https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

FONNA MELANIA: MENJADI PEMBATIK TERINSPIRASI BATIK BAKARAN JUWANA

Fonna Melania Dengan Latar Motif Batik Buatannya

Pekerjaan sebelumnya di bidang perlogaman dan pipanisasi. Ketika bertugas untuk mengurus komponen irigasi yang tengah dibuat di Juwana, Pati, Jawa Tengah, dirinya mendapatkan dan mengagumi teknik tradisional pemrosesan batik di Desa Bakaran. Sejak itulah hidupnya ingin didedikasikan pada batik.

Fonna Melania Dengan Latar Motif Batik Buatannya
Fonna Melania Dengan Latar Motif Batik Buatannya

Wanita kelahiran Sukabumi, 21 Mei 1975 ini terkesima dengan batik Bakaran yang sustain sejak dari zaman Majapahit. “Masih tradisional, masih ada ritual-ritual. Kemudian, motifnya pun masih primitif dari zaman Majapahit, sampai sekarang masih dipakai,” kenangnya.

Semenjak itu dirinya mengaku jatuh cinta terhadap batik berikut ekosistemnya baik tentang cara pelestarian budayanya serta nilai-nilai filosofis Majapahit dalam selembar batik yang ditularkan bergenerasi-generasi.  

“Tiba-tiba saya terpikir, kenapa sih saya tidak mendokumentasikan dalam batik tentang aneka kearifan lokal, seni budaya, dan apapun yang ada di Sukabumi seperti yang mereka lakukan di Bakaran?”

Pulang Kampung Mencari Ide

Sepulangnya dari Juwana ia masih melanjutkan pekerjaan di tempat sebelumnya. Ketika pulang kampung ke Sukabumi, dirinya mengaku mulai mendalami, menggali ulang budaya dan kearifan lokal, tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, permainan rakyat, bahasanya, dan masih banyak lagi.

Fonna Melania Dengan Latar Motif Batik Buatannya
Fonna Melania Dengan Latar Motif Batik Buatannya

Dari modal menggali pengetahuan tersebut, lulusan Public Relation Interstudi Jakarta ini punya keputusan besar dalam hidupnya. Ia meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan fokus berkerajinan batik miliknya.

“Memang secara budaya, tidak ada dokumentasi bahwa pernah ada industri batik atau ekosistem batik di Sukabumi. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya, karena saya sebetulnya nge-blank banget tentang teknologi. Kemudian pr-nya juga tentang unsur-unsur yang nanti dimuat ke batik, ketersediaan sumberdaya manusianya, dan juga cara menyosialisasikan di Sukabumi ada batik.”

Perajin Batik Lokatmala Sedang Mencanting

Ia menyadari, mengedukasi batik di Sukabumi berhadapan dengan anggapan umum bahwa batik identik dengan motif. Maka ketika motif batik diaplikasikan dalam bentuk printing sudah dianggap batik.

“Padahal batik itu khan prosesnya harus menggunakan lilin malam. Itu tadi kendalanya, kemudian setelah menjadi batik, saya harus bisa mem-branding kearifan lokal tadi di dalam batik saya supaya lebih masuk, lebih relate ke masyarakat, bahwa itulah jati diri mereka.”

Fonna melalui Batik Lokatmala menghasilkan 30 atau sampai 50 motif lokal.

“Saya membuat motif yang filosofis kayak Gunung Sunda yang ada di Sukabumi. Juga ada tentang aset Sukabumi tentang air, parigi, rereng Gunung Parang, untuk ikon yang ada bunga wija itu cuma dengan filosofinya juga.”

Perajin Batik Lokatmala Sedang Mencap Batik

Menjaga eksistensi usaha batik di tengah perkembangan zaman yang pesat kemajuannya, tentunya menjadi tantangan bagi pelaku batik. Lebih-lebih batik yang ditawarkan dirinya penuh dengan kelokalan yang notabene memiliki keterbatasan dalam pemasarannya.

“Menjual batik itu harus punya endurance tinggi. Susahnya di situ walaupun mempertahankan endurance itu mungkin ada dukanya, tapi saya bisa melewati itu dengan tim, dengan dukungan dari pemerintah juga, dengan dukungan komunitas, dengan dukungan keluarga.”

Baginya, menghidupkan kearifan lokal punya tantangan sendiri. dan hal itu bisa dilalui dengan peran dari pemerintah dan masyarakat Sukabumi sendiri.

Perajin Batik Lokatmala Sedang Melakukan Pewarnaan
Perajin Batik Lokatmala Sedang Melakukan Pewarnaan

“Saya banyak sukanya itu karena menemukan kearifan-kearifan lokal yang terlupakan dan digali. Jadi bisa saya buat batik, saya sampaikan lagi ke masyarakat bahwa kita punya begitu banyak aset yang berharga, yang bisa menginspirasi dengan passion-nya masing-masing dibuat produk budaya yang berbeda. Secara bisnis, alhamdulillah karena batik saya ada di Kota Sukabumi, dan pemerintah sangat support.”

Trauma Image Sukabumi

Di balik kesuksesannya mengusung kerajinan Batik Sukabumi, ada latar belakang yang selalu diingatnya hingga kini tentang image-nya sebagai warga Sukabumi.

