Yogyakarta – Batik Kulon Progo menjadi salah satu sumber inspirasi dalam pameran tunggal bertajuk “Batik DeNAM9: Kembang Suket Kali Progo” yang digelar di kawasan Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Sabtu, 3 Oktober 2026. Pameran tersebut menghadirkan 21 karya batik yang terinspirasi dari pengalaman masa kecil maestro batik Agus Rianto di sekitar Sungai Progo.
Pameran dengan tagline “Bakti Kami untuk Batik Nan Lestari” berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Kehadiran karya batik di ruang terbuka kawasan Benteng Vredeburg menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang sedang menghabiskan akhir pekan di sekitar Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Sebanyak 21 karya yang dipamerkan menggunakan bahan katun premium. Seluruh karya dibuat Agus Rianto secara langsung di Gubug Produksi Sedayu Permai, Bantul. Proses penciptaan koleksi tersebut berlangsung selama sekitar satu tahun, mulai Oktober 2025 hingga akhirnya dipamerkan pada Oktober 2026.
Dalam pameran tersebut, Agus mengeksplorasi berbagai motif dengan memadukan unsur klasik, modern, dan kontemporer. Ide utama koleksi berasal dari pengalaman masa kecilnya ketika kerap menyeberangi Sungai Progo di Kulon Progo.
Bagi Agus, Sungai Progo bukan sekadar bentang alam, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus ruang yang menyimpan memori personal. Lanskap dan ekosistem sungai kemudian diterjemahkan ke dalam pola-pola batik yang memiliki karakter tersendiri.
Sejumlah unsur alam seperti rumput meniran dan daun galihasem menjadi inspirasi dalam pengembangan motif. Agus juga mengeksplorasi motif klasik seperti Keblat Papat Lima Pancar, Kawung, dan berbagai variasi Parang.
Proses pengerjaan setiap kain membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Untuk kain batik berukuran standar, Agus membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat hari. Sementara karya dengan ornamen kompleks dan isen-isen yang padat dapat membutuhkan waktu hingga satu minggu untuk proses menggambar hingga pewarnaan.
Konsep pameran yang ditempatkan di area outdoor Benteng Vredeburg turut menjadi daya tarik tersendiri. Deretan kain batik yang dipajang di bagian depan benteng menarik perhatian pengunjung yang melintas.
Salah seorang pengunjung asal Jakarta, Refi, mengaku tertarik dengan tampilan karya yang dipamerkan. Menurutnya, perpaduan warna pastel yang lembut dengan sentuhan warna gelap menghasilkan karakter batik yang segar, elegan, dan berbeda dari produk yang umum ditemukan di pasaran.
Bagi Agus Rianto, pameran tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya sebagai pembatik. Ia telah menekuni kegiatan membatik secara intensif sejak 2010.
Inspirasi berkarya juga tidak lepas dari kenangan masa kecil bersama nenek serta momentum ketika batik Indonesia diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Menurut Agus, usia bukan alasan untuk berhenti berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan budaya.
Melalui “Kembang Suket Kali Progo”, Agus ingin menyampaikan pesan bahwa pelestarian batik dapat dilakukan dengan mengolah tradisi menjadi karya yang relevan dan menarik bagi masyarakat.
Ia berharap generasi muda tidak ragu untuk mengenal, mencintai, dan meneruskan tradisi membatik agar warisan budaya Indonesia tetap bertahan di masa depan.
“Cintai batik, karena semakin banyak yang membuat batik, semakin unik, semakin unik maka semakin indah,” ujar Agus.

