, dan kehidupan masyarakat Kabupaten Lebak.
Batik Lebak memiliki 12 motif yang terinspirasi dari potensi alam, budaya, ekonomi rakyat, dan kehidupan masyarakat Kabupaten Lebak.

Pemerintah Kabupaten Lebak menetapkan 12 motif batik sebagai ikon identitas daerah. Motif-motif tersebut dirancang berdasarkan potensi ekonomi rakyat, sumber daya alam, profil daerah, serta budaya masyarakat adat yang berkembang di Kabupaten Lebak.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun identitas Batik Lebak yang memiliki karakter berbeda dari batik daerah lainnya. Penetapan 12 motif tersebut dilakukan pada 2015 dan secara resmi diluncurkan kepada masyarakat oleh Bupati Lebak pada 2 Desember 2015, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Lebak ke-187.

Ke-12 motif tersebut terdiri atas Angklung Buhun, Caruluk Saruntuy, Gula Sakojor, Kahirupan Baduy, Leuit Sijimat, Rangkasbitung, Sawarna, Kalimaya, Sadulur, Lebak Bertauhid, Seren Taun, dan Pare Sapocong.

Penelitian yang dilakukan Kurnia Trijaya Apriyani, Imam Setyobudi, dan Sriati Dwiatmini menyebutkan bahwa pembentukan motif tersebut tidak sekadar menghasilkan desain batik, tetapi juga membangun pertandaan mengenai identitas Kabupaten Lebak.

Dalam penelitian tersebut, motif batik dianalisis menggunakan perspektif semiotika Roland Barthes. Makna motif dilihat melalui dua tingkatan, yakni denotasi dan konotasi. Realitas sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan Kabupaten Lebak menjadi sumber inspirasi yang kemudian diwujudkan menjadi motif batik.

Empat tema besar menjadi dasar pengelompokan motif. Tema pertama adalah ekonomi rakyat, yang antara lain direpresentasikan melalui Caruluk Saruntuy, Gula Sakojor, dan Pare Sapocong.

Tema kedua adalah potensi sumber daya alam. Kalimaya dan Sawarna menjadi contoh motif yang mengambil inspirasi dari kekayaan alam dan destinasi wisata Kabupaten Lebak.

Tema ketiga adalah profil daerah. Motif Rangkasbitung dan Lebak Bertauhid merepresentasikan ibu kota Kabupaten Lebak serta moto daerah.

Tema keempat adalah budaya masyarakat adat. Angklung Buhun, Kahirupan Baduy, Leuit Sijimat, Sadulur, dan Seren Taun mengambil inspirasi dari kehidupan, tradisi, serta perangkat budaya masyarakat adat di Lebak.

Proses pembentukan motif melibatkan sejumlah pihak. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak melakukan identifikasi potensi daerah dengan melibatkan Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata, tokoh adat masyarakat Baduy, masyarakat Kasepuhan Lebak Selatan, serta budayawan.

Tim juga melakukan survei langsung ke lokasi bersama Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta untuk melihat kondisi potensi daerah yang akan dituangkan ke dalam motif.

Pada 25 Januari 2016, 12 motif tersebut memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual dari Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Banten kepada Bupati Lebak.

Penelitian menyimpulkan bahwa motif-motif tersebut berfungsi sebagai ikon identitas daerah karena menghubungkan karakter visual batik dengan realitas sosial dan budaya Kabupaten Lebak.

Sumber informasi: Kurnia Trijaya Apriyani, Imam Setyobudi, dan Sriati Dwiatmini, “Motif Batik sebagai Ikon dan Mitos Baru Identitas Kabupaten Lebak,” Jurnal Budaya Etnika, Vol. 5 No. 1, Juni 2021.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik sutra bisa diwarnai dengan Indigofera tinctoria. Warna biru dan ketahanan lunturnya baik terhadap pencucian dan sinar.

Batik Sutra: Indigofera tinctoria Berikan Warna Biru Alami Tahan Luntur

Kecamatan Kramat Jati dan Pokja PWI Jakarta Timur memperkuat sinergi untuk mendukung keterbukaan informasi dan publikasi program pemerintah.

Kecamatan Kramat Jati dan Pokja PWI Jakarta Timur Perkuat Kolaborasi Informasi Publik