Upaya desainer Era Soekamto dalam melestarikan budaya batik kembali mendapat sorotan dunia. Kali ini, apresiasi datang dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa), sebuah pengakuan bergengsi yang mempertegas pentingnya peran individu dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara Gala Nusantara bertajuk “A Tribute to Indonesia’s Heritage – Batik for the World UNESCO”, yang digelar di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel belum lama ini.
Meski penghargaan ini diberikan atas kiprahnya yang konsisten dalam mempromosikan dan melestarikan batik Indonesia, Era menanggapinya dengan kerendahan hati.
“Sebenarnya ini bukan tentang pencapaian karier saya. Saya merasa belum maksimal dalam berkarya untuk batik. Justru ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar,” ujar perempuan kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat, 49 tahun lalu itu.
Era Soekamto selama ini dikenal tak hanya sebagai desainer busana, tapi juga sebagai pegiat budaya yang menyuarakan nilai-nilai filosofi batik melalui pendidikan, kolaborasi lintas sektor, dan pelatihan bagi generasi muda. Ia memaknai penghargaan ini bukan sebagai titik puncak, melainkan sebuah amanah untuk memperkuat komitmen dan tanggung jawab budaya.
Dalam berbagai kesempatan, Era menyuarakan bahwa batik bukan sekadar motif atau busana, tetapi refleksi jati diri, spiritualitas, dan perjalanan sejarah bangsa. Tantangan zaman, menurutnya, tidak boleh menggerus nilai luhur di balik setiap goresan canting.
Dengan penghargaan dari UNESCO ini, Era berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang tertarik untuk belajar, mencintai, dan melanjutkan tradisi batik dengan cara yang relevan dan membumi di era modern.

