Universitas Muhammadiyah Bandung kembali menghidupkan ruang akademik melalui kegiatan bedah buku bertajuk “Estetika, Tradisi dan Teknologi: Pondasi Kriya Tekstil Fashion” pada 20 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pameran Kain dan Kebaya Ibu (KKI ke-3) yang berlangsung selama 20–23 Mei 2026 di ruang Selasar Gagas UMBandung.
Buku tersebut ditulis oleh Dr. Komarudin Kudiya bersama Dra. Saftiyaningsih Ken Atik sebagai kontribusi keilmuan bagi pengembangan pendidikan, penelitian, dan penciptaan karya di bidang kriya tekstil fashion.
Acara bedah buku berlangsung sekitar dua jam dan dihadiri Rektor UMBandung, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, beserta jajaran rektorat. Hadir pula akademisi, praktisi, organisasi budaya, dosen, mahasiswa, hingga pemerhati kriya tekstil dan wastra.



Turut hadir Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Yusuf, Ketua Umum Komunitas Cinta Berkain Indonesia Bandung Yeyen Komar, dosen Universitas Pendidikan Indonesia Dr. Bandi Sobandi, mahasiswa Kriya Tekstil Fashion UMBandung, mahasiswa Institut Teknologi Nasional Bandung, serta tamu undangan lainnya.
Kehadiran berbagai pihak menunjukkan buku tersebut dipandang bukan hanya sebagai karya akademik, tetapi juga jembatan antara dunia pendidikan, tradisi, praktik kriya, dan perkembangan teknologi. Buku ini hadir untuk menjawab kebutuhan mahasiswa dan dosen terhadap referensi yang sistematis, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan kriya tekstil fashion masa kini.
Dalam sesi pembedahan, Prof. Nanang Rizali memberikan apresiasi positif terhadap isi buku. Menurutnya, buku tersebut layak menjadi rujukan akademik, terutama bagi mahasiswa Program Studi Kriya Tekstil Fashion yang tengah menyusun skripsi maupun tugas akhir penciptaan karya.
Ia menilai buku tersebut mampu memberikan pondasi berpikir yang kuat dalam memahami hubungan antara estetika, tradisi, proses kreatif, dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan karya tekstil dan fashion.
Prof. Nanang juga menekankan pentingnya referensi yang tidak hanya membahas teknik atau produk, tetapi mampu membangun cara berpikir ilmiah dan kreatif mahasiswa. Melalui buku tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa karya kriya lahir melalui proses pengamatan, eksplorasi budaya, penguasaan material, hingga pertimbangan estetika yang matang.
Sementara itu, Dr. Ahmad Rifa’i menyebut buku ini sebagai “fardu a’in” bagi mahasiswa Kriya Tekstil Fashion. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya buku itu sebagai pegangan utama mahasiswa dalam membangun dasar keilmuan sebelum memasuki proses penciptaan karya, penelitian, maupun pengembangan desain.
Menurutnya, mahasiswa seni dan desain saat ini tidak cukup hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga perlu memahami teori, estetika, tradisi, serta perkembangan teknologi. Keempat unsur tersebut menjadi pembahasan utama dalam buku karya Komarudin Kudiya dan Ken Atik tersebut.
Menariknya, buku “Estetika, Tradisi dan Teknologi: Pondasi Kriya Tekstil Fashion” tidak diperjualbelikan secara komersial. Penulis membagikan buku itu secara gratis sebagai bentuk ilmu jariyah yang dapat dimanfaatkan mahasiswa, dosen, peneliti, dan masyarakat umum.
Pengunjung dapat mengunduh buku melalui pemindaian barcode yang tersedia pada poster di roll banner kegiatan. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen penulis dalam memperluas akses literasi akademik di bidang kriya tekstil fashion.
Kegiatan bedah buku berlangsung hangat dan komunikatif. Peserta tidak hanya mendengarkan pandangan para pembedah, tetapi juga memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya literatur dalam membangun kualitas karya akademik maupun karya penciptaan.
Secara keseluruhan, bedah buku ini menjadi momentum penting bagi UMBandung dalam memperkuat ekosistem akademik kriya tekstil fashion. Buku tersebut diharapkan mampu menjadi rujukan utama dan sumber inspirasi bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga memiliki konsep, nilai budaya, dan relevansi terhadap perkembangan zaman.

