https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Serumpun Bunga Lily Sejuta Makna: Estetika Batik yang Menjelma Doa

Narasi Abdul Syukur tentang estetika batik “Serumpun Bunga Lily Sejuta Makna” karya Komarudin Kudiya dalam batik masterpice APPBI.

Ditulis oleh: Abdul Syukur

Dalam kesunyian ruang kreatif yang dikelilingi warna dan garis, Komarudin Kudiya mempersembahkan sebuah karya yang melampaui batas estetika batik. Dengan judul “Serumpun Bunga Lily Sejuta Makna”, karya ini diciptakan pada tahun 2025 menggunakan teknik batik tulis di atas kain sutra Jacquard berukuran 270 x 115 cm. Sapuan warna, ritme titik, dan harmoni motifnya menjadikan karya ini bukan sekadar visual, melainkan ayat-ayat keindahan yang ditorehkan pada selembar sutra.

Bandung, Kota Kembang, dan Ingatan- ingatan yang Melekat

Meski lahir dari tradisi batik Cirebon, Komarudin telah lama membangun perjalanan estetikanya di Bandung. Kota yang dijuluki Paris van Java ini, dengan segala keindahan bunga dan nuansa romannya, menjadi inspirasi yang ia rajut ke dalam karya. Dalam batik ini, ia seperti ingin menangkap kembali memori-memori tentang “Kota Kembang”—tempat di mana warna dan wangi bunga tak pernah benar-benar hilang dari ingatan warganya.

Bagi Komarudin, mengeja kembali nilai-nilai kearifan lokal Bandung bukan hanya tentang visual, tetapi juga tentang rasa. Setiap pola bunga yang ia hadirkan adalah bentuk penghormatan kepada kota yang telah menyuburkan perjalanan kreatifnya.

Teknik Tulis yang Menari di Atas Sutra Jacquard

Karya ini menjadi istimewa bukan hanya karena konsepnya, tetapi juga karena teknik pewarnaan usap dan kuas yang dipadukan dengan batik tulis klasik. Teknik tersebut menghadirkan nuansa lukisan realis pada permukaan kain sutra Jacquard, menciptakan kedalaman visual yang lembut namun memikat.

Warna merah yang mendominasi latar bukan sekadar pilihan artistik, tetapi energi. Ia adalah semangat yang menyala, keberanian yang menyembur, dan kehidupan yang tengah berkisah. Di atasnya, motif tanahan bergerak sebagai ritme latar yang memperkaya struktur visual tanpa mencuri perhatian dari motif utama.

Lily: Simbol Kemurnian, Kasih, dan Keteguhan

Di tengah kain, berdampingan satu sama lain, tersusun motif ceplokan bunga lily—setiap kelopaknya ditorehkan dengan kelembutan yang nyaris hening. Di bagian kanan dan kiri karya, buketan lily mengapit komposisi utama, seolah menjaga kesucian makna dari keseluruhan karya.

Lily, dalam banyak tradisi, adalah simbol kemurnian, keteguhan, dan kasih yang abadi. Namun di tangan Komarudin, makna itu meluas. Kelopak-kelopaknya yang lembut tampak seolah tengah berzikir, memantulkan nilai spiritual yang tumbuh dari budaya lokal dan pengalaman religius sang seniman. Lily menjadi lambang kesucian hati, doa yang berulang, dan harapan akan persatuan dalam keberagaman.

Setiap garis yang halus, setiap titik yang merapat, adalah bahasa perasaan yang berbicara tanpa suara.

Merah sebagai Energi Kehidupan dan Kebangsaan

Warna merah adalah darah kehidupan. Ia adalah semangat yang tak pernah padam. Dalam karya ini, merah bukan sekadar latar, melainkan denyut jantung visual. Ia menyatukan motif, memperkuat narasi, dan menegaskan karakter karya: berani, teduh, dan penuh cinta.

Dalam konteks budaya, merah seringkali menjadi lambang keteguhan dan kebangsaan. Di tangan Komarudin, merah itu menyatu dengan bunga lily untuk menghadirkan pesan yang lebih besar: bahwa keindahan tak hanya hidup dalam kelembutan, tetapi juga dalam keberanian untuk menjaga tradisi tetap tumbuh di tengah perubahan zaman.

Batik sebagai Bahasa Universal

Kekuatan karya ini terletak pada kemampuannya berbicara kepada siapa pun, tanpa batas latar belakang budaya. Lily menjadi bahasa universal tentang cinta dan kemurnian; merah menjadi bahasa tentang energi dan perjuangan. Komarudin menjahit keduanya ke dalam satu kesatuan yang mengalir, menjadikannya karya yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga menggetarkan jiwa.

“Serumpun Bunga Lily Sejuta Makna” adalah persembahan yang lahir dari ketulusan. Ia adalah cermin dari bagaimana batik bisa menggabungkan keanggunan, spiritualitas, dan semangat kebangsaan dalam satu karya yang utuh. Dengan karya ini, Komarudin Kudiya menegaskan bahwa batik bukan hanya tradisi tua—ia adalah ruang kreativitas yang terus hidup, bertumbuh, dan menghubungkan manusia dengan akarnya, sekaligus dengan masa depan. Jika batik adalah bahasa, maka karya ini adalah syairnya, lembut dan kuat dalam satu tarikan napas.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Narasi Abdul Syukur tentang kisah batik “GALIHPADA” karya Drs. Sapuan, eksplorasi batin–alam yang diwujudkan dalam simbol tujuh tataran kehidupan.

GALIHPADA: Kisah Batik tentang Alam, Batin, dan Tujuh Tataran Kehidupan

Manuk Kinasih, presentasi batik perlambang cinta dan ketulusan

Manuk Kinasih: Presentasi Batik Sebagai Ketulusan yang Menjelma Keindahan