Jika kamu sedang berbelanja di Pasar Gede Kota Solo, jangan heran ya jika nama pasar tersebut di nama belakangnya terdapat nama Hardjonagoro (Pasar Gede Hardjonagoro). Nah, nama tersebut disematkan pada pasar tersebut karena jasanya yang besar dalam dunia perbatikan Indonesia di masa Presiden Sukarno.

Nama Tionghoa-nya adalah Go Tik Swan, dan nama Indonesianya Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Hardjonagoro. Ia lahir dan besar di Kota Solo.
Tik Swan, begitu ia disapa, merupakan pria kelahiran 11 Mei 1931 (wafat 5 November 2008 di usia 77 tahun). Ia merupakan anak sulung dari keluarga pengusaha. Sebagai seorang anak keturunan Tionghoa, Tik Swan memilih jalan hidupnya dengan mempelajari dan mengaplikasikan kebudayaan Jawa dalam hidupnya.
Adalah kakeknya yang menjadi induk semang dirinya karena kedua orangtuanya sibuk bekerja yang menularkan darah seni dan lingkungan kebudayaan Jawa. Kakeknya adalah pengusaha batik di Solo.
Tik Swan tidak saja mahir membatik, tetapi juga berkesenian karawitan dan menari.
Dalam perhelatan Dies Natalis Universitas Indonesia, Tik Swan tampil sebagai pengisi acara dan di situlah pertemuan dirinya dan Presiden Sukarno bermula.
Ditantang Membuat Batik Indonesia
Presiden Sukarno yang mengetahui keahlian Tik Swan dalam membatik, mempunyai ide membuat batik Indonesia agar batik tidak saja milik orang Jawa tetapi juga orang Indonesia.
Menjawab tantangan tersebut, Tik Swan merealisasikannya dengan meriset ulang budaya batik Keraton dan tradisi membatik di luar keraton. Ia memadu-padankan motif keraton dengan pewarnaan yang digunakan pembatik di luar keraton.
Seperti kita ketahui, batik keraton punya motif sarat filosofis dengan teknik pewarnaan alami sehingga terkesan monoton dengan warna sogan, hitam, dan putih. Tik Swan memadukannya dengan teknik pewarnaan luar keraton yang berwarna cerah karena menggunakan pewarna sintetis tanpa meninggalkan makna filosofis pada batik keraton.
Tik Swan melakukan pendekatan kreatif dan juga pelopor batik modern. Ia bahkan berhasil mengembangkan gaya batik yang menggabungkan unsur-unsur dari berbagai tradisi batik yang hidup di Indonesia saat itu.
Ciri Khas Batik Go Tik Swan
Motif batik yang dibuatnya ada yang mengangkat motif-motif keraton yang belum pernah dipublikasikan dan juga motif modifikasi yang menghasilkan motif baru.
Ahli waris Go Tik Swan Bernama Siti Supiah A menjelaskan Tik Swan telah menciptakan sekitar 200 motif batik Indonesia sepanjang 1950 – 2008. Keunikan motif batik Go Tik Swan adalah mengulas dari ikon alam baik warna maupun corak gambar. Warna yang digunakannya jika ditarik secara literatur, diangkat dari falsafah hidup yang diwakili warna. Sedangkan corak gambar, disadur dari perumpamaan lama dan perumpamaan baru.
Perumpamaan lama maksudnya ia memodifikasi motif lama yang sudah punya filosofi kemudian ditambahkan lagi icon alam lain untuk menguatkan ceritanya.
Secara pewarnaan, Tik Swan memadukan warlami dan warna sintetis dengan tujuan mendapatkan representasi warna berdasarkan situasi emosional dirinya yang hendak dicurahkan.
Go Tik Swan adalah sosok yang mengangkat batik menjadi lebih dari sekadar kain tradisional, tetapi sebagai bentuk ekspresi seni yang kaya akan makna budaya. Karyanya berkontribusi besar dalam menjaga keberlanjutan dan relevansi batik di era modern.
Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di:

