https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Puspa Nuswantara, Ikhtiar APPBI Menjaga Nyala Batik Asli Indonesia

APPBI melalui Pameran Puspa Nuswantara mendorong regenerasi pembatik, edukasi budaya, dan pelestarian batik Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri batik nasional, mulai dari berkurangnya jumlah pembatik hingga minimnya regenerasi, hadir sebuah inisiatif yang membawa harapan baru bagi para perajin. Melalui penyelenggaraan Pameran Puspa Nuswantara, Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) berupaya menghadirkan ruang bersama bagi para pelaku batik dari seluruh Nusantara untuk berkarya, berjejaring, dan memperkenalkan batik kepada generasi masa depan.

APPBI melalui Pameran Puspa Nuswantara mendorong regenerasi pembatik, edukasi budaya, dan pelestarian batik Indonesia.
APPBI melalui Pameran Puspa Nuswantara mendorong regenerasi pembatik, edukasi budaya, dan pelestarian batik Indonesia.

Bagi Mayasari Sekarlaranti atau akrab disapa Nita Kenzo, pendiri Galeri Batik Jawa sekaligus salah satu penggerak dalam APPBI, pameran ini bukan sekadar ajang jual beli produk batik. Lebih dari itu, Puspa Nuswantara merupakan upaya nyata untuk menghidupkan kembali semangat para pembatik yang selama ini bekerja di balik layar menjaga warisan budaya bangsa.

Menurut Nita, keberadaan APPBI lahir dari kesadaran bahwa para pembatik membutuhkan ruang yang benar-benar berpihak kepada mereka. Di tengah maraknya produk tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal, para pembatik tulis menghadapi tantangan yang tidak ringan. Mereka harus mempertahankan kualitas karya sekaligus memastikan keberlanjutan profesi yang diwariskan turun-temurun.

“Keberadaan para pembatik ini harus diberikan semangat untuk bisa melanjutkan ke generasi yang akan datang,” ujarnya.

Semangat itulah yang menjadi dasar penyelenggaraan Puspa Nuswantara. Pameran yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) ini dirancang sebagai tempat berkumpulnya para perajin dan pengusaha batik dari berbagai daerah. Tidak hanya dari sentra-sentra batik yang sudah dikenal luas seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan Cirebon, tetapi juga dari berbagai wilayah lain yang memiliki tradisi membatik.

Namun mengumpulkan para pelaku batik dari seluruh Indonesia bukan pekerjaan mudah. Karena itu APPBI membuka ruang kolaborasi dengan pelaku wastra tradisional dan kerajinan autentik lainnya agar pameran menjadi lebih hidup dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

“Harapannya semakin ke depan kita bisa memberikan kesempatan yang lain untuk bisa bergabung,” kata Nita.

Meski demikian, tujuan utama pameran tetap tidak berubah, yakni memperlihatkan wajah asli batik Indonesia. Bukan hanya hasil akhirnya berupa kain yang indah, tetapi juga proses panjang yang melibatkan keterampilan, kesabaran, dan gotong royong para pembatik.

Bagi Nita, salah satu persoalan terbesar yang dihadapi dunia batik saat ini adalah regenerasi. Banyak pembatik senior yang masih aktif berkarya, tetapi jumlah generasi muda yang tertarik menekuni profesi tersebut belum cukup untuk menjamin keberlanjutan tradisi batik di masa depan.

Karena itu, Puspa Nuswantara juga dirancang sebagai ruang edukasi budaya. APPBI berharap anak-anak muda tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga mengikuti diskusi, talkshow, dan berbagai kegiatan yang memperkenalkan nilai-nilai di balik batik.

“Kita harapkan yang muda-muda bisa datang juga ke JCC ini, mungkin tidak untuk membeli batiknya, tetapi untuk mengapresiasi dari sisi konten budayanya,” ujar Nita.

Menurutnya, langkah pertama untuk melestarikan batik adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya itu sendiri. Setelah mengenal dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya, generasi muda akan lebih mudah melihat batik sebagai bagian dari identitas bangsa yang perlu dijaga.

Pengalaman Nita membawa batik indigo ke berbagai negara semakin memperkuat keyakinannya bahwa batik Indonesia memiliki posisi istimewa di mata dunia. Ia menjelaskan bahwa banyak negara mengenal teknik pewarnaan indigo, tetapi hanya sedikit yang memiliki kekayaan filosofi seperti yang terdapat pada batik Indonesia.

“Value-nya sangat tinggi karena ada filosofinya, ada motif-motif yang turun-temurun, dan ketika dikembangkan pun tidak tercabut dari akar budayanya,” tuturnya.

Kekuatan inilah yang menurutnya harus terus diperkenalkan kepada generasi muda. Menariknya, Nita tidak melihat perkembangan teknologi sebagai ancaman. Sebaliknya, ia menilai teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi jembatan yang mendekatkan batik kepada Generasi Z.

Dalam pandangannya, anak muda dapat memanfaatkan AI untuk menciptakan desain-desain baru yang relevan dengan zamannya. Namun desain tersebut harus tetap diwujudkan melalui tangan-tangan para pembatik sehingga ekosistem batik tetap hidup.

“Mendesain batik jangan diselesaikan dengan print. Mendesain batik harus diselesaikan dengan para perajin batik,” tegasnya.

Ia membayangkan APPBI dapat menjadi penghubung antara generasi muda yang memiliki kreativitas digital dengan para pembatik yang memiliki keterampilan tradisional. Kolaborasi semacam itu diyakini mampu menciptakan model regenerasi yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Puspa Nuswantara bukan hanya tentang pameran. Bagi APPBI, kegiatan ini merupakan gerakan bersama untuk memastikan batik tetap hidup di tengah masyarakat. Bukan sekadar menjadi koleksi museum atau simbol masa lalu, tetapi tetap hadir sebagai budaya yang berkembang, memberi penghidupan bagi para perajinnya, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan semangat itulah APPBI mengajak masyarakat untuk tidak hanya memakai batik, tetapi juga memahami cerita, proses, dan nilai kemanusiaan yang ada di balik setiap goresan canting. Sebab di balik selembar kain batik, tersimpan harapan agar warisan budaya Indonesia terus menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8–12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.
Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8–12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Millway menggelar Tempo Doeloe Fun Run di Jakarta pada 27 Juni 2026, memadukan olahraga, budaya, dan nostalgia HUT DKI Jakarta.

Bidakara Hotel Jakarta Gelar Tempo Doeloe Fun Run, Ajak Warga Rayakan HUT Jakarta dengan Nuansa Nostalgia

Motif Batik Mega Mendung menginspirasi transformasi denim bekas menjadi fashion berkelanjutan bernilai estetika dan ekonomi tinggi.

Motif Batik Mega Mendung dan Revolusi Fashion Berkelanjutan: Denim Bekas Menjadi Karya Bernilai Tinggi