Lahir di Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta, tahun 1994, Dheny Nugroho tumbuh di lingkungan desa yang menuntutnya berpendidikan tinggi dari orangtuanya. Setelah menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di kampung halamannya, ia melanjutkan studi ke Yogyakarta, kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Pendidikan Matematika.

Di balik angka-angka dan rumus-rumus yang ia pelajari, tersimpan kepekaan terhadap pertanyaan-pertanyaan mendalam: Apa yang akan saya lakukan setelah lulus? Haruskah saya mengulang dari nol lagi?
Pertanyaan itu menggelayut sejak SMA. Denny tak ingin mengalami kekosongan pasca kelulusan. Maka saat kuliah, ia membebaskan dirinya untuk mencoba banyak hal, dari kegiatan kerawitan yang dulu sempat terpendam, hingga dunia kewirausahaan. Peluang pun terbuka saat ia mulai mengenal batik.
“Saya suka batik karena ada unsur budayanya. Dan batik cap cocok dengan karakter saya yang suka desain, tapi tidak terlalu rumit,” ujar Dheni.
Kecintaannya terhadap pendidikan dan desain membawanya pada ide unik: membuat motif batik berdasarkan mata pelajaran. Dari matematika, kimia, hingga olahraga dan seni morse, semua ia kembangkan menjadi motif yang merefleksikan pengalaman belajar dan kenangan di kelas. Inilah cikal bakal merek Guru Batik.
Nama itu awalnya sempat dipertanyakan, namun justru menjadi ciri khas kuat yang mudah diingat. “Guru itu berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti mulia. Dan sebagai lulusan UNY, yang dikenal mencetak guru, saya merasa nama ini punya benang merah kuat,” jelasnya.

Motif batik buatan Dheni bukan sekadar ornamen estetika. Ia menyelipkan cerita, filosofi, dan pengalaman personal di balik tiap desain. Motif kimia, misalnya, ia kaitkan dengan isu kesehatan mental melalui visualisasi hormon serotonin. Motif matematika dibuat dari grafik suara pemilu. Motif olahraga hadir sebagai bentuk penghargaan kepada siswa yang seringkali luput diapresiasi. Semua itu disusun menjadi produk yang tak hanya cantik, tapi juga bermakna.
Kain batik menurutnya adalah kitab: ada hal yang bisa dipelajari dari setiap goresannya. Maka ia menolak perang harga, dan memilih membangun value melalui narasi dan filosofi. Di Instagram Guru Batik, setiap motif bisa hadir dalam tiga unggahan berbeda: single post, carousel, dan video, semuanya dengan cerita yang mengikat secara emosional.
Setelah lulus S1, Denny melanjutkan ke S2 Pendidikan Matematika di UNY. Jaringan pertemanannya pun meluas ke kalangan guru dan dosen se-Indonesia, yang kemudian menjadi konsumen potensial batiknya. Produk Guru Batik digunakan dalam berbagai kesempatan: sebagai seragam, cenderamata kampus, hingga hadiah kenangan penuh makna.
Dengan harga terjangkau, mulai dari Rp150.000 hingga 350.000, batik ini tetap menjaga kualitas melalui kolaborasi dengan pengrajin batik cap terbaik dari Solo, Kulon Progo, dan sekitarnya. Ia selektif memilih mitra produksi: bukan hanya dari hasil akhir, tapi juga dari etika kerja, komunikasi, dan ketepatan waktu. Kini, produksi Guru Batik bisa mencapai 500–1000 potong per bulan, dengan pemesanan dari berbagai kampus seperti UNY, UGM, dan Sanata Dharma.
Namun perjalanannya tak selalu mulus. Tantangan terbesar justru di manajerial dan pemasaran. Setelah produk dan branding kuat, ia mulai merekrut tim khusus untuk membenahi sisi bisnis. Hasilnya, omzet meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir. Toko fisik di daerah Gejayan, Yogyakarta, kini menjadi wajah depan dari mimpinya.
Bagi Dheni, brand Guru Batik bukan sekadar usaha. Ini adalah panggilan untuk menjadi role model anak muda: bahwa kreativitas bisa berpadu dengan ilmu, bahwa batik bisa menghidupkan kembali kenangan sekolah yang seringkali terlupakan. Dan bahwa dari seorang lulusan matematika, bisa lahir produk budaya yang membumi, cerdas, dan menyentuh hati.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

