Batik Lasem bukan sekadar kain bermotif indah. Ia adalah hasil perjalanan panjang lintas generasi, lintas etnis, dan lintas kebijakan. Dalam kurun waktu 22 tahun, sejak 1998 hingga 2020, batik tulis Lasem Kabupaten Rembang mengalami kebangkitan signifikan—bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses pembelajaran, pendampingan, dan kolaborasi yang konsisten.
Peran Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) menjadi salah satu faktor kunci dalam perjalanan ini. APPBI tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya perajin dan pengusaha batik, tetapi juga berperan aktif menghadirkan data, pelaku sejarah, serta praktik nyata kriya batik yang otentik. Pendiri dan pengurus APPBI adalah para praktisi, bukan sekadar penutur cerita, sehingga narasi batik yang disampaikan berangkat dari pengalaman lapangan.
Awal Kebangkitan: 1998–2006
Titik balik batik Lasem bermula pada 1998, saat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah mempertemukan perajin Lasem dengan tokoh batik Pekalongan, H. Dudung Alie Syahbana. Pertemuan di Kecamatan Pancur itu menghasilkan kesadaran bersama: batik Lasem perlu diinventarisasi, diidentifikasi, dan dikembangkan secara serius.
Kesadaran ini berlanjut dengan pelatihan intensif pada 2006. Sebanyak 10 perajin batik Lasem dikirim ke Pekalongan untuk belajar langsung tentang batik secara menyeluruh—mulai dari sejarah batik Indonesia, desain motif, pembuatan malam, teknik pewarnaan Indigosol, hingga strategi pemasaran nasional. Mereka tinggal dan belajar langsung di kediaman H. Dudung Alie Syahbana, didampingi pula oleh tokoh batik Drs. Sapuan serta praktisi lainnya.
Pada tahun yang sama, Koperasi Batik Lasem resmi didirikan. Koperasi ini menjadi tulang punggung organisasi perajin batik di Kecamatan Lasem, sekaligus ruang berbagi pengetahuan dan solidaritas produksi.
Kualitas Naik, Pasar Terbuka: 2008–2014
Hasil pelatihan mulai terlihat nyata. Perajin Lasem tidak lagi bergantung pada satu jenis pewarna sintetis, tetapi mampu mengombinasikan Naphtol dan Indigosol secara lebih matang. Kualitas warna, ketahanan kain, dan estetika motif mengalami peningkatan signifikan.
Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, perbankan nasional, hingga BUMN membuka akses promosi dan pameran ke Jakarta. Sejumlah perajin batik Lasem bahkan menerima penghargaan Upakarti dari Kementerian Perindustrian, menandai pengakuan nasional atas kualitas kriya batik Lasem.
Sinergi Daerah dan Kebijakan: 2017–2020
Pada 2017, Pemerintah Kabupaten Rembang mengambil langkah strategis dengan mewajibkan pemakaian batik tulis Lasem bagi ASN satu hari dalam sepekan. Ribuan lembar batik Lasem terserap, memberi dampak langsung bagi perajin kecil.
Puncaknya terjadi pada 2020, ketika APPBI melakukan kunjungan kerja dan bertemu langsung dengan Bupati Rembang. Hasilnya adalah komitmen pengalokasian anggaran untuk Pasar Batik Lasem dan pengembangan Destinasi Wisata Batik Lasem yang terintegrasi.
Harmoni Sosial sebagai Modal Budaya
Keunikan Lasem tidak hanya terletak pada batiknya, tetapi juga pada nilai hidup masyarakatnya. Jawa dan Tionghoa hidup berdampingan secara harmonis, berbagi sejarah perjuangan dan pengalaman kolektif. Kolaborasi lintas etnis ini tercermin pula dalam produksi batik—berbagi resep, teknik, dan ide tanpa sekat.
Tantangan dan Harapan
Salah satu misteri terbesar batik Lasem hingga kini adalah warna merah alami legendaris yang rumusnya belum berhasil ditemukan kembali. Tantangan ini justru menjadi peluang riset dan inovasi di masa depan.
APPBI berharap pembinaan berkelanjutan, pelatihan teknis, pameran nasional, perlindungan HAKI motif, serta kebijakan afirmatif daerah terus diperkuat. Dengan demikian, batik Lasem tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi tumbuh sebagai kekuatan ekonomi dan identitas budaya nasional.
Artikel ini ditulis oleh: Komarudin Kudiya

