https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Afif Syakur: Batik Bukan Sekadar Motif, Tetapi Peradaban dan Identitas Budaya

Afif Syakur menegaskan batik bukan sekadar motif, tetapi warisan budaya yang menyatukan filosofi, sejarah, dan identitas bangsa.
Afif Syakur menegaskan batik bukan sekadar motif, tetapi warisan budaya yang menyatukan filosofi, sejarah, dan identitas bangsa.

Yogyakarta – Ketua II Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad sekaligus moderator talkshow dalam rangka INACRAFT Festival Yogyakarta 2026, Afif Syakur, menegaskan bahwa batik tidak dapat dipahami hanya sebagai produk fesyen atau motif dekoratif. Menurutnya, batik merupakan sebuah peradaban yang memadukan nilai budaya, pengetahuan, sejarah, hingga spiritualitas dalam selembar kain.

Pernyataan tersebut disampaikan Afif saat memoderatori diskusi bertajuk Perjalanan Batik Pedalaman dan Pesisiran yang menghadirkan arkeolog sekaligus penyusun naskah nominasi Batik Indonesia ke UNESCO, Zahir Widadi, serta budayawan Suhartanto.

Afif Syakur mendorong kajian akademis Batik Tiga Negeri agar sejarah, filosofi, dan nilai kolaborasinya tetap lestari.
Afif Syakur, Ketua II Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad

Menurut Afif, perkembangan batik selama ini sering kali dipandang semata sebagai komoditas ekonomi. Padahal, kekuatan industri batik justru terletak pada fondasi budaya yang membentuknya.

“Kalau kita punya keyakinan bahwa budaya yang mendasari ekonomi itu kuat, maka ekonomi batik juga akan semakin kuat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa batik lahir dari perpaduan berbagai unsur kehidupan yang saling melengkapi. Dalam proses pembuatannya terdapat filosofi mengenai keseimbangan, keselarasan, dan hubungan manusia dengan alam. Karena itu, menurut Afif, batik tidak boleh dipersempit hanya sebagai corak, warna, atau produk tekstil.

Afif bahkan mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap batik. Menurutnya, seseorang seharusnya tidak sekadar membeli batik, melainkan “mengabdi kepada batik” dengan memahami nilai, sejarah, dan makna yang terkandung di dalamnya.

“Batik bukan hanya motif, warna, atau pola. Ada satu kesatuan yang melekat pada sehelai kain dan menjadi cerminan hakikat kehidupan,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Afif juga menyoroti pentingnya regenerasi dan peningkatan kompetensi pelaku batik. Ia mendukung gagasan lahirnya jenjang keahlian atau pengakuan khusus bagi para pembatik yang memiliki penguasaan mendalam terhadap teknik, filosofi, dan sejarah batik, setara dengan penghargaan yang diberikan kepada maestro pada bidang seni lainnya.

Selain itu, ia mengingatkan agar pengembangan batik tidak mengorbankan akar budayanya. Menurutnya, inovasi tetap diperlukan, namun harus dilakukan dengan tetap menghormati pakem, nilai sejarah, dan identitas budaya yang menjadi fondasi batik Indonesia.

Afif menilai diskusi akademik mengenai batik perlu terus diperluas agar masyarakat tidak hanya mengenal batik sebagai produk ekonomi kreatif, tetapi juga memahami kandungan ilmu pengetahuan, filosofi, dan kebudayaan yang membentuknya. Dengan pemahaman tersebut, apresiasi terhadap batik diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membeli dan mengenakan, melainkan berkembang menjadi upaya bersama untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.

Melalui INACRAFT Festival Yogyakarta, Afif berharap lahir lebih banyak ruang dialog antara akademisi, pembatik, komunitas, dan masyarakat sehingga batik dapat terus berkembang sebagai warisan budaya yang relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Ia menegaskan, kemajuan industri batik tidak cukup diukur dari peningkatan transaksi penjualan, tetapi juga dari keberhasilan menjaga nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.


Perada Batik

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Inacraft Festival 2026

INACRAFT Festival Yogyakarta Lampaui Target, 34 Ribu Pengunjung Padati JEC

Cetiya Tian Shi Hua di PIK 2 diresmikan sebagai simbol toleransi, harmoni, dan kepedulian sosial untuk memperkuat persatuan masyarakat.

Cetiya Tian Shi Hua Resmi Berdiri di PIK 2, Jadi Simbol Toleransi dan Harmoni Antarumat