Suasana Lobi Blok A Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Selasa (3/3/2026), tampak berbeda. Sebanyak 50 peserta bersiap mengikuti kegiatan Pengenalan Destinasi Wisata Religi 2026 yang secara resmi dilepas oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin.
Kegiatan yang diinisiasi Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sudin Parekraf) Jakarta Timur ini melibatkan anggota Tim Penggerak PKK Jakarta Timur serta Dharma Wanita Persatuan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta. Mereka tidak sekadar melakukan kunjungan, tetapi diajak memahami nilai sejarah dan spiritual yang terkandung dalam setiap destinasi.
Menyusuri Jejak Sejarah dan Spiritualitas
Dalam agenda tersebut, peserta mengunjungi sejumlah destinasi wisata religi bersejarah, di antaranya Masjid Tjia Kang Hoo, Masjid Agung At-Tin, Museum Bait Al-Qur’an, Masjid Istiqlal, serta ziarah ke Makam Pangeran Jayakarta.
Destinasi-destinasi tersebut bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai ruang pembelajaran sejarah dan cermin perjalanan sosial masyarakat Jakarta dari masa ke masa.
Menguatkan Nilai Edukatif Wisata Religi
Dalam sambutannya, Munjirin menegaskan bahwa pengenalan wisata religi merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan sekaligus menguatkan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang melekat pada situs-situs keagamaan di Jakarta.
Ia berharap para peserta dapat mengenal lebih dekat berbagai destinasi tersebut, sekaligus memahami perannya dalam membentuk identitas kota. Menurutnya, wisata religi memiliki dimensi edukatif yang kuat karena menyatukan aspek sejarah, kebudayaan, dan pembinaan spiritual dalam satu pengalaman perjalanan.
Menjadi Agen Informasi bagi Generasi Muda
Lebih jauh, Munjirin mendorong para peserta agar menjadi agen informasi di tengah masyarakat. Ia menilai pentingnya peran keluarga dan organisasi perempuan dalam menyebarkan pengetahuan, khususnya kepada generasi muda, bahwa Jakarta Timur memiliki destinasi wisata religi yang patut dikenang dan dijaga sebagai warisan sejarah.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman, apresiasi, serta minat masyarakat terhadap wisata religi sebagai bagian dari kekayaan destinasi pariwisata yang bernilai dan berkelanjutan.
Melalui langkah sederhana namun terarah ini, Jakarta Timur menegaskan komitmennya menjadikan wisata religi bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan makna.

