https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Ketua APPBI: Dalam 5–10 Tahun Batik Asli Bisa Hilang dari Pasaran, Puspa Nuswantara Jadi Alarm Keras Industri Batik

Ketua APPBI memperingatkan batik asli terancam punah. Puspa Nuswantara hadir untuk menjaga otentisitas batik Indonesia.

Pernyataan mengejutkan datang dari Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Komarudin Kudiya. Di tengah berbagai perayaan dan promosi batik yang terus berkembang, ia justru mengingatkan adanya ancaman serius terhadap keberlangsungan batik asli Indonesia.

Menurut Komar, jika kondisi yang terjadi saat ini terus berlanjut, batik tulis dan batik asli berpotensi mengalami kemunduran yang sangat serius dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Peringatan itu bukan sekadar opini pribadi. Komar mengaku melakukan pengamatan langsung ke sejumlah pusat perdagangan batik besar di Indonesia, mulai dari Pasar Baru Bandung hingga sentra-sentra batik di Cirebon dan daerah lainnya.

“Fenomenanya sama. Produk tekstil bercorak batik semakin mendominasi, sementara produksi batik asli terus menurun,” ujarnya dalam wawancara terkait penyelenggaraan Pameran Puspa Nuswantara.

Ketua APPBI memperingatkan batik asli terancam punah. Puspa Nuswantara hadir untuk menjaga otentisitas batik Indonesia.
Ketua APPBI memperingatkan batik asli terancam punah. Puspa Nuswantara hadir untuk menjaga otentisitas batik Indonesia.

Pakta Integritas yang Membuka Kenyataan

Kekhawatiran tersebut semakin menguat ketika APPBI mempersiapkan penyelenggaraan Pameran Puspa Nuswantara, sebuah pameran batik nasional yang untuk pertama kalinya digelar dengan konsep kurasi ketat.

Sejak awal, APPBI mengusung slogan:

“Asli batiknya, asli perajinnya, asli harganya.”

Konsep ini mewajibkan setiap peserta menandatangani pakta integritas bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan batik asli. Tidak hanya itu, APPBI juga menyiapkan kurator yang akan memeriksa produk peserta sebelum dan selama pameran berlangsung.

Bagi peserta yang kedapatan menjual produk nonbatik atau produk yang tidak sesuai deklarasi, panitia menyiapkan sanksi tegas berupa penarikan produk dari area pameran.

Namun justru dari aturan itulah fakta yang selama ini tersembunyi mulai terlihat.

“Banyak calon peserta akhirnya mundur,” ungkap Komar.

Menurutnya, sebagian pelaku usaha yang selama ini dikenal sebagai perajin batik ternyata tidak lagi memiliki stok batik tulis atau batik tradisional dalam jumlah memadai. Sebagian besar produk yang mereka pasarkan kini berupa tekstil bercorak batik atau produk berbasis printing.

Kondisi tersebut membuat target peserta yang semula diproyeksikan mencapai 140 stan hanya mampu terkumpul sekitar 100 peserta.

Batik Asli dan Batik Motif Batik Harus Dibedakan

Komar menegaskan bahwa APPBI tidak pernah menolak keberadaan tekstil bercorak batik atau produk printing. Menurutnya, semua jenis produk memiliki pasar masing-masing.

Yang menjadi persoalan adalah ketika produk nonbatik dipasarkan seolah-olah sebagai batik asli.

“Kalau printing, tulis printing. Kalau tekstil bercorak batik, tulis tekstil bercorak batik. Yang penting jujur,” katanya.

Menurut Komar, kejujuran pelabelan merupakan bentuk perlindungan terhadap konsumen sekaligus upaya menjaga marwah batik sebagai warisan budaya dunia.

Ia mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia didasarkan pada proses pembuatannya, yaitu teknik perintangan warna menggunakan malam atau lilin panas yang diaplikasikan secara manual.

Karena itu, tidak semua kain bermotif batik dapat disebut sebagai batik dalam pengertian budaya yang diakui dunia internasional.

Puspa Nuswantara sebagai Garda Terdepan

Di tengah situasi tersebut, APPBI memandang Puspa Nuswantara bukan sekadar pameran dagang.

Bagi Komar, pameran ini merupakan upaya nyata untuk menunjukkan bahwa masih ada perajin-perajin yang setia menjaga tradisi membatik secara autentik.

Masyarakat tidak hanya dapat membeli produk, tetapi juga bertemu langsung dengan para pembatik yang selama ini menjaga warisan budaya tersebut.

“Kalau tidak ada yang menjaga batik asli, siapa lagi?” tegasnya.

Pameran ini juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami perbedaan antara batik tulis, batik cap, dan tekstil bercorak batik yang banyak beredar di pasaran.

Desakan Regulasi kepada Pemerintah

Komar berharap penyelenggaraan Puspa Nuswantara dapat membuka mata pemerintah mengenai kondisi riil industri batik saat ini.

Menurutnya, sudah saatnya ada regulasi yang lebih tegas terkait pelabelan produk tekstil bercorak batik, baik di toko fisik maupun platform digital.

Ia mengusulkan agar setiap produk yang bukan batik asli wajib mencantumkan identitas yang jelas sehingga konsumen tidak tertipu.

Selain itu, APPBI juga mendorong penguatan Batik Mark Indonesia sebagai instrumen autentikasi produk batik nasional.

Menjaga Masa Depan Batik Indonesia

Selain melalui pameran, APPBI juga mendorong regenerasi pembatik melalui pendidikan sejak usia dini. Menurut Komar, membatik bukan hanya menghasilkan kain, tetapi juga mengajarkan nilai kesabaran, ketelitian, konsistensi, dan penghargaan terhadap proses.

Karena itu, ancaman terhadap batik asli bukan sekadar persoalan industri kreatif, melainkan juga menyangkut keberlanjutan warisan budaya bangsa.

Melalui Puspa Nuswantara, APPBI ingin mengirimkan pesan bahwa batik asli Indonesia masih hidup, masih dibuat oleh tangan-tangan terampil para perajin, dan masih layak diperjuangkan keberadaannya di tengah gempuran produk tekstil bermotif batik yang semakin mendominasi pasar.

Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8–12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.
Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8–12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kenali ornamen Batik Demak beserta filosofi tiga motif utamanya yang terinspirasi dari warisan budaya Masjid Agung Demak.

Ornamen Batik Demak: Makna Filosofis Motif Kori Surya Manunggal, Saka Bantala Adhi, dan Surya Buron Toyo

Telusuri sejarah Batik Tiga Negeri, mahakarya kolaborasi Lasem, Pekalongan, dan Solo yang kaya filosofi, budaya, dan warna.

Sejarah Batik Tiga Negeri: Mahakarya Kolaborasi Tiga Kota Batik di Pulau Jawa