Jakarta — Instalasi Pinisi Nusantara berskala 1:1 hadir di Pacific Place, Jakarta, sebagai karya yang memadukan seni, budaya, kreativitas, dan prinsip keberlanjutan. Instalasi kapal Pinisi berukuran 12 x 6 meter tersebut merupakan kolaborasi Dus Duk Duk, Erika Richardo, dan Pacific Place Mall.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar menghadiri seremoni pembukaan instalasi tersebut pada Selasa (18/8/2026). Karya ini dibangun menggunakan lebih dari 1.000 lembar kardus berbahan serat daur ulang.
Mengambil inspirasi dari Pinisi sebagai salah satu warisan maritim Indonesia, instalasi tersebut mengangkat nilai gotong royong, identitas budaya, dan semangat inovasi melalui pendekatan kreatif yang memperhatikan aspek keberlanjutan.
Irene menilai Pinisi Nusantara menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat diterjemahkan menjadi karya kontemporer tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
“Ini bukan kolaborasi pertama antara Pemerintah dengan Pejuang Ekraf seperti Erika dan Dus Duk Duk. Jadi ini bukan hanya sesuatu yang kreatif, yang bikin bagus, estetika, berguna, tapi juga sesuatu yang sustainability-nya jalan,” ujar Irene di Pacific Place, Jakarta, Selasa (18/8).
Menurut Irene, kolaborasi tersebut menjadi contoh keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan ekonomi kreatif sekaligus mendorong pemanfaatan material yang lebih bertanggung jawab.
Pinisi Jadi Medium Kenalkan Budaya Indonesia
Dirancang sebagai pengalaman interaktif dan immersive, Pinisi Nusantara mengajak pengunjung tidak hanya melihat instalasi, tetapi juga menjelajahi berbagai sudut kapal.
Perpaduan material, bentuk, dan ruang dirancang untuk mendekatkan pengunjung dengan cerita serta nilai yang terkandung dalam warisan maritim Indonesia.
Kehadiran instalasi tersebut bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kebanggaan terhadap identitas bangsa melalui karya yang relevan dengan perkembangan industri kreatif.
Irene menegaskan budaya merupakan salah satu kekuatan utama ekonomi kreatif Indonesia. Menurut dia, keragaman budaya dari Sabang hingga Merauke menjadi keunggulan yang tidak perlu ditiru dari negara lain.
“Ekonomi kreatif kita selalu katakan unique selling point (USP) terbesarnya kita ada di budaya kita. Hanya Indonesia yang memiliki Sabang sampai Merauke kebudayaan yang luar biasa seperti ini,” kata Irene.
Ia menambahkan, tantangan ekonomi kreatif adalah memastikan budaya Indonesia tetap relevan bagi generasi muda sekaligus mampu tampil menarik di pasar internasional.
Gunakan Lebih dari 1.000 Kardus Daur Ulang
CEO Dus Duk Duk Arief Susanto mengatakan, instalasi Pinisi Nusantara lahir dari semangat anak-anak muda untuk merepresentasikan kebudayaan, kreativitas, dan keberlanjutan melalui eksplorasi material.
Kardus yang digunakan berasal dari bahan dengan 100 persen serat daur ulang. Instalasi tersebut dapat dinikmati masyarakat hingga 5 September 2026.
Arief menyebut dukungan pemerintah dan berbagai pihak menjadi dorongan penting bagi pengembangan karya kreatif yang mengangkat isu budaya dan keberlanjutan.
Instalasi Pinisi Nusantara merupakan kelanjutan kolaborasi Dus Duk Duk dan Erika Richardo pada 2025. Saat itu, keduanya menghadirkan instalasi pesawat terbang berbahan kardus berskala 1:10 dalam rangka HUT ke-80 Republik Indonesia.
Sementara itu, Erika Richardo mengatakan Pinisi merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO. Melalui karya tersebut, ia berharap masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu-ibu, semakin mengenal seni dan budaya Indonesia.
Konsep visual pada kapal juga dirancang untuk merepresentasikan bentang budaya Nusantara dari Papua hingga Sumatra.
“Dari ujung sebelah kanan, itu adalah dari Papua sampai ke ujung sebelah kiri, yaitu Pulau Sumatra. Itu semua dipenuhi dengan kebudayaan Indonesia,” ujar Erika.
Pembukaan Pinisi Nusantara turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumariyo, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan I Made Dharma Suteja, serta perwakilan Pacific Place.

