Ottawa – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ottawa, Kanada, mengubah ruang kantornya menjadi galeri fesyen dan panggung peragaan busana untuk memperingati Hari Batik Nasional. Kegiatan tersebut menghadirkan kekayaan tradisi batik Indonesia kepada masyarakat Kanada sekaligus memperkuat diplomasi budaya kedua negara.
Sekitar 150 tamu menghadiri kegiatan tersebut, terdiri atas anggota parlemen Kanada, pelaku bisnis, diplomat negara-negara ASEAN, serta perwakilan dari berbagai negara. Acara berlangsung 17 tahun setelah UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai bagian dari Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Suasana perayaan semakin kental dengan budaya Indonesia melalui penampilan gamelan Jawa Tengah dan angklung Sunda. Sejumlah tamu juga datang dengan mengenakan busana batik, menunjukkan bahwa kain tradisional Indonesia tersebut semakin dikenal dalam lingkungan diplomatik internasional.
Duta Besar Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab mengatakan batik merupakan bagian penting dari identitas Indonesia. Menurutnya, batik tidak sekadar kain atau pakaian tradisional, tetapi merupakan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
“Batik adalah Indonesia,” ujar Muhsin.
Ia menjelaskan, istilah batik berasal dari bahasa Jawa. Teknik pembuatan batik dengan menggunakan lilin dan pewarnaan membutuhkan ketelitian serta telah berkembang menjadi tradisi di berbagai wilayah Indonesia selama berabad-abad.
Muhsin menegaskan batik tidak seharusnya dipandang sebagai peninggalan masa lalu atau sekadar koleksi museum. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, batik hadir dalam berbagai momentum penting, mulai dari kelahiran, pernikahan hingga upacara perpisahan.
Batik juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di sekolah, kantor dan institusi pemerintahan.
Dari sisi ekonomi, batik turut menjadi sumber penghidupan masyarakat. Muhsin menyebut hampir 200.000 orang Indonesia bekerja dalam puluhan ribu usaha kecil dan bisnis keluarga yang bergerak di sektor batik. Banyak di antaranya melibatkan perempuan.
Menurut Muhsin, batik juga memiliki kekuatan sebagai instrumen diplomasi budaya. Ia mencontohkan Perdana Menteri Kanada Jean Chrétien yang mengenakan batik bersama para pemimpin Asia-Pasifik dalam KTT APEC 1994 di Bogor. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga mengenakan batik saat menghadiri KTT ASEAN 2023 di Jakarta.
“Setiap kali batik dikenakan, ia menyampaikan sesuatu yang tidak dapat disampaikan oleh komunike diplomatik mana pun: bahwa persahabatan dapat dikenakan, bukan sekadar dituliskan,” kata Muhsin.
Anggota Parlemen Kanada sekaligus Wakil Ketua Canada-Indonesia Parliamentary Friendship Group, Sameer Zuberi, menilai batik dapat menjadi pintu bagi masyarakat Kanada untuk memahami Indonesia secara lebih luas.
Menurut Zuberi, batik tidak hanya merepresentasikan Indonesia sebagai mitra ekonomi Kanada, tetapi juga menunjukkan kekayaan budaya Indonesia.
Perayaan di KBRI Ottawa tersebut juga menampilkan peragaan busana bertajuk “The Ageless Runway: Batik Across Generations” dan pameran 12 kain batik yang dibagi dalam tiga babak geografis dan budaya.
Koleksi tersebut menampilkan berbagai motif, mulai dari Udan Liris, Parang Rusak Klitik, Sidomukti, Peksi Kurung, Jahean, Semen Sawat, Burung Hong, Mega Mendung, Lunglungan, Tar-poteh Kembang Cengkeh, hingga batik dengan motif yang terinspirasi budaya Asmat Papua.
Pameran tersebut memperlihatkan bahwa batik merupakan seni yang terus berkembang dan bergerak melintasi generasi, wilayah, serta batas negara.

