https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Sultan Agung dan Revolusi Kalender Jawa yang Melahirkan Primbon

Kisah Sultan Agung membawa Mataram mencapai puncak kejayaan melalui ekspansi wilayah, budaya, dan politik Islam di Jawa.

Pada tahun 1633 Masehi, sebuah keputusan besar lahir dari Keraton Mataram. Keputusan itu tidak melibatkan peperangan, tidak pula ekspansi wilayah seperti yang biasa dilakukan para raja besar. Namun dampaknya jauh melampaui kemenangan militer. Keputusan tersebut mengubah cara masyarakat Jawa memandang waktu, menentukan hari, mencatat sejarah, hingga membaca nasib manusia.

Keputusan itu adalah lahirnya Kalender Jawa ciptaan Sultan Agung.

Bagi banyak orang, kalender hanyalah alat untuk mengetahui tanggal. Namun bagi masyarakat Jawa abad ke-17, kalender adalah fondasi kehidupan. Melalui kalender, orang menentukan musim tanam, menghitung hari pernikahan, menyelenggarakan upacara adat, memperingati peristiwa keagamaan, hingga memahami hubungan manusia dengan alam semesta.

Tidak berlebihan jika revolusi kalender yang dilakukan Sultan Agung kemudian menjadi salah satu tonggak penting yang melahirkan dan memperkuat tradisi primbon Jawa. Dari sinilah sistem perhitungan waktu yang digunakan dalam primbon berkembang dan diwariskan hingga berabad-abad kemudian.

Jawa dalam Persimpangan Peradaban

Untuk memahami kebijakan Sultan Agung, kita perlu melihat kondisi Jawa pada awal abad ke-17.

Saat itu Pulau Jawa bukan hanya wilayah geografis yang luas, tetapi juga ruang pertemuan berbagai tradisi budaya. Warisan Hindu-Buddha masih hidup dalam masyarakat pedalaman. Sementara itu, Islam berkembang pesat melalui jaringan pesantren, perdagangan, dan dakwah para ulama.

Dua kelompok masyarakat tumbuh dengan cara pandang yang berbeda.

Masyarakat pesantren menggunakan kalender Hijriah yang didasarkan pada peredaran bulan. Kalender ini penting untuk menentukan pelaksanaan ibadah Islam seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.

Sebaliknya, masyarakat kejawen masih menggunakan kalender Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Kalender ini berdasarkan peredaran matahari dan telah digunakan selama berabad-abad untuk mencatat berbagai peristiwa penting.

Perbedaan sistem waktu ini ternyata bukan sekadar persoalan teknis.

Dalam masyarakat tradisional, waktu berkaitan erat dengan identitas budaya. Ketika dua kelompok menggunakan sistem waktu berbeda, maka cara mereka mengatur kehidupan sehari-hari juga berbeda. Hal inilah yang perlahan menimbulkan persoalan sosial dan budaya yang cukup rumit.

Sultan Agung menyadari bahwa sebuah kerajaan besar membutuhkan kesatuan cara pandang agar stabilitas sosial dapat terjaga.

Raja yang Berpikir Melampaui Perang

Nama Sultan Agung sering dikenang sebagai penguasa Mataram yang berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga hampir seluruh Pulau Jawa. Namun kekuatan terbesar Sultan Agung sebenarnya bukan hanya terletak pada kemampuan militernya.

Ia juga seorang negarawan yang memahami pentingnya integrasi budaya.

Menurut penelitian Bay Aji Yusuf, Sultan Agung melihat bahwa masyarakat Jawa terdiri atas dua kekuatan besar. Di satu sisi terdapat masyarakat pesantren yang berkembang bersama budaya Islam. Di sisi lain terdapat masyarakat kejawen yang masih kuat memegang tradisi lama.

Apabila kedua kelompok ini terus berjalan dengan sistem masing-masing, maka potensi perpecahan akan selalu ada.

Karena itulah Sultan Agung memilih jalan yang berbeda. Ia tidak berusaha menghapus salah satu tradisi. Sebaliknya, ia mencari titik temu yang dapat diterima kedua belah pihak.

Langkah ini menunjukkan kecerdasan politik dan kebudayaan yang luar biasa.

Menciptakan Kalender Jawa

Puncak kebijakan tersebut terjadi pada tahun 1633 Masehi.

Sultan Agung memperkenalkan sistem penanggalan baru yang kemudian dikenal sebagai Kalender Jawa. Sistem ini merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriah.

Dalam kalender baru itu, Sultan Agung menggunakan prinsip perhitungan bulan sebagaimana kalender Hijriah Islam. Nama-nama bulan juga banyak mengadopsi istilah yang berasal dari tradisi Islam.

Namun pada saat yang sama, angka tahun Saka tetap dipertahankan. Tahun pertama kalender Jawa tetap dihitung dari tahun 78 Masehi, yaitu awal kalender Saka. Dengan demikian masyarakat Jawa tidak perlu mengubah seluruh catatan sejarah yang telah mereka miliki selama berabad-abad.

