Motif Batik Weton Selasa Kliwon menghadirkan perpaduan dua unsur kosmologis yang kuat dalam tradisi Jawa: api dan ether. Selasa dimaknai sebagai api, sedangkan Kliwon merepresentasikan ether—unsur halus yang tak kasat mata namun diyakini memiliki daya keseimbangan.

Karya ini digarap oleh Nurohmad dengan pendekatan yang tidak lazim. Ia tidak menggunakan teknik batik tulis konvensional, melainkan memanfaatkan canting cap berbahan kertas. Seluruh komposisi motif merupakan hasil eksplorasi cap kertas—sebuah eksperimen kreatif yang lahir dari perjalanan Nurohmad yang sebelumnya berkarya di kriya kayu sebelum kemudian mendalami batik.
Dalam proses mengulik weton, Nurohmad menelusuri simbol-simbol dasar yang melekat pada Selasa dan Kliwon. Simbol Kliwon, menurutnya, memiliki akar visual yang sangat tua. Bahkan bentuknya dapat ditarik pada simbol-simbol klasik yang menyerupai pola geometris kuno. Dari penelusuran itu muncul bentuk yang disebut Trimino, yang dalam kajian tradisi memiliki keterkaitan dengan khazanah visual Cirebon.
Ketika runtutan simbol tersebut dipahami secara struktural, ia mengarah pada representasi Kliwon. Di sinilah interpretasi menjadi penting: simbol bukan sekadar ornamen, tetapi hasil pembacaan mendalam terhadap jejak sejarah dan kosmologi.
Unsur Selasa divisualisasikan melalui warna biru—seperti nyala api kompor yang stabil dan berkualitas baik. Api biru melambangkan energi yang terkendali dan matang. Dari bentuk Trimino muncul simbol kayu tangan, atau dikenal juga sebagai kayu patah tulang, yang dalam pemaknaan weton dikaitkan dengan kelahiran hari Selasa. Kayu tangan diibaratkan seperti pohon yang tumbuh di depan rumah—dekat, akrab, dan menjadi penanda kehidupan.
Di bagian lain, struktur motif mengingatkan pada pola tambal kanoman. Bukan sebagai motif isi, melainkan sebagai struktur komposisi. Dalam diskusi dengan kurator Abdul Syukur, ditegaskan bahwa tambal atau sekar jagat dapat dipahami sebagai struktur penyusun, bukan sekadar ornamen dekoratif. Dengan pendekatan itu, motif Selasa Kliwon ini mengakomodasi warisan tradisi dalam bentuk yang lebih konseptual.
Keseluruhan komposisi menghadirkan pohon bodhi sebagai simbol ether (Kliwon), kayu tangan sebagai lambang Selasa, warna biru sebagai api, serta abu-abu (grey) sebagai representasi Kliwon. Motif ini bukan hanya kain bermotif, melainkan tafsir visual atas perpaduan energi dan keseimbangan dalam siklus weton Jawa.

