Penyelenggaraan Puspa Nuswantara 2026 dinilai menjadi salah satu momentum penting bagi kebangkitan industri batik Indonesia. Tidak hanya sebagai ajang pameran, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem batik nasional.
Bagi Samsul Huda, Bendahara ASEPHI Periode 2024–2029 sekaligus pengurus APPBI, kehadiran Puspa Nuswantara memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar agenda pameran tahunan.
“Sudah cukup lama tidak ada pameran besar yang secara khusus mengangkat batik sebagai tema utama. Karena itu Puspa Nuswantara menjadi momentum yang sangat strategis,” ujarnya.
Menurut Samsul, batik tidak dapat berkembang jika hanya mengandalkan satu kelompok pelaku saja. Industri ini membutuhkan kolaborasi antara pembatik, pengusaha, komunitas, akademisi, pemerintah, hingga masyarakat sebagai pengguna.
Ia melihat APPBI memiliki peran penting dalam mempertemukan berbagai kepentingan tersebut. Organisasi ini menghimpun pelaku batik dengan latar belakang yang beragam, mulai dari perajin tradisional hingga pengusaha yang mengelola usaha dalam skala besar.
“Kita tidak boleh memandang rendah pelaku batik tulis yang mempekerjakan sedikit orang. Di sisi lain, kita juga tidak boleh meremehkan pengusaha yang mempekerjakan ratusan tenaga kerja. Semuanya punya peran penting,” katanya.
Menurut Samsul, perbedaan pandangan yang kerap muncul di dunia batik seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan. Justru keberagaman perspektif tersebut perlu dipandang sebagai kekuatan.
“Ada yang fokus pada pelestarian budaya, ada yang fokus pada edukasi, ada yang fokus pada penguatan ekonomi. Semuanya penting dan tidak boleh dipertentangkan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Puspa Nuswantara menjadi ruang yang dapat mempertemukan seluruh kepentingan tersebut dalam satu wadah. Dari sisi budaya, pameran ini menjadi sarana apresiasi terhadap batik sebagai identitas bangsa. Dari sisi ekonomi, kegiatan ini membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para pembatik.
Samsul juga menekankan pentingnya regenerasi dalam industri batik. Menurutnya, masa depan batik akan sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.
“Saya berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna batik, tetapi juga menjadi penerus industri batik,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa pelestarian batik tidak cukup hanya dengan mengenakannya pada momen tertentu. Generasi muda perlu didorong untuk terlibat dalam proses produksi, inovasi, pemasaran, hingga pengembangan usaha.
Karena itu, ia berharap pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan pelaku industri dapat bersama-sama membangun ekosistem yang mendukung lahirnya generasi baru pelaku batik Indonesia.
“Batik tidak akan lestari hanya dengan slogan. Batik akan tetap hidup jika terus dipakai, dihargai, dikembangkan, dan didukung oleh seluruh masyarakat Indonesia,” pungkas Samsul Huda.
