in

Batik Bakaran Jadi Fokus Festival, Regenerasi Pembatik Didorong Sejak Sekolah

Festival Batik Bakaran di Pati memasuki tahun ketujuh dengan mendorong regenerasi pembatik muda dan promosi batik tulis khas Juwana.
Festival Batik Bakaran di Pati memasuki tahun ketujuh dengan mendorong regenerasi pembatik muda dan promosi batik tulis khas Juwana.

Pati – Festival Batik Bakaran di Desa Bakaranwetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, kembali digelar sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan batik Bakaran, batik tulis khas daerah tersebut. Memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh, festival yang bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional tersebut menarik peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Kepala Desa Bakaranwetan, Wahyu Supriyo, mengatakan Festival Batik Bakaran menjadi bagian dari strategi pemerintah desa untuk memperkuat keberadaan batik tulis khas Bakaran. Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober dinilai menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan promosi dan apresiasi terhadap batik lokal.

“Tentu ini juga menjadi langkah pemerintah desa dalam membranding, mempromosikan, dan melestarikan batik tulis Bakaran,” ujar Wahyu.

Menurutnya, batik Bakaran menghadapi tantangan seiring perubahan zaman dan perkembangan industri tekstil. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah semakin banyaknya produk batik printing dan batik cap yang beredar di masyarakat.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah desa untuk tidak hanya melakukan promosi, tetapi juga menyiapkan generasi penerus pembatik. Regenerasi dinilai penting agar keterampilan membatik tulis tidak berhenti pada generasi saat ini.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah melibatkan anak-anak dan pelajar dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan batik. Festival Batik Bakaran menghadirkan lomba mewarnai batik hingga lomba membatik yang menyasar peserta mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA) sederajat.

Upaya tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Peserta lomba tidak hanya berasal dari Kabupaten Pati, tetapi juga datang dari sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

Wahyu mengatakan lomba membatik tingkat SMA sederajat diikuti puluhan peserta. Mereka berasal dari berbagai kabupaten dan kota, antara lain Pati, Banjarnegara, Klaten, Surakarta, Tegal, dan Rembang.

“Ada puluhan peserta yang ikut. Tak hanya dari Pati tapi juga dari Banjarnegara, Klaten, Surakarta, Tegal hingga Rembang,” katanya.

Kompetisi tersebut juga menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap aktivitas membatik masih dapat dikembangkan melalui kegiatan yang menarik dan kompetitif. Dalam penyelenggaraan tahun ini, peserta dari Pati berhasil meraih juara pertama melalui perwakilan dari Kecamatan Batangan. Sementara peserta dari Tegal juga berhasil memperoleh posisi juara.

Festival Batik Bakaran sekaligus menjadi ruang pertemuan antara tradisi lokal dengan generasi muda. Melalui kegiatan membatik secara langsung, peserta tidak hanya diperkenalkan pada motif dan teknik batik, tetapi juga didorong memahami proses pembuatan batik tulis yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu.

Pemerintah Desa Bakaranwetan berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari agenda pelestarian budaya sekaligus promosi potensi ekonomi kreatif daerah.

Keberadaan Festival Batik Bakaran juga menunjukkan bahwa pelestarian batik tidak cukup dilakukan melalui penggunaan kain batik, tetapi membutuhkan proses regenerasi pembatik. Dengan melibatkan pelajar sejak usia dini, tradisi batik tulis Bakaran diharapkan dapat terus diwariskan dan memiliki daya saing di tengah perkembangan produk batik modern.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Teknik batik di Indonesia berkembang melalui canting tulis, celup ikat, printing dan colet yang memiliki proses serta karakter motif berbeda.

Teknik Batik di Indonesia Beragam, dari Canting Tulis hingga Celup Ikat dan Colet