Upaya memperkuat daya saing pelaku usaha kecil terus menjadi fokus utama pemerintah. Melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, transformasi ekosistem kewirausahaan nasional kini diarahkan pada pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Langkah ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya produktif, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
Pelaksana tugas Deputi Bidang Kewirausahaan, Riza Damanik, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar teknologi. Lebih dari itu, Indonesia harus tampil sebagai pelaku utama dalam membangun dan mengembangkan ekosistem AI yang relevan dengan kebutuhan nasional.
Menurutnya, AI memiliki potensi besar untuk memperkuat usaha, memberdayakan pelaku UMKM, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital yang mengusung prinsip AI for Many, yaitu memastikan teknologi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku usaha di wilayah rural dan underserved.
Dalam implementasinya, pemerintah menyoroti dua akselerator penting yang diperkenalkan oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutia Hafidz. Pertama adalah Velocity of Money, yang menekankan percepatan digitalisasi pembayaran guna meningkatkan likuiditas usaha. Kedua adalah Velocity of Data, yaitu pemanfaatan AI untuk analisis data secara real-time guna mendukung pengambilan keputusan dan memperluas akses pembiayaan.
Sebagai bentuk konkret, berbagai program strategis telah diluncurkan. Salah satunya adalah SAPA UMKM, sebuah platform layanan terpadu yang menghubungkan pelaku UMKM dengan akses pembiayaan, pendampingan, hingga peluang pasar global. Program ini menjadi jembatan penting dalam mengatasi kesenjangan teknologi yang masih dihadapi banyak pelaku usaha.
Selain itu, melalui Entrepreneur Hub, pemerintah menghadirkan ruang kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas inovasi. Pendampingan intensif dan penerapan teknologi dalam praktik bisnis sehari-hari menjadi fokus utama program ini.
Tak kalah penting, program Transformasi Finansial juga didorong untuk mengadopsi AI dalam analisis kredit. Inisiatif ini bertujuan memperluas jangkauan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta memperkuat Sistem Informasi Kredit Program agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pelaku usaha.
Kesuksesan transformasi ini tentu tidak dapat dicapai secara parsial. Sinergi lintas sektor menjadi kunci utama. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi terus diperkuat guna menciptakan ruang digital yang aman, produktif, dan mendukung pertumbuhan usaha sesuai roadmap nasional.
Di tingkat regional, Indonesia juga menunjukkan peran aktif melalui partisipasi dalam ASEAN MOVE. Bersama Tsinghua Southeast Asia Center, program ini mendukung kesiapan digital serta praktik berkelanjutan bagi pelaku UMKM dan startup di Asia Tenggara. Dengan berbagai inisiatif tersebut, pemerintah optimistis bahwa adopsi AI akan membawa perubahan signifikan dalam ekosistem kewirausahaan nasional. Transformasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing UMKM, tetapi juga mendukung visi besar Indonesia dalam mencapai kedaulatan pangan serta hilirisasi industri berbasis teknologi tinggi pada periode 2026–2029.

