Batik selama ini kerap dipandang sebagai produk budaya yang identik dengan perdagangan dan transaksi ekonomi. Di berbagai pameran, kain-kain batik biasanya ditampilkan dalam jumlah besar sebagai komoditas yang siap dipasarkan. Namun, pendekatan berbeda dihadirkan oleh Pameran Puspa Nuswantara 2026 yang akan berlangsung di JICC Senayan, Jakarta, pada 8–12 Juli 2026.
Pameran yang digagas oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) ini membawa semangat baru dalam memperkenalkan batik kepada publik. Tidak sekadar menjadi ruang jual beli, Puspa Nuswantara ingin mengangkat batik sebagai karya seni yang memiliki nilai estetika, filosofis, dan budaya yang tinggi.
Kurator sekaligus penggagas Pameran Puspa Nuswantara, Abdul Syukur, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari penyelenggaraan pameran induk Puspa Nuswantara di Gedung Kepatihan Puro Pakualaman, Yogyakarta.
“Puspa Nuswantara sejak awal tidak dilatarbelakangi semangat pasar seperti pameran batik pada umumnya. Kami ingin menampilkan marwah batik dan menempatkannya dalam khazanah seni rupa yang lebih luas,” ujar Abdul Syukur.
Menurutnya, seorang pembatik sejatinya memiliki posisi yang setara dengan perupa atau seniman. Perbedaannya hanya terletak pada medium dan teknik yang digunakan. Karena itu, karya batik layak dipresentasikan seperti karya seni lainnya.
Dalam pameran perdana di Yogyakarta, Abdul Syukur menerapkan konsep kuratorial yang berbeda dari kebanyakan pameran batik. Ia tidak meminta peserta membawa puluhan hingga ratusan lembar kain. Sebaliknya, yang diutamakan adalah kualitas karya.
“Saya ingin menunjukkan bahwa pameran batik tidak harus bergunung-gunung kain. Yang ditampilkan bukan kuantitas produksi, melainkan kualitas karya batik itu sendiri,” katanya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap kebiasaan penyelenggaraan pameran batik yang sering kali lebih menonjolkan jumlah produk daripada kualitas artistiknya. Menurut Abdul Syukur, pendekatan seperti itu justru menyulitkan perajin kecil untuk berpartisipasi karena membutuhkan modal besar.
Ia menilai pameran harus menjadi ruang yang inklusif bagi seluruh pelaku batik, termasuk para pembatik skala kecil dan menengah yang selama ini berada di balik layar industri batik nasional.
Selain aspek kuratorial, perhatian besar juga diberikan pada tata pamer atau display karya. Abdul Syukur bahkan terlibat langsung dalam penataan ruang pamer karena meyakini bahwa penyajian karya menjadi bagian penting dalam membangun apresiasi publik terhadap batik.
“Display karya batik itu sangat penting. Saya ingin publik melihat batik sebagai karya yang layak dipresentasikan secara profesional dan artistik,” ujarnya.
Pendekatan tersebut ternyata mendapat respons positif dari pengurus APPBI maupun para pembatik yang terlibat. Mereka melihat bahwa pameran apresiasi tidak berarti mengabaikan aspek ekonomi.
“Bukan berarti apresiasi itu tidak ada ekonomi. Justru bentuk ekonominya berbeda. Saya sedang menggeser cara pandang agar batik masuk dalam perspektif seni rupa yang lebih besar,” jelas Abdul Syukur.
Semangat itulah yang kini dibawa ke Jakarta melalui Puspa Nuswantara 2026. Dengan ruang yang lebih luas dan audiens yang lebih besar, pameran ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat posisi batik sebagai identitas budaya bangsa sekaligus karya seni yang memiliki nilai tinggi.
Di tengah tantangan ekonomi yang dirasakan industri batik nasional, Abdul Syukur percaya bahwa apresiasi terhadap kualitas karya dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat keberlanjutan ekosistem batik Indonesia.
“Yang kami perjuangkan adalah bagaimana batik tetap eksis. Tidak hanya sebagai produk ekonomi, tetapi juga sebagai karya budaya yang membanggakan Indonesia,” tuturnya.


