Batik Lasem punya keunikan tersendiri. Di balik warna merah menyala yang khas dan ragam hiasnya yang memikat, tersimpan kisah panjang tentang perjumpaan budaya, perdagangan maritim, dan kehidupan masyarakat pesisir utara Jawa. Dari sebuah kota pelabuhan yang ramai pada masa lalu, Lasem menjelma menjadi salah satu pusat batik paling berpengaruh di Indonesia.
Hingga kini, Batik Lasem tetap dikenal sebagai batik pesisir yang memiliki karakter kuat, berbeda dari batik keraton maupun batik pesisir lainnya. Keunikan tersebut lahir dari sejarah panjang akulturasi budaya yang berlangsung selama berabad-abad.
Lasem, Kota Pelabuhan yang Menjadi Persimpangan Budaya
Jauh sebelum dikenal sebagai sentra batik, Lasem merupakan kota pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Pada masa kejayaan Majapahit sekitar abad ke-16, Lasem menjadi salah satu pelabuhan yang ramai disinggahi para pedagang dari berbagai negara. Kehadiran para saudagar dari Champa (Vietnam), India, Tiongkok, hingga Eropa membawa pengaruh besar terhadap perkembangan budaya masyarakat setempat.
Menurut berbagai catatan sejarah, armada Laksamana Cheng Ho juga pernah berulang kali berkunjung ke wilayah yang kala itu dikenal dengan nama Lao Sam atau Lasem. Di daerah ini telah tumbuh komunitas Tionghoa yang cukup besar dan aktif dalam kegiatan perdagangan. Pertemuan antara masyarakat Jawa pesisir dengan para pendatang tersebut kemudian melahirkan proses akulturasi budaya yang unik.
Akulturasi itulah yang kelak menjadi fondasi lahirnya Batik Lasem.
Awal Mula Batik Lasem
Sejarah Batik Lasem sering dikaitkan dengan kisah yang termuat dalam Babad Lasem. Berdasarkan penjelasan yang dikutip dari buku Batik Pekalongan dalam Lintasan Sejarah karya Kusnin Asa, keberadaan Lasem sebagai pusat produksi batik diperkirakan telah dimulai pada tahun 1401 Saka atau sekitar 1479 Masehi.
Dalam kisah tersebut diceritakan tentang seorang awak kapal armada Cheng Ho bernama Bi Nang Un bersama istrinya, Na Li Ni, yang menetap di wilayah Bonang, Lasem. Na Li Ni kemudian mengembangkan seni membatik dengan menghadirkan motif-motif yang berasal dari tradisi Tionghoa seperti burung hong (phoenix), naga, seruni, banji, dan mata uang kepeng. Motif-motif tersebut dipadukan dengan warna merah khas yang menyerupai warna darah ayam, warna yang sangat identik dengan budaya Tionghoa.
Dari sinilah lahir salah satu ciri paling terkenal dari Batik Lasem: warna merah menyala yang dikenal sebagai abang getih pitik atau merah darah ayam.
Ketika Budaya Jawa dan Tionghoa Bertemu di Atas Kain
Perjalanan Batik Lasem tidak berhenti pada pengaruh Tionghoa semata. Ketika wilayah pesisir utara Jawa berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram, terjadi interaksi yang semakin intens antara budaya pesisir dan budaya keraton.
Para pembatik Lasem mulai memadukan unsur-unsur visual khas Tionghoa dengan motif-motif Mataraman yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta. Perpaduan tersebut melahirkan ragam corak baru yang tidak ditemukan di daerah lain.
Inilah yang membuat Batik Lasem memiliki identitas unik. Ia bukan sepenuhnya batik Tionghoa, bukan pula batik keraton. Batik Lasem menjadi representasi harmonis dari berbagai budaya yang hidup berdampingan di kawasan pesisir Jawa.
Ragam Motif yang Menyimpan Cerita
Salah satu daya tarik Batik Lasem terletak pada kekayaan motifnya. Setiap corak memiliki latar sejarah dan filosofi yang berbeda.
Motif yang dipengaruhi budaya Tionghoa antara lain:
- Burung Hong (Phoenix)
- Naga (Liong)
- Qilin
- Kupu-kupu
- Ikan mas
- Kura-kura
- Magnolia
- Peoni
- Sakura
- Seruni
- Mata uang kepeng
- Kipas Tionghoa
Motif-motif tersebut melambangkan keberuntungan, kemakmuran, umur panjang, serta harapan akan kehidupan yang harmonis.
