Ciamis, Jawa Barat – Semangat pelestarian budaya kembali digaungkan dalam lokakarya bertema “Keberagaman Budaya Parahyangan Timur: Warisan untuk Masa Depan” yang digelar Kementerian Kebudayaan Indonesia pada 31 Juli 2025. Bertempat di situs warisan budaya Karangkamulyan, Ciamis, kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan inovasi tentang bagaimana warisan leluhur bisa dijaga, dimaknai ulang, dan disesuaikan dengan dinamika zaman.
Dalam sambutannya, Dian Budiyana, Kepala Divisi Pemuda dan Kebudayaan Dinas Olahraga dan Pariwisata Ciamis, menekankan pentingnya pendekatan yang adaptif terhadap pelestarian budaya. Ia mengajak seluruh peserta berpikir kreatif agar kekayaan budaya lokal tidak sekadar jadi simbol masa lalu, tetapi juga bagian hidup generasi masa kini.
“Pelestarian budaya tak hanya soal menjaga, tapi juga soal memaknai kembali agar tetap relevan di tengah perubahan zaman,” ujar Dian.
Budaya, Kesehatan, dan Alam: Harmoni Baru dari Karangkamulyan
Lokakarya ini tak hanya diisi diskusi. Peserta juga diajak mengikuti sesi yoga di tengah bentang alam Karangkamulyan — sebuah pengalaman yang merangkul dimensi spiritual, kesehatan, dan alam sekaligus. Dipandu oleh praktisi lokal, kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk kontemplasi dan integrasi antara tubuh, jiwa, dan budaya.
Endang Haris, Kepala Badan Promosi Pariwisata Ciamis, melihat potensi lebih dari Karangkamulyan. Menurutnya, situs ini bukan hanya warisan sejarah Kerajaan Galuh dan legenda Ciung Wanara, tapi juga memiliki ruh spiritual yang bisa dikembangkan menjadi tujuan wisata kesehatan berbasis budaya.
“Bayangkan Karangkamulyan menjadi tempat penyembuhan mental dan fisik — melalui yoga, meditasi, dan ritual lokal. Ini bukan wisata biasa, ini adalah wisata kultural yang menyentuh,” jelas Endang.
Desa Kerajinan dan Situs Sejarah: Pilar Pelestarian Masa Depan
Para narasumber juga menyoroti pentingnya peran desa kerajinan tradisional sebagai pusat kearifan lokal yang berkelanjutan. Tak hanya sebagai tempat produksi barang, desa-desa ini menyimpan nilai dan narasi yang membentuk identitas kawasan.
Langkah nyata lainnya adalah merawat situs budaya seperti Karangkamulyan. Dengan luas lebih dari 25 hektar, kawasan ini menyimpan jejak arkeologi, mitologi, hingga memori kolektif masyarakat Sunda. Potensinya sebagai ruang edukasi dan destinasi budaya dinilai sangat besar jika dikelola secara berkelanjutan.
Menuju Masa Depan yang Berakar
Lokakarya ini menjadi momentum penting untuk menyatukan pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku budaya, hingga masyarakat umum. Melalui pendekatan yang inklusif, pelestarian budaya bukan lagi tugas segelintir orang, melainkan bagian dari gaya hidup dan kesadaran bersama.
Karangkamulyan mengajarkan kita bahwa masa depan bisa dibangun dengan akar yang dalam. Warisan bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dihidupi — dengan cara yang kontekstual, kreatif, dan menyentuh keseharian.

