https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Mengenal Paduan Tiruan Batik Tulis (PTBT)

APPBI akan menggelar pameran batik Puspa Nuswantara pada 8–12 Juli 2026 dengan 180 stan, memperkuat promosi batik dan pelaku usaha.

“Jangan asal bilang batik. Tanya dulu: ini batik tulis, cap, kombinasi, atau cuma motif bercorak batik?”
Kalimat tajam itu terlontar dari Komarudin Kudiya dalam sebuah diskusi hangat tentang fenomena membanjirnya batik tiruan di pasar Indonesia. Dalam nada tegas namun tetap edukatif, perajin dan pengusaha batik, budayawan dan praktisi batik asal Cirebon dan kini mukim di Bandung itu mengajak publik untuk lebih kritis dan bijak dalam memahami apa itu batik.

Komarudin Kudiya ungkap pentingnya jujur soal batik tulis vs tiruan batik. Edukasi publik jadi kunci jaga marwah batik Indonesia.
Komarudin Kudiya ungkap pentingnya jujur soal batik tulis vs tiruan batik. Edukasi publik jadi kunci jaga marwah batik Indonesia.

Antara Keaslian dan Tiruan

Menurut Komar, batik asli hanya terdiri dari tiga teknik utama: batik tulis, batik cap, dan kombinasi batik tulis dan cap. Ciri utamanya adalah penggunaan lilin panas sebagai perintang warna, sebagaimana juga ditegaskan dalam dokumen UNESCO tentang warisan budaya tak benda. Di luar itu, semua produk yang hanya bermotif batik tapi tanpa proses pelorodan dan perintangan lilin panas harus disebut sebagai tiruan batik, atau tekstil bermotif batik.

Namun dalam praktiknya, pembauran teknik makin marak. Banyak produsen memadukan teknik printing, sablon pigmen, hingga digital print dengan sedikit proses batik tulis atau cap di tahap akhir. Inilah yang oleh Komar disebut sebagai “Paduan Tiruan Batik Tulis”—disingkat PTBT—sebuah kategori produk yang semakin membingungkan pasar.

“Kain itu di-print dulu, pakai lilin dingin, sablon, lalu ditambah tulis atau cap sedikit. Begitu dilorot, baunya batik. Orang awam bakal tertipu,” jelas Komar.

PTBT: Inovasi atau Ilusi?

Komar tidak serta-merta menolak inovasi. Baginya, penggunaan teknik campuran sah-sah saja selama tidak mengklaim hasil akhirnya sebagai batik tulis. “Silakan berinovasi, mau airbrush, printing, sablon, bebas. Tapi jujurlah, ini bukan batik tulis, ini paduan tiruan,” tegasnya.

Ia pun memperlihatkan berbagai contoh kain yang tampak seperti batik tulis klasik, padahal merupakan hasil kombinasi printing sablon, cabut warna, hingga pelorotan terakhir. “Kalau mau jual PTBT, ya sebut PTBT. Jangan batik tulis. Itu bentuk perlindungan terhadap konsumen,” ujarnya.

Menurutnya, dari sisi biaya produksi, PTBT bisa menghemat 60–70% dibanding batik tulis murni. Tapi keuntungan ekonomi itu tak boleh mengorbankan kejujuran. Komar bahkan mencontohkan kasus label premium yang ternyata hanya sablonan, atau produk mahal yang diklaim tulis, padahal tiruan.

Komarudin Kudiya ungkap pentingnya jujur soal batik tulis vs tiruan batik. Edukasi publik jadi kunci jaga marwah batik Indonesia.

Sertifikasi dan Edukasi: Tanggung Jawab Bersama

Komar menyoroti pentingnya standarisasi dan sertifikasi, seperti Batik Mark Indonesia (BMI) yang telah mengatur kode label sesuai jenis batik:

  • Label putih-hitam: Batik cap
  • Label emas-hitam: Batik tulis
  • Label perak-hitam: Kombinasi cap dan tulis

Namun, proses sertifikasi yang membutuhkan biaya dan administrasi membuat banyak pelaku UMKM enggan mengurusnya. Padahal, kata Komar, manfaatnya besar: “Satu, jujur soal kualitas. Dua, mengedukasi pembeli. Tiga, menunjukkan kita pedagang yang taat aturan. Empat, perlindungan konsumen.”

PTBT dan Dunia Batik Masa Kini

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan PTBT menurut Komar? Berikut penjelasannya:

Paduan Tiruan Batik Tulis adalah produk yang melalui tahapan printing (sablon, pigment, dll) lalu diberi sentuhan batik (cap/tulis) agar baunya dan kesannya seperti batik. Tapi itu tetap bukan batik tulis murni.”

Ia menegaskan bahwa istilah tiruan batik sudah muncul sejak dulu, tapi baru dalam bukunya yang terbit tahun 2018 konsep PTBT dipaparkan secara eksplisit. Buku itu kini bahkan jadi rujukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan asesor batik di seluruh Indonesia.

Menurutnya, pembedaan ini penting agar masyarakat tidak tersesat dalam kabut pemasaran. Terlebih di era saat ini, banyak produk look like batik yang secara visual menggoda, tetapi sejatinya hanya tekstil bermotif batik. Komar bahkan menyarankan agar para pedagang tidak menulis “batik printing”, karena secara hukum dan logika budaya, itu kontradiktif.

“Kalau 100% printing, ya tulis: tekstil bercorak batik. Jangan disebut batik. Itu misleading.”

Epilog: Jujur Itu Elegan

Di akhir sesi, Komar menegaskan bahwa kejujuran dalam menjual batik bukan hanya soal etika dagang, tapi juga soal menjaga marwah budaya. Kita boleh inovatif, boleh kreatif, bahkan boleh campur aduk teknik produksi. Tapi satu yang tidak boleh: mengaburkan batas antara batik dan bukan batik.

“Saya tidak cukup hanya ngomong. Saya buktikan dengan buku, dengan gambar, dengan contoh. Jangan tertipu istilah, pahami prosesnya.”

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Dheni Nugroho, lulusan pendidikan matematika, membangun brand Guru Batik dengan motif ilmu pengetahuan dan filosofi yang menginspirasi.

Dheni Nugroho: Guru Batik dan Motif Ilmu Pengetahuan

Lokakarya di Karangkamulyan bahas pelestarian budaya Parahyangan Timur lewat yoga, desa kerajinan, dan wisata kesehatan berbasis budaya.

Melestarikan Warisan Budaya Parahyangan Timur: Lokakarya di Karangkamulyan