Budaya maritim masyarakat pesisir Lampung kembali diangkat melalui karya busana batik kontemporer berbasis motif kain Tampan. Kain tradisional milik masyarakat Saibatin itu kini menjadi inspirasi dalam penciptaan fashion modern yang tetap mempertahankan filosofi budaya lokal.

Kain Tampan merupakan bagian dari kain Kapal khas Lampung yang identik dengan motif kapal sebagai simbol utama. Kain ini berasal dari masyarakat Saibatin yang tinggal di kawasan pesisir Lampung dan telah diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.
Dalam penelitian seni kriya yang diterbitkan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dijelaskan bahwa motif kapal memiliki makna mendalam bagi masyarakat Lampung. Pada masa lampau, kapal dipercaya sebagai simbol perjalanan roh manusia menuju alam baka.
Namun setelah masuknya pengaruh Islam, makna tersebut mengalami perubahan. Kapal kemudian dimaknai sebagai perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal dunia, yang menentukan kualitas kehidupan seseorang menuju akhirat.
Makna filosofis itulah yang kemudian menjadi dasar penciptaan busana kasual batik modern. Motif kapal diadaptasi ke dalam desain busana wanita dengan pendekatan estetika kontemporer tanpa menghilangkan simbol budaya aslinya.
Penciptaan karya dilakukan melalui proses eksplorasi budaya dengan observasi langsung di Museum Negeri Lampung “Ruwa Jurai” dan Museum Kekhatuan Semaka Kabupaten Tanggamus. Dari pengamatan tersebut ditemukan berbagai motif khas seperti rumah adat, manusia, pohon hayat, hewan laut, hingga bentuk geometris.
Motif-motif tersebut kemudian dikembangkan menjadi pola batik tulis pada busana kasual modern. Teknik batik tulis dipilih karena mampu mempertahankan detail visual dan karakter artistik khas kain Tampan.
Salah satu karya yang dihasilkan berjudul “Menepi”. Busana ini menggambarkan kapal yang sedang bersandar di tepian laut. Motif manusia, gajah, dan burung dipadukan secara harmonis untuk menciptakan kesan elegan sekaligus simbolik.
Karya lain berjudul “Berlayar” menggambarkan kapal yang tengah mengarungi lautan. Desain busana dibuat sederhana namun mewah melalui perpaduan crop top dan celana kulot dengan dominasi warna merah dan coklat tua.
Selain menghadirkan nilai estetika, busana juga dirancang dengan memperhatikan aspek kenyamanan. Penggunaan bahan katun primissima dipilih karena mampu menyerap keringat dan memberikan rasa nyaman bagi pemakai.
Pendekatan ergonomi menjadi salah satu unsur penting dalam proses penciptaan karya. Potongan pakaian dibuat longgar agar mudah digunakan untuk aktivitas sehari-hari, sehingga konsep budaya tradisional dapat lebih mudah diterima masyarakat modern.
Transformasi motif tradisional menjadi busana kontemporer dianggap sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal. Ketika warisan budaya dihadirkan dalam bentuk yang lebih relevan dengan gaya hidup masa kini, peluang pelestariannya menjadi semakin besar.
Karya berbasis kain Tampan ini menunjukkan bahwa budaya tradisional dapat berkembang tanpa kehilangan identitas aslinya. Motif kapal yang dahulu menjadi simbol spiritual masyarakat pesisir kini hadir sebagai inspirasi fashion modern yang sarat makna budaya.
Sumber Berita:
Jurnal “Motif Kain Tampan Lampung Sebagai Dasar Penciptaan Busana Kasual Batik” karya Anita Dewi, Program Studi Kriya ISI Yogyakarta Tahun 2022.

