https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Sania Sari: Puspa Nuswantara Jadi Harapan Baru Perajin Batik Asli

Sania Dewi menilai Puspa Nuswantara menjadi ruang penting untuk menjaga batik asli dan mempertemukan perajin dengan konsumen.

Bagi banyak pecinta batik di Bandung, nama Hasan Batik bukanlah nama yang asing. Rumah batik yang dirintis almarhum Drs Hasanudin sejak dekade 1980-an itu telah melewati berbagai fase perkembangan industri batik Indonesia, mulai dari masa kejayaan pasar ekspor Jepang, krisis ekonomi 1998, hingga era digital yang mengubah pola konsumsi masyarakat.

Kini tongkat estafet usaha keluarga tersebut berada di tangan generasi kedua, salah satunya Sania Sari, putri Hasanudin yang aktif mengelola usaha sekaligus menjadi pengurus Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).

Sania Dewi menilai Puspa Nuswantara menjadi ruang penting untuk menjaga batik asli dan mempertemukan perajin dengan konsumen.
Sania Dewi menilai Puspa Nuswantara menjadi ruang penting untuk menjaga batik asli dan mempertemukan perajin dengan konsumen.

Namun ketika berbicara tentang dunia batik saat ini, perhatian Sania tidak hanya tertuju pada perkembangan Hasan Batik. Ada satu hal yang menurutnya jauh lebih penting, yaitu bagaimana menjaga keberlangsungan batik asli di tengah semakin kaburnya batas antara batik tulis, batik cap, dan produk printing yang beredar di pasaran.

Karena itulah ia menaruh harapan besar pada Pameran Puspa Nuswantara, sebuah agenda yang digagas APPBI untuk menghadirkan pameran batik dengan standar keaslian yang jelas.

Ketika Konsumen Sulit Membedakan Batik Asli

Sania mengakui bahwa perkembangan teknologi produksi tekstil membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana batik asli dan mana produk yang hanya menyerupai batik.

Di berbagai pameran dan pusat perbelanjaan, produk printing sering kali dipasarkan berdampingan dengan batik tulis maupun batik cap. Bahkan ada produk yang memadukan teknik printing dengan sentuhan batik sehingga tampak seperti batik tulis.

Kondisi tersebut membuat konsumen awam sering kali kebingungan.

Menurutnya, persoalan ini tidak semata-mata soal harga, tetapi juga soal transparansi dan kejujuran kepada pembeli. Konsumen berhak mengetahui proses yang sebenarnya digunakan dalam pembuatan sebuah produk.

“Kalau prosesnya printing, katakan printing. Kalau cap, katakan cap. Kalau tulis, katakan tulis. Yang penting jujur,” menjadi semangat yang terus ia gaungkan dalam berbagai kesempatan.

Puspa Nuswantara dan Misi Edukasi Batik

Di tengah situasi itulah Pameran Puspa Nuswantara hadir dengan konsep yang menurut Sania sangat relevan.

Ia melihat pameran ini bukan sekadar tempat berjualan, melainkan sarana edukasi untuk masyarakat.

APPBI mengusung slogan:

“Asli batiknya, asli perajinnya, asli harganya.”

Slogan tersebut menjadi fondasi utama penyelenggaraan pameran. Artinya, setiap peserta yang hadir harus memenuhi komitmen untuk menjual batik asli serta memberikan informasi yang jujur kepada konsumen.

Menurut Sania, langkah tersebut sangat penting karena saat ini banyak masyarakat yang ingin membeli batik berkualitas, tetapi tidak memiliki cukup pengetahuan untuk membedakan produk yang mereka lihat.

Dengan adanya kurasi dan komitmen dari para peserta, pengunjung memperoleh kepastian bahwa produk yang dibeli memiliki proses dan nilai yang sesuai dengan penjelasan yang diberikan.

Ruang Bertemunya Perajin dan Konsumen

Bagi Sania, kekuatan terbesar Puspa Nuswantara justru terletak pada pertemuan langsung antara perajin dan pembeli.

Selama ini banyak konsumen hanya mengenal batik sebagai produk akhir. Mereka tidak mengetahui proses panjang di balik selembar kain, mulai dari pembuatan motif, pencantingan, pewarnaan, hingga penyelesaian akhir.

Melalui pameran ini, masyarakat memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada para pembatik dan pengusaha batik yang menghasilkan karya tersebut.

Interaksi seperti ini dinilai sangat penting untuk membangun apresiasi terhadap batik sebagai warisan budaya sekaligus karya seni.

“Kalau bukan kita yang memperkenalkan dan menjaga batik asli, siapa lagi?” ujar Sania.

Harapan untuk Masa Depan Batik Indonesia

Sebagai generasi kedua pelaku usaha batik, Sania mengaku banyak belajar tentang makna kesabaran dan ketekunan dari dunia batik. Pengalamannya bertemu para perajin dari berbagai daerah melalui APPBI semakin memperkuat keyakinannya bahwa batik Indonesia memiliki masa depan yang cerah.

Namun masa depan itu hanya bisa terjaga apabila masyarakat, perajin, dan pelaku usaha memiliki komitmen yang sama untuk menghargai keaslian.

Karena itu, ia berharap Puspa Nuswantara tidak hanya sukses sebagai pameran, tetapi juga menjadi gerakan bersama untuk mengedukasi publik tentang pentingnya mengenali, menghargai, dan membeli batik asli.

Bagi Sania Dewi dan Hasan Batik, keberhasilan Puspa Nuswantara bukan sekadar soal jumlah transaksi. Lebih dari itu, pameran ini adalah upaya menjaga marwah batik Indonesia agar tetap dihargai sesuai proses, karya, dan para perajin yang menciptakannya.

Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8–12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.
Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8–12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Pelajari prinsip sanggit Batik Lasem agar desain sarung lebih indah, simetris, nyaman dikenakan, dan tetap menjaga tradisi budaya.

Sanggit Batik Lasem: Mendesain Sarung Batik yang Indah, Simetris, dan Bernilai Budaya