Ekonomi batik berkembang melalui industri kreatif, inovasi desain, dan perubahan selera pasar yang menjadikan batik semakin luas digunakan.
Batik tidak lagi hanya ditempatkan sebagai pakaian tradisional, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang memiliki nilai ekonomi. Perubahan tersebut terjadi seiring perkembangan teknologi, fesyen, inovasi desain, serta perubahan selera masyarakat.
Kajian Dwi Kartikawati dari Universitas Nasional berjudul Batik sebagai Identitas, Komoditas, dan Gaya Hidup menunjukkan bahwa batik mengalami perubahan fungsi dari produk kebudayaan menjadi budaya populer, komoditas, sekaligus gaya hidup. Kajian tersebut dipresentasikan dalam Seminar Nasional P4M UNAS pada 3 April 2018.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa fesyen dan kerajinan merupakan subsektor yang dominan dalam memberikan kontribusi ekonomi di Indonesia. Industri kreatif memungkinkan produk budaya dikembangkan melalui kreasi dan inovasi sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang mengubah industri batik. Selain batik tulis, muncul batik cap, printing, dan berbagai bentuk produksi lainnya. Kehadiran teknologi membuat batik dapat diproduksi dalam jumlah lebih besar dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Kajian tersebut mencatat bahwa perkembangan batik cap turut menurunkan harga batik. Sementara itu, munculnya kain bermotif batik melalui teknik printing memberikan pilihan produk dengan harga yang lebih terjangkau. Kondisi tersebut kemudian membuat batik tulis dan batik cap memiliki posisi yang lebih eksklusif.
Perubahan teknologi produksi berjalan beriringan dengan perubahan fungsi batik. Batik yang sebelumnya lebih banyak digunakan dalam konteks tradisional kemudian berkembang menjadi produk fesyen.
Di era kontemporer, perpaduan antara unsur tradisional dan modern semakin banyak digunakan. Batik dapat dikembangkan menjadi berbagai model pakaian sesuai kebutuhan dan selera konsumen. Kondisi tersebut membuat batik semakin dekat dengan budaya populer.
Dalam kajian tersebut, batik kontemporer disebut berkembang sebagai hasil diversifikasi produk pakaian. Produk batik kontemporer memiliki nilai kebaruan, bersifat universal, dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan dalam beragam kesempatan. Perkembangan tersebut menjadikan batik sebagai komoditas yang dapat menunjang perekonomian.
Salah satu contoh yang dibahas adalah produksi busana batik bermotif Mega Mendung. Motif tersebut berkembang menjadi bagian dari industri budaya dengan mengikuti tren budaya populer dan selera pasar.
Namun, perubahan orientasi pasar juga membawa konsekuensi terhadap batik tradisional. Produksi secara massal membuat motif tidak selalu dibuat berdasarkan kekhasan daerah. Motif dapat dikreasikan oleh pengusaha batik dan kemudian dipasarkan berdasarkan nama desainer atau produsen.
Kajian tersebut pada akhirnya menempatkan industri kreatif sebagai salah satu ruang perkembangan batik. Batik dapat memiliki nilai ekonomi melalui inovasi produk dan kemampuan menyesuaikan diri dengan pasar. Di sisi lain, perkembangan ekonomi tersebut tetap perlu berjalan bersama upaya mempertahankan nilai budaya. Batik tidak hanya mempunyai nilai jual, tetapi juga memiliki sejarah, proses, karakter, nilai luhur, dan falsafah kehidupan yang melekat pada tradisi pembuatannya.

