Jakarta – Pengusaha Batik Pesisir Pekalongan, Ahmad Failasuf, mengajak seluruh pemangku kepentingan, khususnya media massa, untuk membangun kembali momentum kejayaan batik Indonesia sebagaimana terjadi setelah pengakuan UNESCO pada 2009. Menurutnya, kebangkitan batik tidak cukup hanya mengandalkan para perajin, tetapi membutuhkan dukungan bersama agar batik tetap menjadi kebanggaan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Failasuf dalam konferensi pers Pameran Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta. Ia menilai pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda telah menjadi titik balik yang membangkitkan rasa memiliki masyarakat Indonesia terhadap batik.

“Saat itu muncul sentimen positif yang sangat kuat. Masyarakat menyadari bahwa batik adalah milik bangsa Indonesia dan harus dijaga bersama. Semangat seperti itulah yang perlu kita bangun kembali,” ujarnya.
Menurut Failasuf, Puspa Nuswantara tidak sekadar menjadi ajang pameran batik, tetapi diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali optimisme industri batik nasional di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Ia mencontohkan, industri batik pernah menunjukkan daya tahan yang kuat ketika Indonesia menghadapi krisis moneter 1998 maupun perlambatan ekonomi global pada 2008. Dalam situasi tersebut, industri batik justru mampu bertahan dan kembali berkembang.
“Kami optimistis batik selalu memiliki solusi. Dalam berbagai masa sulit, batik terbukti mampu bangkit. Karena itu kami berharap tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan baru bagi batik Indonesia,” katanya.
Namun, di balik optimisme tersebut, Failasuf mengaku menyimpan kekhawatiran besar terhadap regenerasi pembatik. Berdasarkan pengalaman di lingkungan usahanya, minat generasi muda untuk meneruskan profesi sebagai pembatik terus menurun.
Ia mengungkapkan pernah menanyakan kepada sekitar 100 karyawannya mengenai keinginan anak-anak mereka menjadi pembatik. Hanya satu orang yang menjawab bersedia melanjutkan profesi tersebut.
“Perkembangan teknologi informasi, perubahan gaya hidup, hingga minat generasi muda yang bergeser menjadi tantangan serius. Kalau tidak kita siapkan sekarang, sepuluh tahun ke depan jumlah perajin batik bisa semakin berkurang,” ujarnya.
Karena itu, Failasuf mengajak media massa mengambil peran lebih besar sebagai mitra pelestarian batik. Menurutnya, pemberitaan yang konsisten mengenai nilai budaya, filosofi, hingga perjalanan para perajin dapat membangun kembali kebanggaan masyarakat terhadap batik Indonesia.
“Saya yakin jika semakin banyak tulisan dan cerita positif tentang batik, maka kecintaan masyarakat akan tumbuh kembali. Media memiliki kekuatan menjadi corong kebangkitan batik Indonesia,” katanya.
Selain mengangkat isu regenerasi, Failasuf juga menjelaskan bahwa batik memiliki beragam segmen pasar. Mulai dari karya masterpiece yang dibuat secara eksklusif selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hingga batik cap yang lebih terjangkau untuk masyarakat luas.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada harga, melainkan kurangnya edukasi masyarakat dalam membedakan batik asli dengan tekstil bermotif batik. Bahkan, ia menemukan tidak sedikit kain bermotif batik yang dijual lebih mahal dibandingkan batik asli.
Karena itu, Puspa Nuswantara 2026 akan menghadirkan berbagai kegiatan edukasi mengenai batik tulis, batik cap, batik kombinasi, hingga filosofi motif batik agar masyarakat memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Failasuf juga mengajak para jurnalis untuk berkunjung langsung ke sentra-sentra batik di berbagai daerah agar memahami proses pembuatannya. Menurutnya, pemahaman yang baik akan menghasilkan pemberitaan yang mampu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik sebagai warisan budaya bangsa. “Batik Indonesia tidak bisa dijaga hanya oleh pembatik. Kita membutuhkan dukungan media, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat agar batik tetap lestari sekaligus menjadi kekuatan ekonomi nasional,” tutupnya.

