https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Batik P.E: Motif Batik Ngawi Yang Unik

motif batik pe asal Ngawi

Dari jauh, kain tersebut nampak seperti kain batik pada umumnya. Ketika dilihat lebih dekat, lembaran kain itu berhias berbagai motif yang yang tidak biasa: motif menyerupai manusia purba yang dilukis berulang, dengan pose memegang gada dan dihiasi motif tanaman.

Motif ini adalah motif batik unik Pithecanthropus Erectus (PE), inovasi motif yang dikembangkan kelompok pengrajin Batik Anisa di Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Keunikan motif batik ini terletak pada maraknya penggunaan motif menyerupai manusia purba yang digunakan berulang sebagai ciri khasnya. Dengan motif yang unik dan ikonik ini, batik PE dapat menjadi produk unggulan dari kabupaten Ngawi. Meski demikian, terdapat sejumlah kendala yang ditemui perajin dalam pengembangan dan pemasarannya.

Sebagai bentuk dukungan atas upaya pengembangan ekonomi kreatif, PaMAN (Pustaka Memori Nusantara) melalui Batiklopedia berusaha membidik para perajin batik terkait lewat program PKM. Kegiatan PKM ini akan ditargetkan kepada para pengrajin batik yang ingin mengembangkan pangsa pasarnya lewat penambahan keterampilan dan upaya memperluas jaringan lewat bantuan teknologi.

”Kegiatan ini didasarkan atas rendahnya potensi SDM perajin yang menjanjikan untuk mengembangkan batik khas daerah. Padahal ada banyak potensi dari batik Pithecanthropus Erectus atau batik PE,” tulis Bayu t.n. pada Senin (02/09).

Meskipun sudah memiliki ciri khas tertentu seperti motif batik PE (Pithencanthropus Erectus), belum tentu para pengrajin dengan mudah dapat mengakses pasar batik tanpa masalah.

Salah satu masalah yang dihadapi adalah terbatasnya kreativitas dan inovasi untuk membuat desain dan motif baru dari batik PE yang unik dan ikonik. Keterbatasan ragam motif dan desain batik yang inovatif hingga saat ini masih belum pernah dipikirkan oleh para stakeholder usaha batik, termasuk dari para desainer maupun produsen batik di wilayah Kabupaten Ngawi.

Selain motif, ada pula keterbatasan dalam variasi warna batik yang dihasilkan. Hal ini khususnya dalam hal membangun kombinasi warna atau memadukan warna dalam satu kesatuan produk batik. Minimnya pemanfaatan jejaring pasar atau market network dan media promosi bagi produk batik yang dihasilkan juga menjadi kendala lain.

”Pengetahuan mitra perajin tentang pariwisata pun masih kurang. Khususnya dalam menangkap peluang melalui eksplorasi cenderamata wisata yang khas berupa seni kerajinan batik lokal yang unik dan ikonik. Dan, terbatasnya alat dan bahan yang relevan untuk menginisiasi pengembangan batik PE sebagai desain inovatif yang berpotensi menjadi produk batik Kabupaten Ngawi,” tulis Bayu t.n. dalam rilis.

Program kemitraan masyarakat yang diusung akan bekerjasama dengan Museum Batik Indonesia (TMII) yang bertujuan mencari solusi atas permasalahan tersebut. Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi penyuluhan, pelatihan, dan pengenalan bagi pelaku usaha dalam membuat desain batik yang unik dan ikonik.

Selain itu, pelaku akan dibekali pengetahuan dasar dalam mendiversifikasi ragam motif, menambah variasi warna, serta mendapatkan fasilitas untuk mempromosikan produk mereka melalui media website batiklopedia.com dalam rangka memperluas jejaring pasar, memberikan pemahaman mengenai pariwisata dan peluang pengembangan cenderamata khas daerah.

DAVE-TJOA-ANTARA

Batik Nusantara Dave Tjoa Dipamerkan Di Galeri Foto Jurnalistik Antara

Kirab Batik Museum Batik Indonesia TMII

KIRAB BATIK MUSEUM BATIK INDONESIA TMII