Batik weton kembali menegaskan bahwa sehelai kain bukan sekadar busana, melainkan narasi hidup yang sarat makna. Melalui karya perajin batik Nurohmad, pemilik brand Batik Dongaji, motif Senin Kliwon tampil sebagai tafsir visual atas perpaduan hari dan pasaran dalam tradisi Jawa.

Motif ini disebut sebagai Batik Weton Senen Kliwon, yang diciptakan khusus dan sarat simbol. Menurut penuturan dalam perbincangan mengenai karya tersebut bersama kurator batik Abdul Syukur, unsur Kliwon dimaknai sebagai keseimbangan. Ia dihadirkan melalui simbol pohon bodhi yang merepresentasikan keteduhan sekaligus unsur ether—unsur halus dalam kosmologi yang melengkapi api, tanah, air, dan udara.
Sementara itu, unsur Senin divisualisasikan melalui simbol bulan. Bentuk bulan ini kemudian dieksplorasi dan ditafsirkan ulang melalui pendekatan motif tradisional, termasuk kemiripan dengan pola kawung. Dari sinilah dialog kreatif bermula: kawung yang selama ini dikenal sebagai representasi buah aren atau kulang-kaling, ternyata juga bisa dimaknai sebagai simbol bulan. Tafsir ini menunjukkan bahwa motif batik tidak pernah tunggal; ia lentur, terbuka, dan sangat bergantung pada pembacaan pembuat maupun penikmatnya.
Dalam komposisinya, tampak pula burung rangkong—atau enggang dalam penyebutan masyarakat Kalimantan—yang memperkuat dimensi fauna dalam karya ini. Kehadirannya memberi aksen filosofis tentang keluhuran dan penjaga keseimbangan alam.
Dari sisi warna, motif Senin Kliwon memiliki karakter yang khas. Warna Senin diwakili oleh putih dan kuning, yang dapat berkembang hingga nuansa monokrom terang. Sedangkan Kliwon direpresentasikan melalui hitam dan abu-abu (grey), menegaskan sisi teduh dan dalam. Perpaduan ini menciptakan harmoni visual antara terang dan gelap, antara energi dan keseimbangan.
Melalui Batik Weton Senin Kliwon, Nurohmad menunjukkan bahwa unsur-unsur weton dapat diolah, di-create, dan diinterpretasikan secara personal tanpa kehilangan akar tradisinya. Setiap detail motif memuat lapisan makna—dari bulan, pohon bodhi, hingga burung rangkong—yang menjadikan kain ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya filosofi.

