Pekalongan – Ada pemandangan tak biasa dalam peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 di Kabupaten Pekalongan. Jika biasanya upacara bendera digelar di lapangan desa, sekolah, atau kantor pemerintahan, kali ini suasana berbeda hadir di Omah Panggung Galeri Batik Failasuf, kawasan Wiradesa.
Dengan khidmat, para pengrajin batik, pekerja, pecinta batik, hingga warga sekitar berdiri rapi mengikuti jalannya upacara. Layaknya upacara resmi, pasukan pengibar bendera dan petugas protokol tampil penuh keseriusan. Bedanya, dress code peserta terasa unik: sebagian mengenakan batik khas Pekalongan, sementara lainnya memakai busana merah putih bernuansa kemerdekaan.
Batik dan Nasionalisme
Bertindak sebagai inspektur upacara adalah Ahmad Failasuf, perajin batik sekaligus pemilik Batik Failasuf. Dalam amanatnya, ia menegaskan bahwa batik bukan sekadar kain bermotif indah, tetapi juga warisan leluhur yang patut dihormati sebagaimana perjuangan para pahlawan bangsa.
“Batik adalah peninggalan para pendahulu, bagian dari jati diri bangsa. Karena itu, sebagai pengrajin batik, kita juga wajib menjaga semangat nasionalisme. Menggelar upacara bendera ini adalah bentuk penghormatan kami, pembatik, terhadap kemerdekaan Indonesia,” ujar Ahmad Failasuf.
Merah Putih di Tengah Malam dan Canting
Suasana semakin syahdu ketika bendera Merah Putih perlahan naik ke tiang, diiringi lantunan lagu kebangsaan. Para pembatik yang sehari-hari akrab dengan malam dan canting, kali ini tampak begitu bersemangat memberikan hormat kepada Sang Saka. Lagu-lagu perjuangan pun menggema, menambah nuansa haru dan kebanggaan.
Ahmad Failasuf berharap tradisi unik ini bisa terus berlanjut setiap tahun, bahkan melibatkan lebih banyak peserta dari berbagai kalangan.
“Kami ingin membuktikan, meski kami pembatik, kami tetap nasionalis. Semoga ke depan lebih banyak pengrajin, pecinta batik, dan masyarakat yang ikut serta,” tuturnya.
Pekalongan, Kota Batik dan Nasionalisme Sebagai kota batik, Pekalongan tidak hanya menjaga kain tradisi tetap hidup, tetapi juga membuktikan bahwa cinta tanah air dapat diwujudkan dengan cara khas dan membumi. Di tangan para pengrajin, batik bukan hanya karya budaya, melainkan juga simbol semangat kemerdekaan yang terus dijaga lintas generasi.

