https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Membaca Weton dalam Motif Batik: Tafsir Simbol dan Identitas Diri (2)

Babaran Batik Weton membaca motif batik melalui konsep waktu Jawa, mengaitkan identitas diri dan kosmologi tradisi.

Dalam sebuah diskusi yang hangat dan reflektif, Nur Rahmat mengajak peserta melihat batik dari sudut yang berbeda: bukan sekadar kain bermotif, melainkan medium pembacaan diri dan semesta. Dalam kosmologi Jawa, manusia tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari keteraturan alam raya—mikrokosmos yang terhubung dengan makrokosmos.

Ia menyinggung gagasan bahwa dalam diri manusia terdapat potensi kesempurnaan, yang kerap dimisalkan sebagai sifat-sifat luhur Nabi Muhammad. Bukan dalam pengertian mistik, melainkan sebagai kualitas kemanusiaan yang harus disadari dan diolah. Dari titik inilah pembahasan weton menjadi relevan.



Weton, dalam tradisi Jawa, merupakan perpaduan antara Pancawara—Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon—dan Saptawara, yakni Senin hingga Minggu. Sistem tujuh hari mengikuti peredaran matahari (Masehi), sedangkan lima hari pasaran berakar pada tradisi Jawa berbasis lunar (Saka). Kombinasi keduanya melahirkan 35 kemungkinan weton, masing-masing memiliki karakter simbolik tersendiri.

Bagi Nurohmad, weton bukan sekadar hitungan hari lahir. Ia adalah sistem simbol yang memuat unsur alam, flora, fauna, warna, angka, hingga arah mata angin. Sistem ini dapat ditelusuri dalam literatur tradisional seperti Betal Jemur maupun pembacaan pawukon.

Ia lalu menunjukkan bagaimana sistem tersebut diterjemahkan menjadi motif batik.

Pada weton Senin Pahing, misalnya, unsur-unsurnya mencakup api, bulan, kayu putih, burung wangan, serta warna putih, kuning, dan merah. Unsur-unsur ini kemudian diramu menjadi motif bertajuk Madep Lakuning Lintang. Bentuk visualnya tidak harus literal, tetapi esensi simboliknya tetap dijaga.

Pada karya Senin Kliwon, simbol bulan dipadukan dengan konsep pancer atau pusat diri. Flora pohon bodhi dan burung rangkong turut hadir, dengan warna putih, kuning, hitam, dan abu. Bentuk bulan bahkan dapat dibaca ulang melalui ragam hias kawung—membuktikan bahwa simbol lama dapat dihidupkan kembali dalam konteks baru.

Eksplorasi berlanjut pada Selasa Wage dan Selasa Kliwon. Api biru, simbol bumi melalui meru, bunga telase, hingga naga Anantaboga menjadi elemen penyusun. Menariknya, Nur Rahmat tidak selalu menggunakan canting tradisional. Ia mengembangkan teknik cap berbahan kertas sebagai medium ekspresi, mempertemukan tradisi dan inovasi.

Pada Kamis Legi, simbol halilintar diterjemahkan secara ornamental dengan merujuk pada pintu bledeg Masjid Demak. Jumat Kliwon menghadirkan simbol bintang (Venus), pohon beringin, dan keseimbangan unsur alam, dengan dominasi warna hitam dan putih. Sementara Sabtu Pon dan Minggu Pahing memadukan air, matahari, harimau, bunga bidara, hingga angka simbolik sembilan.

Dari seluruh contoh tersebut, tampak bahwa setiap weton memiliki struktur simbolik yang utuh. Namun Nur Rahmat menegaskan: bentuk tidaklah mutlak. Kreativitas tetap terbuka, selama akar simboliknya tidak tercerabut.

Batik, dalam pandangan ini, bukanlah produk visual yang lahir tanpa kesadaran. Ia adalah perwujudan nilai, tafsir, dan maksud. Membaca weton dalam batik bukanlah praktik klenik, melainkan upaya rasional memahami sistem makna budaya.

Di tengah arus modernitas, pendekatan ini menjadi cara untuk menghidupkan kembali kedalaman batik—sebagai identitas, refleksi diri, sekaligus warisan pengetahuan leluhur.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Babaran Batik Weton membaca motif batik melalui konsep waktu Jawa, mengaitkan identitas diri dan kosmologi tradisi.

Babaran Batik Weton: Membaca Identitas Diri dalam Motif (1)

Heri Kismo Rusimo, Ketua Paguyuban Perajin dan Pengusaha Batik Cirebon (P3BC)

Ini Penjelasan Batik Waleran Oleh Ketua P3BC Heri Kismo Rusimo