Kebijakan ini sangat cerdas.

Kaum santri dapat menerimanya karena sistemnya mengikuti kalender lunar seperti Hijriah. Masyarakat kejawen juga menerimanya karena identitas budaya mereka tetap terjaga melalui penggunaan angka tahun Saka.

Inilah salah satu contoh terbaik rekonsiliasi budaya dalam sejarah Nusantara.

Hari Pasaran yang Tetap Dipertahankan

Keunikan kalender Jawa tidak berhenti sampai di situ.

Sultan Agung juga mempertahankan sistem pasaran Jawa yang telah lama hidup di masyarakat. Hari-hari pasaran seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon tetap digunakan dan dipadukan dengan hari-hari dalam pekan Islam.

Maka lahirlah kombinasi hari yang masih dikenal hingga sekarang, seperti:

  • Senin Legi
  • Selasa Kliwon
  • Rabu Pon
  • Kamis Wage
  • Jumat Pahing

Kombinasi inilah yang kemudian menjadi dasar berbagai perhitungan dalam tradisi primbon.

Melalui sistem tersebut, masyarakat Jawa memiliki cara yang sangat rinci untuk menentukan waktu. Bukan hanya hari dan tanggal, tetapi juga pasaran, wuku, bulan, tahun, hingga siklus windu.

Semua unsur itu kelak menjadi bagian penting dalam sistem petungan Jawa.

Fondasi Lahirnya Primbon

Kalender Jawa ciptaan Sultan Agung tidak hanya berfungsi sebagai alat administrasi kerajaan. Ia juga menjadi fondasi utama bagi berkembangnya berbagai naskah primbon.

Penelitian menunjukkan bahwa primbon yang dikenal sekarang berkembang pada masa Mataram Islam, setelah kalender Jawa digunakan secara luas oleh masyarakat.

Hal ini sangat masuk akal.

Sebagian besar isi primbon berkaitan dengan perhitungan waktu. Untuk menentukan hari baik, membaca kecocokan jodoh, memilih waktu pernikahan, atau menafsirkan gejala alam, diperlukan sistem waktu yang seragam dan diterima seluruh masyarakat.

Kalender Jawa menyediakan kerangka tersebut.

Melalui kalender ini, berbagai unsur budaya Jawa, Islam, dan warisan masa lalu dapat dipadukan dalam satu sistem perhitungan yang utuh.

Tidak mengherankan jika banyak ahli menyebut kalender Jawa sebagai salah satu karya budaya terbesar Sultan Agung.

Warisan yang Bertahan Empat Abad

Lebih dari tiga abad setelah Sultan Agung wafat, kalender Jawa masih digunakan hingga sekarang.

Di berbagai daerah Jawa, masyarakat masih mengenal pasaran, weton, wuku, dan siklus windu. Banyak keluarga masih menghitung hari baik sebelum melaksanakan pernikahan atau membangun rumah.

Bahkan dalam era digital, berbagai aplikasi dan situs web kini menyediakan kalkulasi weton yang bersumber dari sistem kalender yang dirumuskan Sultan Agung.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gagasan Sultan Agung bukan sekadar kebijakan sesaat. Ia berhasil menciptakan sistem budaya yang mampu bertahan lintas generasi.

Di balik angka-angka kalender itu tersimpan sebuah pelajaran penting. Sultan Agung menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus diselesaikan dengan pertentangan. Kadang-kadang, solusi terbaik lahir melalui kemampuan memahami kedua belah pihak dan menemukan jalan tengah yang menghormati semuanya.

Kalender Jawa adalah bukti nyata dari kebijaksanaan tersebut.

Dari perpaduan antara Saka dan Hijriah, lahirlah sebuah sistem waktu yang unik. Dari sistem waktu itu berkembang tradisi primbon yang menjadi bagian penting identitas budaya Jawa. Dan dari seluruh proses itu, nama Sultan Agung dikenang bukan hanya sebagai penakluk wilayah, tetapi juga sebagai arsitek kebudayaan yang berhasil menyatukan berbagai tradisi dalam satu harmoni yang bertahan hingga hari ini.

Sumber: Bay Aji Yusuf, Konsep Ruang dan Waktu dalam Primbon serta Aplikasinya pada Masyarakat Jawa, Program Studi Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kementerian UMKM mendorong penggunaan batik khas Kalimantan Timur guna memperluas pasar dan memperkuat ekonomi kreatif daerah.

Kementerian UMKM Dorong Penggunaan Batik Kaltim untuk Perluas Pasar Produk Lokal

Wajah persegi atau square face shape dipercaya mencerminkan pribadi tegas, mandiri, kompetitif, dan berjiwa pemimpin.

Karakter Wajah Persegi (Square Face Shape): Teguh, Kompetitif, dan Terlahir sebagai Pemimpin