Tampil anggun dalam balutan busana kuning cerah, Ratu Maxima dari Belanda nyaris luput dari perhatian warga Solo dan Sragen sejak pertama kali menjejakkan kaki di Jawa Tengah. Ia hadir membawa agenda formalnya sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Keuangan Inklusif. Di balik itu, ada satu momen yang justru menarik—sang Ratu mencoba membatik di Kampung Batik Laweyan.
Kunjungan kerja Ratu Maxima dimulai pada Selasa, 21 November 2025. Sesampainya di Bandara Adi Soemarmo, Solo, ia menerima selendang batik sogan dari Wali Kota Solo Respati Ardi. Tak lama, selendang itu ia lilitkan di pinggang saat mengunjungi Pura Mangkunegaran dan berbagai lokasi lain. Penampilannya yang cerah berpadu lembut dengan ragam batik yang dikenakan, menghadirkan perpaduan budaya yang manis antara bangsawan Eropa dan kearifan lokal Jawa.

Menyapa Buruh Pabrik Garmen di Sragen
Sebelum tiba di Solo, Ratu Maxima melakukan kunjungan ke Kabupaten Sragen, tepatnya ke PT Glory Industrial, pabrik garmen dengan ribuan pekerja perempuan. Di antara gemuruh mesin jahit dan aktivitas pekerja, busana kuning cerah sang Ratu tampak kontras namun hangat. Ia berjalan menyapa para buruh tanpa sekat, menanyakan langsung mengenai pengelolaan penghasilan mereka, khususnya setelah penerapan digitalisasi gaji.
Program Reimagining Industries to Support Equality (RISE), yang diterapkan di pabrik tersebut, menjadi salah satu topik dialog yang menarik perhatiannya. Perwakilan perusahaan, Mashuri, menjelaskan bahwa program ini fokus pada kesetaraan gender dan peningkatan kualitas hidup pekerja. Cara Ratu Maxima berinteraksi—serius namun penuh senyum—menunjukkan bahwa inklusi keuangan bukan sekadar istilah teknis, melainkan isu yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.
Langkah yang Membawa Ratu ke Jantung Batik Laweyan
Puncak perjalanan Ratu Maxima di Jawa Tengah justru terjadi di lorong-lorong tua Kampung Batik Laweyan, sebuah kawasan bersejarah yang sejak abad ke-19 dikenal sebagai pusat perdagangan batik. Sore itu, suasana kampung yang biasanya lengang berubah riuh ketika rombongan kerajaan mendekat. Para pembatik yang tengah bekerja menyambut kedatangan sang Ratu dengan senyum canggung namun bangga.
Masih mengenakan busana kuning yang menjadi ciri khas kunjungannya hari itu, Ratu Maxima tampak antusias sejak awal. Ia mengamati proses pembuatan batik, bertanya mengenai ragam motif dan makna filosofisnya, hingga terkesima melihat ketekunan para perempuan pembatik yang menjadikan kain bukan sekadar produk, tetapi karya budaya.
Momen Membatik yang Pecahkan Suasana
Puncak kunjungan terjadi ketika para pembatik menawarkan kesempatan kepada sang Ratu untuk mencoba membatik. Meski jelas tak mudah, Ratu Maxima menerima tantangan itu dengan antusias. Ia duduk di kursi pembatik, memegang canting dengan hati-hati, dan mencoba menorehkan malam panas di atas kain mori.
Suasana yang awalnya tegang mendadak pecah oleh tawa. Gerakan tangan sang Ratu yang kikuk namun sungguh-sungguh membuat para pembatik tertawa, sementara Maxima sendiri ikut tertawa bersama mereka.
“Terima kasih sudah mengajari membatik, tetapi sepertinya saya tidak akan bisa jadi pembatik,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Candaan sederhana itu berhasil mencairkan suasana, menghilangkan jarak antara seorang Ratu dan masyarakat kampung. Pada momen itu, yang hadir bukan sekadar figur bangsawan, melainkan seorang perempuan yang menghormati budaya lain dengan sepenuh hati.
Dialog dari Hati ke Hati dengan Para Pembatik
Di sela aktivitas membatik itu, Ratu Maxima berbincang panjang dengan Eny Zaqiyah, salah satu pembatik yang juga merupakan nasabah layanan keuangan mikro. Eny, yang mengaku “antara senang, grogi, dan bangga,” menceritakan bagaimana akses keuangan membantu dirinya dan para pembatik lain dalam menjaga keberlangsungan usaha. Percakapan itu berlangsung hangat—dan menjadi contoh konkret dari apa yang diperjuangkan Maxima di Indonesia: inklusi keuangan yang menyentuh akar rumput.
Bagi para pembatik, kunjungan ini bukan semata kunjungan protokoler. Kehadiran sang Ratu memberi pengakuan bahwa karya dan kehidupan mereka berarti. Bahwa batik bukan hanya tradisi, tetapi juga sumber ekonomi yang penting bagi ribuan perempuan.
Sentuhan Jawa dalam Jamuan Kerajaan
Setelah selesai di Laweyan, Ratu Maxima menghadiri jamuan makan siang di Pracima Tuin, Pura Mangkunegaran. Di tengah keindahan arsitektur Jawa yang megah, busana modern sang Ratu menciptakan kontras visual yang justru menegaskan keindahan budaya masing-masing. Makan siang ini menjadi jeda elegan sebelum sang Ratu melanjutkan misinya di Indonesia.
Kesan Mendalam dari “Si Baju Kuning”
Kunjungan sehari penuh itu meninggalkan kesan yang kuat bagi warga Solo dan Sragen. Bukan hanya karena status kenegaraannya, tetapi karena persona hangat yang ia tampilkan. Maxima tidak menjaga jarak; ia mendengar, bertanya, dan bahkan tertawa bersama warga. Sikapnya membuat masyarakat merasakan bahwa inklusi keuangan bukan hanya wacana global, melainkan upaya nyata untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Para pekerja, mahasiswa, dan ibu-ibu pembatik… semuanya punya cerita yang menginspirasi,” ujar Ratu Maxima di akhir kunjungannya, sebagaimana dikutip dari Antara.
Antara / AFP

