https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Jelang Pameran Puspa Nuswantara APPBI

Pameran Puspa Nuswantara APPBI menghadirkan kerja kolektif penuh dedikasi, dari penataan karya hingga kuratorial batik masterpiece Indonesia.

Oleh: Komarudin Kudiya

Kamis siang, pukul 13.24 WIB, Kereta Api Argo Wilis perlahan memasuki Stasiun Tugu Yogyakarta. Udara hangat khas Yogya menyambut kedatangan kami, namun semangat yang kami bawa jauh lebih hangat dari cuaca hari itu. Perjalanan ini bukan perjalanan biasa; ini adalah bagian dari persiapan penting menuju perhelatan besar: Pameran Puspa Nuswantara, sebuah gelaran yang diselenggarakan APPBI untuk menampilkan batik masterpiece dari berbagai daerah di Indonesia.

Begitu kereta berhenti sempurna, kami turun dan langsung menuju area kargo. Dua dus besar berisi besi-besi stand caption sudah menunggu untuk diambil. Besi-besi ini merupakan elemen penting dalam pameran—komponen yang akan menopang narasi, informasi, dan konteks visual bagi tiap karya batik. Sehari sebelumnya, peralatan ini telah dikirim dari Bandung, disusun rapi untuk memastikan kesiapan teknis pameran tanpa cela.

Setelah pengambilan barang selesai, kami bergerak menuju Gedung Kepatihan Pakualaman, lokasi pameran sekaligus salah satu bangunan bersejarah yang lekat dengan napas budaya Yogyakarta. Namun sebelum itu, kami singgah sejenak di Hotel Puri Pangeran di Jalan Masjid No. 7, hanya beberapa langkah dari lokasi acara. Suasana hotel terasa teduh dan menenangkan. Pohon-pohon besar, rerumputan yang terawat, dan lorong-lorong rindang memberikan ruang hening sebelum kami memasuki padatnya agenda persiapan.

Sesampainya di Gedung Kepatihan, suasana kerja sudah terasa. Dua rekan pengurus APPBI, Mas Agus Purwanto dan Mas Abdul Syukur, sudah sejak pagi menata partisi besar untuk display karya-karya batik masterpiece. Ruangan yang tadinya kosong mulai berubah bentuk—dinding-dinding putih berdiri tegak, jalur alur kunjungan mulai terbaca, dan ruangan pamer perlahan menemukan identitasnya. Di titik ini, kami merasa pameran tidak lagi sekadar rencana, tetapi mulai hidup di depan mata.

Menjelang Magrib, tim berkumpul kembali untuk melanjutkan proses paling menantang sekaligus memuaskan: pengukuran lembaran-lembaran batik yang akan dipamerkan. Setiap kain harus diukur secara presisi, baik posisi horizontal maupun vertikal, demi memastikan karya tampil dengan komposisi terbaik. Tidak ada ruang bagi kesalahan kecil—setiap batik membawa karakter unik, dimensi berbeda, serta jiwa yang harus ditampilkan dengan penuh penghormatan. Diskusi pun mengalir panjang tentang teknik display, estetika ruang, hingga standar kenyamanan pandang bagi pengunjung.

Di tengah kesibukan teknis, datanglah Mbak Nita dengan beberapa cangkir kopi panas, wedang ronde dari kafe Tugu Lor, serta kudapan hangat—bitter bolen, lumpia, hingga bala-bala jagung yang menggugah selera. Seolah menjadi penyiram energi, suguhan ini mencairkan suasana. Kami menikmati kudapan sambil melanjutkan diskusi mengenai visi besar APPBI dan arah kegiatan di masa depan.

Obrolan semakin dalam ketika Mas Abdul Syukur mulai menjelaskan kaidah penting dalam display batik. Baginya, pameran batik bukan sekadar memajang kain, tetapi merupakan seni handling—perpaduan antara ketelitian teknik, estetika ruang, dan rasa hormat terhadap karya perajin. Karena itulah, APPBI memiliki standar khusus. Jarum pentul, paku, atau double tape dilarang digunakan. Semua itu berpotensi merusak serat atau motif kain. Sebagai gantinya, magnet digunakan sebagai media penyangga—metode yang aman, elegan, dan tidak meninggalkan jejak pada kain.

Mas Syukur juga mengingatkan pentingnya sarung tangan. Kain batik masterpiece sangat sensitif terhadap minyak alami kulit, keringat, atau kelembapan tangan. Dengan sarung tangan, bukan hanya kain terlindungi, tetapi profesionalisme dan etika kerja juga terlihat nyata. Setiap sentuhan menjadi bentuk penghormatan kepada karya seni yang dikerjakan dengan kesungguhan hati oleh para perajin.

Pada malam itu pula, APPBI memaparkan konsep kuratorial yang telah disiapkan untuk pameran Puspa Nuswantara. Kuratorial bukan sekadar teks narasi, melainkan pendekatan yang menyeluruh dalam memaknai batik sebagai entitas budaya. Karya tidak hanya dipajang sebagai objek visual, tetapi dihadirkan sebagai perjalanan kreatif—mengandung nilai sejarah, filosofi, teknik, serta identitas. Kurator berperan sebagai pemandu, menjembatani pengunjung dengan makna mendalam di balik tiap motif, warna, dan proses penciptaan.

Seiring berjalannya malam, ruang pamer berubah menjadi ruang dialog: antara kurator, karya, perajin, dan kami yang bekerja menyiapkan segalanya. Penempatan karya berdasarkan tema dibahas seksama, begitu pula alur cerita visual yang diharapkan mengajak pengunjung menelusuri perjalanan batik dari awal hingga kini. Bahkan, pengaturan cahaya pun diperhitungkan—agar setiap kain “berbicara” dengan cara paling memukau.

Di sela kerja fisik dan diskusi teknis, kami membicarakan misi besar APPBI. Organisasi ini bukan hanya wadah, tetapi ingin menjadi lokomotif bagi pelestarian batik nasional. Program pendidikan, regenerasi perajin muda, diplomasi budaya, hingga keberlanjutan lingkungan dalam industri batik menjadi fokus percakapan malam itu. Rasanya, pameran ini bukan sekadar acara, tetapi bagian dari gerakan besar yang memiliki visi panjang.

Malam kian larut, namun pekerjaan belum selesai. Justru di sinilah nilai sesungguhnya terlihat: persiapan yang dijalani dengan cinta, disiplin, dan dedikasi. Puspa Nuswantara bukan sekadar pameran; ia adalah panggung penghormatan bagi para perajin, ruang belajar bagi publik, dan pengingat bahwa batik Indonesia adalah mahakarya budaya yang pantas ditampilkan dengan standar terbaik. Hari itu menjadi awal dari rangkaian panjang yang akan menghidupkan kembali semangat batik dalam harmoni Nusantara. Dan kami—meski hanya bagian kecil—berada di tengah perjalanan besar itu. Sebuah perjalanan yang indah, mengalir dari tangan perajin hingga menyapa mata dunia.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Majalengka: sejarah, motif Gedong Gincu & Kota Angin, pengrajin, krisis regenerasi, dan langkah pelestarian komunitas. & promosi.

Batik Majalengka: Wastra Berjati Diri Angin dan Mangga

Abdul Syukur, pembatik muda, berjuang menjaga makna batik sebagai warisan budaya penuh filosofi di tengah arus pasar yang instan.

PUSPA NUSWANTARA: Keberagaman Batik Indonesia dan Upaya Menemukan Kembali Akar Seninya