Ketika VOC menguasai Jayakarta pada awal abad ke-17, mereka membangun kota baru bernama Batavia. Kota ini kemudian menjadi pusat administrasi, perdagangan, dan militer Belanda di Asia.
Dari Batavia, VOC mengendalikan jaringan perdagangan yang membentang dari Afrika Selatan hingga Jepang. Berbagai komoditas penting diperdagangkan melalui kota ini.
Kota yang Penuh Kontras
Batavia sering disebut sebagai “Ratu Timur” karena kemegahan bangunannya. Kanal-kanal, benteng, dan gedung pemerintahan dibangun mengikuti model kota-kota di Belanda.
Namun di balik kemegahan tersebut, Batavia menghadapi berbagai persoalan serius. Penyakit tropis, sanitasi buruk, dan tingginya angka kematian membuat kota ini dikenal sebagai tempat yang berbahaya bagi orang Eropa.
Banyak pegawai VOC yang tidak mampu bertahan lama karena kondisi kesehatan yang buruk.
Warisan Batavia bagi Jakarta
Meskipun mengalami banyak perubahan, jejak Batavia masih dapat ditemukan di Jakarta saat ini. Tata ruang kota, kawasan pelabuhan, dan sejumlah bangunan bersejarah menjadi saksi perjalanan panjang kota tersebut.
Batavia bukan hanya simbol kolonialisme, tetapi juga titik awal lahirnya kota metropolitan terbesar di Indonesia.
Sumber: Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 1 – Batas-Batas Pembaratan.
Meta Deskripsi
Batavia berkembang sebagai pusat VOC di Asia sekaligus simbol kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.

