Sejarah masuk dan perkembangan Islam di Pulau Sumbawa merupakan proses panjang yang berlangsung secara bertahap dan tidak terjadi secara instan. Sebelum Islam datang, masyarakat Sumbawa masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan arkeologis di wilayah Batu Tering, Moyo Hulu, berupa sarkofagus atau peti mati yang diperkirakan berumur antara 30.000 hingga 50.000 tahun. Seiring berjalannya waktu, Islam mulai masuk ke Sumbawa melalui para pedagang dan ulama yang datang dari berbagai wilayah, kemudian perlahan menyatu dengan nilai-nilai budaya lokal masyarakat setempat. Meskipun bibit-bibit Islam telah muncul sejak abad ke-15, seperti yang ditunjukkan di wilayah Gunung Galesa dan beberapa daerah lain seperti Moyo Hulu dan Batu Tering, penyebaran Islam secara masif baru terjadi pada masa berdirinya Kesultanan Sumbawa secara resmi pada tahun 1648. Peran para sultan sangat penting dalam mempercepat proses islamisasi, sebagaimana dijelaskan oleh Syukri Rahmat selaku Ketua Dewan Syara Lembaga Adat Tana Samawa. Dengan dukungan kekuasaan politik, Islam tidak hanya berkembang sebagai agama, tetapi juga mulai mengatur kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Puncak islamisasi di Sumbawa terjadi pada abad ke-18, yang ditandai dengan banyaknya peninggalan sejarah Islam seperti makam para penyiar agama, di antaranya makam Syarif Maulana Ali, Syekh Fakih Ismail, serta Habib Husein Al-Mahdali. Di wilayah Liang Petang, Moyo Hulu, juga terdapat tujuh makam mubalig yang menjadi bukti kuat penyebaran Islam di daerah tersebut. Selain itu, terdapat pula Al-Qur’an kuno tulisan tangan yang disimpan di Istana Bala Kuning sebagai warisan penting sejarah Islam di Sumbawa. Dalam perkembangannya, Islam di Sumbawa tidak hanya dipahami secara syariat formal, tetapi juga memiliki corak sufistik yang kuat. Hal ini terlihat dari kehidupan masyarakat yang menjadikan ajaran Islam sebagai bagian dari tradisi sehari-hari. Berbagai praktik keagamaan dan adat istiadat mencerminkan nilai-nilai Islam yang telah menyatu dengan budaya lokal. Tradisi ini juga dipengaruhi oleh ajaran tarekat, khususnya Tarekat Khalwatiyah, yang disebarkan oleh ulama seperti Syekh Umar Khan Almadani dan Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani, serta berkembang melalui tokoh-tokoh lokal seperti Syekh Idris bin Usman dan Syekh Abdullah Munir.
Salah satu bukti penting perkembangan Islam di Sumbawa dapat dilihat pada Istana Dalam Loka yang dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalaluddin Syah. Istana ini tidak hanya menjadi simbol kejayaan kesultanan, tetapi juga memiliki makna filosofis yang erat dengan ajaran Islam. Jumlah tiang istana yang mencapai 99 melambangkan Asmaul Husna, sementara bentuk atap kembar melambangkan syahadat. Tangga istana yang berjumlah 13 dan 17 juga memiliki makna simbolis terkait rukun salat dan jumlah rakaat salat wajib. Hal ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam diintegrasikan secara mendalam dalam arsitektur dan budaya masyarakat Sumbawa. Selain itu, penyebaran Islam juga didukung oleh para ulama yang memiliki jaringan keilmuan hingga ke Mekkah, seperti Syekh Ibrahim yang pernah belajar di sana dan menjadi mahaguru di Bait Sumbawa. Ia juga menulis kitab Syaraful Anam yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan masyarakat. Tradisi keislaman di Sumbawa juga dipengaruhi oleh berbagai daerah lain seperti Aceh, yang terlihat dari penggunaan rebana dalam budaya lokal.
Hingga saat ini, mayoritas masyarakat Sumbawa memeluk agama Islam, sementara sebagian kecil lainnya menganut agama lain seperti Kristen, Katolik, Hindu, dan Konghucu. Keberagaman ini menunjukkan bahwa Islam berkembang secara damai dan berdampingan dengan kelompok lain. Dalam kehidupan masyarakat Sumbawa, terdapat prinsip adat yang berbunyi “adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko Kitabullah”, yang menegaskan bahwa adat istiadat bersandar pada syariat, dan syariat bersumber pada Al-Qur’an. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Islam di Sumbawa tidak hanya hadir sebagai agama, tetapi juga menjadi bagian dari identitas, budaya, dan kehidupan masyarakat. Proses penyebarannya yang berlangsung secara damai, adaptif, dan bertahap menjadikan Islam sebagai “nafas” bagi masyarakat Sumbawa, yang tidak hanya membentuk kepercayaan, tetapi juga memperkuat persatuan dan jati diri mereka hingga saat ini.
#batik
#batiklopedia
#batikindonesia
#batiknusantara
#pustakamemoriusantara
#pustakapaman
#paman
#sumbawa
#sejarahsumbawa
#kerajaansumbawa
