Selama masa kolonial, berbagai unsur Barat masuk ke Nusantara. Sistem pendidikan modern, teknologi, transportasi, hukum, dan birokrasi berkembang pesat.
Perubahan tersebut menciptakan wajah baru masyarakat Jawa yang semakin terhubung dengan dunia internasional.

Adaptasi, Bukan Penyerapan Total
Denys Lombard menekankan bahwa pembaratan tidak pernah berlangsung secara mutlak. Masyarakat Jawa tidak sekadar menerima pengaruh Barat begitu saja.
Sebaliknya, berbagai unsur asing diadaptasi dan dipadukan dengan tradisi lokal. Hasilnya adalah bentuk kebudayaan baru yang memiliki ciri khas Indonesia.
Hal ini terlihat dalam bahasa, pendidikan, sistem pemerintahan, hingga kehidupan sosial sehari-hari.
Identitas yang Tetap Bertahan
Meskipun modernisasi berkembang pesat, nilai-nilai lokal tetap memiliki peran penting. Tradisi, agama, bahasa daerah, dan sistem sosial lama tidak hilang sepenuhnya.
Karena itu, sejarah Jawa tidak dapat dipahami hanya sebagai kisah kolonialisasi atau westernisasi. Sejarah Jawa adalah kisah dialog panjang antara pengaruh luar dan kemampuan masyarakat lokal untuk mempertahankan identitasnya.
Sumber: Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 1 – Batas-Batas Pembaratan (Gramedia Pustaka Utama).
