Batik Jogja dan Batik Solo memiliki perbedaan karakter visual yang cukup jelas. Batik Jogja cenderung menggunakan warna lebih terang dan motif berukuran lebih besar, sedangkan Batik Solo cenderung menggunakan warna lebih gelap dengan ukuran motif lebih kecil.
Perbedaan tersebut merupakan salah satu hasil penelitian Chelsea Yulianita dan Gregorius Genep Sukendro mengenai corak Batik Jogja dan Batik Solo. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi.
Meski berbeda secara visual, penelitian menemukan bahwa perilaku komunikasi yang terdapat dalam kedua tradisi batik tersebut tidak menunjukkan perbedaan mendasar. Keduanya sama-sama menyampaikan pesan melalui motif dan makna yang terkandung di dalamnya.
Komunikasi tersebut berlangsung dalam dua bentuk, yaitu verbal dan non-verbal.
Komunikasi verbal terjadi ketika pengrajin memberikan informasi mengenai motif kepada karyawan maupun pelanggan. Informasi tersebut dapat mencakup jenis motif, karakteristik, serta makna yang terkandung di dalamnya.
Komunikasi verbal juga berlangsung di museum tekstil. Pengunjung mendapatkan informasi melalui penjelasan mengenai arti dan karakteristik motif Batik Jogja dan Batik Solo.
Sementara komunikasi non-verbal disampaikan melalui motif itu sendiri. Simbol dan gambar pada kain menjadi tanda yang membawa pesan kepada penerima tanpa harus disampaikan melalui kata-kata.
Dalam kajian motif, unsur visual batik terdiri atas motif utama, motif tambahan, dan isen-isen. Motif utama menjadi unsur penentu, motif tambahan berfungsi sebagai pengisi bidang, sedangkan isen-isen mengisi ornamen atau bidang di antara ornamen.
Motif Sidomukti menjadi salah satu contoh bagaimana unsur visual membawa makna. Motif tersebut memiliki ornamen kupu-kupu, singgasana, dan meru. Kupu-kupu dikaitkan dengan harapan yang indah, singgasana dengan kedudukan tinggi, dan meru dengan keagungan yang abadi.
Perbedaan warna dan ukuran antara Batik Jogja dan Batik Solo menjadi karakter visual yang dapat dikenali. Namun, perbedaan tersebut tidak menghilangkan fungsi batik sebagai sarana penyampaian pesan budaya.
Penelitian menyimpulkan bahwa komunikasi melalui motif Batik Jogja dan Batik Solo memiliki tujuan yang sama, yaitu menyampaikan makna setiap motif sekaligus mendukung upaya melestarikan dan menjaga budaya Indonesia.
Dengan demikian, kain batik dapat dipahami tidak hanya melalui keindahan visualnya. Warna, bentuk, garis, ornamen, dan isen-isen membentuk sistem tanda yang dapat menyampaikan pesan.
Perbedaan karakter Batik Jogja dan Batik Solo justru menunjukkan keragaman ekspresi budaya dalam tradisi batik Indonesia. Keduanya berkembang dengan karakter masing-masing, tetapi tetap memiliki fungsi sebagai media komunikasi budaya antargenerasi.