“Saya sebetulnya punya trauma waktu SMA. Waktu SMA saya berkempatan sekolah di Jakarta, jadi anak kampung yang ke Jakarta. Waktu itu ditanya oleh teman-teman saya, Fon, di Sukabumi ada listrik belum?”

“Kedua, saya ditanya tentang ciri khas Sukabumi. Memang di Sukabumi apa yang terkenal? Waktu itu jujur saya tidak bisa jawab. Tapi kemudian teman saya yang orang Jakarta bilang Sukabumi terkenal dengan dukunnya. Dari situ sampai sekarang saya masih terngiang-ngiang.”

“Begitu tidak berdayanya saya karena pengetahuan saya tentang Sukabumi minim, which is, jati diri saya sendiri, itu blank. Saya tidak bisa jawab apa-apa. Dari situ saya punya minat untuk mengetahui jati diri saya, jadi saya bisa punya kebanggaan. Apa sih Sukabumi? Misalnya tidak terbatas hanya moci, ternyata banyak hal yang lain bisa diangkat supaya nanti anak-anak milenial kalau posisinya di luar Sukabumi, jawabnya tidak nge-blank seperti saya dulu.

Dalam mengeksplorasi Batik Sukabumi, dirinya termotivasi kuat untuk memberikan referensi pada generasi penerus Sukabumi.

“Biasanya kalau melihat batik, saya ceritakan ada filosofinya, sehingga mungkin kalau ditanya teman, atau mewakili satu lomba, apapun, mereka bisa merepresentasikan dirinya sebagai warga kota Sukabumi dengan pengetahuan kekayaan kearifan lokal.”

Bukan Keturunan Keluarga Pembatik

Lahir dari keluarga pendidik, ayah ibunya berprofesi sebagai guru. Pengetahuan tentang batik ditularkan oleh neneknya yang punya batik tulis asli. Tekad membatiknya tidak serta merta hadir. Kisah kunjungan di Desa Bakaran, Juwana, Pati, Jawa Tengah lah yang berkontribusi besar mengubah mindset dirinya total menjadi perajin batik.

“Jadi tidak ada keturunan membatik sebetulnya. Jadi lebih besar niatnya supaya Sukabumi punya batik sebagai media bercerita tentang kearifan lokalnya saja. Kuliah pun saya mengambilnya public relation.”

Ia pun menyadari di Kota Sukabumi tidak ada budaya batik. Bahkan Ketika menelusuri trah-nya terdahulu tidak ada satupun yang pernah membatik. Jika pengetahuan itu datang dari neneknya, hanyalah sebatas pengguna.

“Di Sukabumi tidak ada budaya batik, saya pun demikian, di atas-atas saya, nenek moyang saya. untuk ke seni mungkin tidak, baik itu seni rupa atau seni pertunjukan. Mereka rata-rata pendidik, ada pun keturunan kami, mereka punya perguruan-perguruan silat di tempat asal ayah saya.”

Namun ia merasa memiliki bakat teknik di dalam dirinya, serta memiliki darah Tionghoa yang terkenal kuat mengembangkan wirausaha, menjadi motivasi dirinya bisa eksis di batik.

“Pekerjaan saya sebelumnya berhubungan dengan  logam, industri, lebih ke teknik. Jadi sebenarnya saya orang teknik. Mungkin formula kerja teknik yang biasa saja lakukan, punya kemiripan dengan cara kerja di workshop batik. Teknik nge-batiknya itu masuk.”

Talenta menggambar atau seni rupa nyaris tak dimilikinya. Meskipun demikian dirinya justru diberi talenta oleh Tuhan di usia 30 lebih ketika ia mulai fokus membatik. “Padahal saya itu dulu menggambar itu nggak bisa.”

Didukung Pemkot Sukabumi

Kemauan kerasnya untuk membuat workshop batik akhirnya terealisir. Meski masih bertanya-tanya tentang kelangsungan usahanya kelak tentang cara pemasarannya.

Rupanya gayung bersambut. Kehadiran Batik Lokatmala meningkatkan rasa bangga pemerintah kota dan mendukungnya.

“Sangat support, bukan hanya wacana, tapi memang mereka pindah belanja. Yang awalnya mereka memuat dan menggunakan seragam batik dari luar daerah, mereka dengan bangga dan dengan penuh kesadaran bahwa ini harus diangkat, mereka jadi pesan seragam batik dengan motif kearifan lokal dari Lokatmala. Itu sangat membantu kami untuk sustain.”

Tidak saja membeli, Fonna menuturkan semenjak itu Batik Sukabumi jadi kebanggaan masyarakat Kota Sukabumi.  

“Karena Pemkot memberikan teladan seperti itu, masyarakat lain pun mengikuti. misalnya akademisi berusaha mem-branding, begitu juga dari media, sehingga Batik Sukabumi terkenal di Jawa Barat dan juga luar Jawa Barat. Harapannya, dengan diterimanya Batik Sukabumi, kemudian mereka bangga memakainya, otomatis si batik secara bisnisnya bisa sustain,” pungkasnya.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko


Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Motif Batik Sukabumi Pancasona GURILAPSS

LIMA PESONA KABUPATEN SUKABUMI DALAM SATU MOTIF BATIK

Cerita Batik Dimas Singgih

CERITA BATIK DIMAS SINGGIH