Taipei — Peringatan Hari Kartini tidak hanya berlangsung di Indonesia, tetapi juga menggema hingga mancanegara. Di Taiwan, semangat emansipasi dan pelestarian budaya diwujudkan melalui kegiatan kelas membatik tradisional yang digelar oleh Kantor Layanan Hualien dari Badan Imigrasi Nasional, Selasa (21/4).
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara nilai sejarah, budaya, dan pengalaman lintas negara. Membatik tidak sekadar diajarkan sebagai keterampilan, tetapi juga diperkenalkan sebagai warisan budaya yang sarat makna—sebuah simbol ketangguhan, kesabaran, sekaligus ekspresi identitas perempuan.
Peringatan Hari Kartini sendiri memiliki tradisi kuat di Indonesia. Di berbagai daerah, perempuan mengenakan busana tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap peran perempuan dalam menjaga nilai budaya sekaligus mendorong kemajuan sosial. Semangat inilah yang turut dihadirkan dalam kegiatan di Hualien, menjadikan batik sebagai medium untuk merayakan warisan sekaligus refleksi atas perjuangan perempuan.
Dalam sesi praktik, peserta diajak menyelami proses membatik secara langsung—mulai dari menggambar motif, mengaplikasikan lilin, hingga pewarnaan kain. Proses ini tidak hanya menghadirkan pengalaman kreatif, tetapi juga membuka pemahaman tentang kompleksitas dan nilai seni di balik selembar kain batik.
Lebih dari sekadar workshop, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi budaya. Peserta diperkenalkan pada sejarah panjang batik Indonesia, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2009. Pengakuan ini menegaskan posisi batik sebagai bagian penting dari identitas bangsa yang memiliki nilai universal.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap perempuan imigran dan pekerja migran di Taiwan. Kontribusi mereka dalam kehidupan sosial dan ekonomi mendapat pengakuan, sekaligus menjadi pengingat bahwa peran perempuan melampaui batas geografis.
Melalui pendekatan yang inklusif, kelas membatik ini tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga membangun jembatan pemahaman antarbudaya. Batik menjadi bahasa universal yang menghubungkan pengalaman, sejarah, dan identitas—menciptakan ruang dialog yang hangat di tengah keberagaman. Pada akhirnya, peringatan Hari Kartini di Taiwan ini menunjukkan bahwa nilai perjuangan perempuan dan pelestarian budaya dapat terus hidup, berkembang, dan menemukan makna baru di berbagai belahan dunia.

