Pameran Puspa Nuswantara yang digelar di Pendopo Paku Alaman, Yogyakarta, pada 22 November 2025, dibuka dengan sambutan hangat dari Gita Kartasasmita. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa perhelatan ini bukan sekadar pameran batik Indonesia, melainkan sebuah ruang pemersatu bagi para perajin, pelaku usaha, dan pecinta batik dari seluruh Nusantara. Dengan menghadirkan karya-karya terbaik dari berbagai daerah, acara ini menjadi wujud penghormatan terhadap kekayaan warisan budaya Indonesia sekaligus bentuk nyata kolaborasi lintas komunitas batik.
Menurutnya, Indonesia memiliki anugerah besar berupa keragaman batik yang lahir dari perbedaan teknik, warna, filosofi, hingga tradisi daerah. Keberagaman inilah yang membuat batik Indonesia diakui oleh dunia sebagai warisan budaya yang unik dan mendalam. Di Puspa Nuswantara, ragam ekspresi itu bertemu dan saling melengkapi, membentuk harmoni visual dan budaya yang menunjukkan betapa majunya ekosistem perbatikan nasional. Dalam sambutannya, Gita juga mengucapkan selamat atas ditetapkannya Batik Tulis Lasem sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 12 November 2019—sebuah momentum penting dalam menjaga nilai autentik batik daerah agar tidak tergerus perubahan zaman.
Ia menekankan bahwa perlindungan terhadap warisan batik tidak berhenti pada pengakuan formal. Perlu keberlanjutan upaya dalam menjaga kualitas, keaslian, serta kesejahteraan para perajin. Oleh sebab itu, APPBI terus berkomitmen mendukung proses penetapan warisan budaya dari berbagai daerah lain di Indonesia. Baginya, setiap daerah memiliki kisah dan kejeniusannya sendiri, dan semuanya layak mendapatkan ruang dan pengakuan yang setara.
Dalam sambutannya, Gita juga menyampaikan kebanggaannya terhadap kemunculan komunitas batik muda Indonesia. Generasi ini, menurutnya, membawa perspektif baru yang segar dan kreatif bagi perkembangan batik Nusantara. Keberanian mereka dalam bereksperimen sekaligus menjaga akar tradisi menjadi bukti bahwa warisan batik sedang berada di tangan yang tepat. Regenerasi seperti ini menjadi kunci agar batik terus hidup, relevan, dan dicintai lintas generasi.
Gita kemudian mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat dirinya akan mewakili Indonesia untuk menghadiri pertemuan internasional yang dihadiri sekitar 20 komunitas warisan budaya dunia. Keikutsertaan ini bukan hanya membawa nama batik, tetapi juga suara Indonesia dalam upaya global menjaga seni dan budaya tradisional. Ia memohon doa dan dukungan, agar langkah Indonesia semakin kuat di mata dunia dan semakin mampu memperjuangkan posisi batik sebagai warisan budaya yang layak dihormati.
Menutup sambutannya, Gita menyampaikan apresiasi penuh kepada anggota APPBI dan seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan pameran ini. Baginya, Puspa Nuswantara bukan hanya sebuah acara, tetapi energi positif yang menyatukan semangat pelestarian, kebanggaan budaya, dan cita-cita besar untuk masa depan perbatikan nasional. Ia berharap pameran ini dapat semakin memperkuat kecintaan masyarakat terhadap batik, sekaligus membuka ruang-ruang baru bagi perajin untuk berkembang dan berdaya.

