Jakarta – Di balik nama Pameran Puspa Nuswantara, tersimpan kisah tentang kecintaan terhadap batik, semangat kebersamaan, serta harapan memperkuat ekosistem batik nasional. Gagasan tersebut diungkapkan GKBRAA Paku Alam yang menjadi salah satu sosok penting di balik lahirnya nama pameran yang kini memasuki penyelenggaraan tahun kedua.
Sebagai seorang pembatik, GKBRAA Paku Alam mengaku memiliki kedekatan emosional dengan dunia batik. Kecintaannya terhadap batik juga membuatnya menjalin hubungan erat dengan para perajin dan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).
“Saya memang seorang pembatik. Itu yang membuat saya mencintai batik dan senang bersama APPBI. Saya melihat APPBI sebagai asosiasi yang mewadahi para pengusaha batik di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan tersebut telah terjalin sejak lama. Ketika APPBI menggelar kegiatan di Yogyakarta, muncul gagasan untuk menghadirkan sebuah pameran yang tidak hanya berfokus pada transaksi penjualan, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas yang mampu mengangkat nilai budaya batik kepada masyarakat.
Dalam sejumlah diskusi bersama pengurus APPBI, lahirlah nama Puspa Nuswantara. Nama tersebut dipilih sebagai simbol bunga-bunga yang tumbuh dan berkembang di seluruh Nusantara, sekaligus menggambarkan keberagaman budaya Indonesia yang disatukan melalui batik.
“Tidak muncul dari satu orang saja. Kami berdiskusi bersama sebelum acara dimulai hingga akhirnya sepakat menggunakan nama Puspa Nuswantara, yang menggambarkan bunga-bunga dari seluruh Nusantara,” katanya.
Setelah sukses digelar di Yogyakarta, penyelenggaraan tahun ini dipindahkan ke Jakarta. Menurut GKBRAA Paku Alam, pemilihan ibu kota didasarkan pada pertimbangan strategis agar mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dalam skala yang lebih luas.
Selain menginspirasi nama pameran, GKBRAA Paku Alam juga memperkenalkan motif batik Puspa Wicitra. Motif tersebut terinspirasi dari gending Ketawang Puspa Warna dan menggambarkan keragaman bunga yang tumbuh di lingkungan Pura Pakualaman.
Tidak hanya menghadirkan unsur flora, motif itu juga memuat ornamen gurda atau sayap serta bentuk rumah sebagai simbol kebersamaan. Rumah dimaknai sebagai tempat berkumpulnya seluruh keluarga besar Pura Pakualaman, mulai dari pengageng, kerabat, hingga abdi dalem yang hidup dalam semangat persatuan dan loyalitas.
Filosofi tersebut, menurutnya, sejalan dengan makna motif tambal yang menyatukan berbagai unsur menjadi satu kesatuan yang utuh. Nilai kebersamaan inilah yang ingin dibawa melalui Puspa Nuswantara sebagai ruang kolaborasi bagi seluruh pelaku batik Indonesia.
Lebih jauh, GKBRAA Paku Alam berharap batik terus menjadi media pelestarian budaya. Ia ingin berbagai filosofi yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno Pura Pakualaman dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui karya batik, sehingga warisan budaya tidak hanya tersimpan di dalam arsip, tetapi juga hidup dan dikenakan oleh generasi masa kini.

