Masyarakat Jawa Kuno, khususnya pada abad ke-9 hingga ke-15 telah menguasai teknik pembuatan kain beserta fungsi penggunaannya.
Saat itu teknik pembuatan kain telah berkembang, baik dalam penggunaan bahan dasar, warna, jenis kain, maupun teknik pembuatan motif.
Perkembangan tersebut, menurut dosen Departemen Sejarah Undip, Dr Siti Maziyah, antara lain dipengaruhi oleh kontak budaya dengan bangsa asing yang semakin intensif pada abad ke-11 hingga abad ke-15.
“Masyarakat Jawa Kuno menerima pengaruh dari luar dan kemudian mengadaptasinya menjadi kain khas Jawa,” ungkap Siti Maziyah.
Disampaikannya dalam diskusi bedah buku karyanya: Kain di Jawa: Dari Era Mataram Kuno hingga Majapahit, di Gedung Monod DiepHuis, kawasan Kota Lama Semarang, Sabtu (18/3/2023).
Fungsi Sosial Kain
Selain penutup tubuh, kain pada masa Jawa Kuno juga memiliki fungsi lain, yakni sosial, ekonomi, dan religi.
Khusus fungsi sosial kain berhubungan dengan strata sosial masyarakat.
Semakin tinggi strata sosial seseorang di masyarakat, kain yang dikenakan akan semakin panjang.
Masyarakat Jawa Kuno mula-mula hanya mengenakan pakaian pada tubuh bagian bawah.
Hal itu berlaku, baik untuk laki-laki, perempuan, dewasa, maupun anak-anak.
Adapun tubuh bagian atas mereka dibiarkan terbuka.
Penutup tubuh bagian atas hanya boleh dikenakan oleh golongan bangsawan dan agamawan.
Mulai abad ke-10, kata Siti Maziyah, penjaga tempat suci diperbolehkan Raja mengenakan kurug, sejenis pakaian penutup bagian atas.
Pada abad-abad berikutnya, penggunaan kurug semakin meluas di kalangan masyarakat.
“Selain kurug, sejak abad ke-13 muncul saput, yakni penutup tubuh bagian atas untuk perempuan.”
Diskusi bedah buku yang diselenggarakan oleh Sigarda Indonesia bersama Penerbit Sinar Hidoep, Batik Semarang 16, dan Suara Merdeka Network ini juga menghadirkan Dr Indra Tjahjani, kreator dan motivator di Griya Peni Jakarta.
Kepada ratusan peserta diskusi, baik luring maupun daring, ia mengatakan bahwa buku yang ditulis Siti Maziyah merupakan karya penting dalam bidang arkeologi.
“Buku yang berasal dari disertasi penulis ini mengungkap sejarah dan fungsi kain pada masa Jawa Kuno, sesuatu yang jarang dikaji oleh peneliti lain,” ujar Indra Tjahjani.
Diskusi bedah buku dimeriahkan peragaan busana koleksi Batik