Sementara itu, pengaruh budaya Mataraman terlihat pada motif-motif seperti Kawung, Ceplok, Limaran, dan Tumpal yang lebih geometris serta sarat makna filosofis.
Ada pula motif yang lahir dari lingkungan alam Lasem sendiri. Salah satunya adalah motif Latohan yang terinspirasi dari tanaman laut yang banyak ditemukan di pesisir Rembang. Selain Latohan, terdapat motif Watu Kricak yang menggambarkan batu-batu kecil di lingkungan sekitar masyarakat Lasem.
Perpaduan berbagai unsur tersebut menjadikan Batik Lasem sebagai catatan visual sejarah masyarakat pesisir yang terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Warna yang Menjadi Identitas
Jika berbicara tentang Batik Lasem, sulit mengabaikan kekuatan warnanya. Berbeda dengan banyak batik pedalaman yang cenderung menggunakan warna sogan atau cokelat tua, Batik Lasem tampil berani dengan warna-warna cerah.
Warna merah menjadi ciri paling menonjol. Selain itu, terdapat kombinasi warna biru, hijau, kuning, dan putih yang menghasilkan kesan hidup dan dinamis. Karakter warna tersebut lahir dari pengaruh budaya pesisir yang lebih terbuka terhadap interaksi antarbangsa.
Dalam tradisi Batik Lasem bahkan dikenal istilah khusus seperti:
- Bang-bangan, dominan merah.
- Kelengan, dominan hitam.
- Bang-Biru, kombinasi merah dan biru.
- Bang-Biru-Ijo, perpaduan merah, biru, dan hijau.
Penamaan tersebut menunjukkan bahwa warna memiliki posisi penting dalam identitas Batik Lasem.
Motif Pagi-Sore, Simbol Kreativitas di Masa Sulit
Salah satu inovasi menarik dalam sejarah batik pesisir adalah motif pagi-sore. Motif ini berkembang sekitar tahun 1930-an dan menjadi sangat populer pada masa pendudukan Jepang.
Saat kondisi ekonomi masyarakat sulit, para pembatik menciptakan kain yang memiliki dua motif berbeda dalam satu lembar kain. Kedua motif tersebut dipisahkan secara diagonal sehingga pemakainya dapat menampilkan sisi berbeda pada pagi dan sore hari. Dengan satu kain, seseorang seolah memiliki dua kain batik yang berbeda.
Motif pagi-sore menunjukkan bagaimana kreativitas para pembatik mampu menjawab tantangan ekonomi tanpa mengurangi nilai estetika karya mereka.
Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Memasuki era modern, Batik Lasem terus berkembang. Para perajin tidak hanya mempertahankan motif-motif klasik, tetapi juga berinovasi dengan menghadirkan warna dan desain yang lebih kontemporer.
Eksperimen warna, pengembangan motif baru, hingga penerapan Batik Lasem dalam busana modern menjadi bagian dari strategi agar batik tetap relevan bagi generasi muda. Bahkan, motif pagi-sore kini mulai diterapkan dalam konsep busana kontemporer seperti streetwear dan modest wear yang menyasar kalangan remaja dan dewasa muda.
Meski mengalami banyak perubahan, identitas Batik Lasem tetap terjaga. Warna merah khas, pengaruh budaya Tionghoa, dan semangat masyarakat pesisir masih menjadi ruh utama yang membedakannya dari batik daerah lain.
Warisan yang Terus Hidup
Sejarah Batik Lasem adalah kisah tentang perjumpaan budaya yang melahirkan keindahan. Dari pelabuhan kuno yang ramai hingga lembaran kain yang kini dikenal di berbagai daerah, Batik Lasem menjadi bukti bahwa keberagaman dapat melahirkan karya budaya yang bernilai tinggi.
Di setiap motif burung hong, naga, Latohan, maupun Kawung, tersimpan jejak perjalanan masyarakat Lasem yang terbuka terhadap dunia, tetapi tetap menjaga akar budayanya. Karena itu, Batik Lasem bukan hanya produk kerajinan, melainkan warisan sejarah yang merekam perjalanan panjang pesisir utara Jawa dalam balutan warna dan motif yang tak lekang oleh waktu.
Sumber:
Aryani, Dewi Isma & Hasnaa Taaj Aiman. Pesona Batik Lasem dan Penerapannya dalam Busana Berkonsep Kontemporer. Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
