Showroom sekaligus workshop Batik Bumiku yang berada di Kampung Batik Cibuluh terbilang asri. Berada di pojok belakang kampung dengan halaman luas, berbatasan dengan tembok Mako Brimob Resimen I Kedung Halang, seorang pembatik Cibuluh bernama Gumi Indang Siswati tekun mengorientasikan karyanya dengan warlami atau pewarnaan alami.
Gumi termasuk pembatik binaan semasa belum terbentuk Kampung Batik Cibuluh. Ia adalah salah satu dari 20 pembatik yang ikut pelatihan membatik dan masih eksis hingga saat ini.
“Waktu itu namanya masih Batik Cibuluh, kita masih mandiri, swadaya mendapatkan modal usaha. Lalu ada pelatihan warna alam di 2017. Dari situ tertarik dan ingin fokus warlami karena pembatik Cibuluh lainnya memakai pewarna sintetis,” kenangnya.
Ketertarikannya dengan warlami berlanjut terus dan berusaha menyempurnakannya. Dasar dari minatnya berfokus warlami karena latar belakang dirinya pernah bermain di ecoprint dan berkarya seni dengan dedaunan seperti daun jati, dan bahan daun lainnya.
“Seperti konsep Batik Bumiku, dasarnya adalah memanfaatkan sumber alam yang ada di sekitar kita. Ketika seni dedaunan kurang pasar, setidaknya saya bisa bermain di warlami batik.”
Gumi menyadari kriya seni dedaunan prosesnya setali tiga uang dengan proses membatik. Fokusnya pada warlami mendapat sorotan dari salah satu stasiun tv swasta dan mendapuknya menjadi narasumber pembatik warlami asal Cibuluh.
“Tahun 2017 ada stasiun TV mengeskos perrajin batik warna alam di Bogor. Karena waktu itu cuma saya yang ada, diliputlah oleh mereka. Kebetulan juga sutradaranya ternyata punya ibu yang kerja di LIPI. Akhirnya saya dan ibunya berkolaburasi riset tentang pewarna alam.”
Motif Dadali Wicaksana
Pangsa pasar batik warlami pada masa ia mulai berfokus, masih terbilang kecil. Upayanya agar tetap eksis sebagai perajin batik, harus tunduk selera pasar batik warlami yang belum terbentuk sempurna. Sebab batik warlami harga jualnya lebih tinggi dari batik berpewarna sintetis.
“Sampai tahun 2018 saya terus batik pewarna alam tapi karena penjualannya kurang akhirnya saya disarankan buat deh pewarna sintetis. Sampai sekarang saya membuat dua produksi batik, berpewarnaan sintetis dan warlami.”
Batik Bumiku yang sudah berdiri sejak tanggal 4 Agustus 2017 tersebut kini memiliki varian pewarnaan alami dan pewarnaan sintetis. Produksi lainnya adalah kain ecoprint.
Ketika ditemui Batiklopedia.com, Gumi sedang mencanting motif batik khas buatannya yakni Dadali Wicaksana. Motif ini diakuinya paling disukai pelanggannya karena menggambarkan burung elang yang bijaksana. Motif ini mirip sawat gurdo pada motif batik Jawa.
“Motif ini (Dadali Wicaksana) sudah ada sertifikatnya. Wakil Presiden sudah punya motif ini, Wakil Walikota Bogor pun sudah punya. Motif ini tetap menggunakan ikon Kota Bogor seperti kujang.”
Dijelaskan olehnya, kujang yang disematkan pada motif ini memiliki sembilan titik pada bilah tajamnya.
“Awalnya cuma lima titik, lalu ketika bertemu dengan budayawan Kota Bogor menyebut motif kujangnya ada sesuatu yang kuat. Mereka merekomendasikan kenapa tidak dibuat saja sembilan titik. Sebab kujang dengan sembilan titik di bilah tajamnya menunjukkan siapa pemiliknya, yakni Prabu Siliwangi.”
Ditambahkan lagi olehnya, lima titik pada awal pembuatan disebutkan oleh para budayawan milik strata lurah, sedangkan sembilan titik milik raja yakni Prabu Siliwangi. Akhirnya Gumi membuat motif kujang dengan sembilan titik di bagian bilah tajamnya.
Gambar kujang sembilan titik juga terlihat pada motif Leweng Daya miliknya.
“Motif Leweng Daya menggambarkan Kebun Raya Bogor dikombinasi dengan ikon Kota Bogor yakni kujang. Di dalam kain terdapat kujang, kijang, bunga rafflesian arnoldi, daun talas, untuk menggambarkan harmonisasi masyarakat Bogor dengan alamnya.”
Gumi juga punya keyakinan bahwa batik motif parang merupakan ikon kuat dari desain batik. Dan ia menjelaskan jika mengikuti parang Jawa, maka batik khas Bogor akan tak nampak. Ia pun mengkombinasi motif parang khas Bogor menjadi motif parang kujang rafflesia.
“Jika seorang pembatik belum bisa bikin motif parang, maka itu belum the best. Karena waktu belajar membuat motif saya suka membuat parang, maka hal itu saya lakukan juga pada batik buatan saya.”
Ada kisah unik terkait karyawannya yang biasa cap batik. Gumi menuturkan karyawannya bisa mengecap 25 – 30 lembar kain per hari. Tetapi jika disuruh cap motif parang, ia menyerah karena bisa lama pengerjaannya.
“Mengecap motif parang biasanya saya menggunakan alat bantu ukur yakni menggunakan kayu panjang. Dan memang proses mengecap motif parang agar rapi butuh waktu lebih banyak karena harus hati-hati dengan alurnya.”
Harga Terjangkau
Untuk penetapan harga batik yang dibuatnya, Gumi mengaku tidak profit oriented. Asalkan masih ada keuntungan, harga disesuaikannya sendiri.
“Kalau untuk batik cap itu antara 185 ribu sampai dengan 200 ribu. Itu karena bahan baku sudah naik semua jadi disesuaikan dengan modalnya. Kadang saya malu kalau mau kasih harga tinggi meski terbilang motif saya anggap lebih bagus daripada lainnya. Saya masih biasa saja, tidak seperti pembatik di Jawa yang memang sudah profesional. Walaupun motifnya biasa, tapi kelihatan dari tarikannya halus kita harus melihat ke situ.”
Untuk batik tulis, Gumi menerakan harga tertinggi Rp 900 ribuan. Harga tersebut merupakan harga wajar karyanya dan sudah ada untung.
“Kadang kalau saya sih merasa sudah dibeli ya syukur. Kita melihat pasarnya, selera orang khan beda-beda ya. Intinya, rejeki nggak kemana deh, seperti tempat saya yang paling belakang di Kampung Batik Cibuluh, masih saja ada yang datang.”
Di samping membatik, dirinya juga mengaku menjadi pemateri di LIPI. Perkenalannya tempo lalu dengan ibu dari sutradara DAAI TV berlanjut hingga kini.
BATIK BUMIKU
Jl. Neglasari I No.66, RT.3/RW.4, Cibuluh, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat 16151
Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di:

